Kurs Dolar AS Hari Ini 13 Januari 2026 Menguat Rupiah Tembus 16.877

Rabu, 14 Januari 2026 | 09:12:49 WIB
Kurs Dolar AS Hari Ini 13 Januari 2026 Menguat Rupiah Tembus 16.877

JAKARTA - Tekanan eksternal kembali membayangi pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa, 13 Januari 2026. 

Mata uang Garuda harus melemah di hadapan dolar Amerika Serikat yang menunjukkan penguatan di pasar global, seiring sikap investor yang semakin berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset berisiko.

Pada penutupan perdagangan, rupiah tercatat turun 22 poin atau sekitar 0,13 persen ke posisi 16.877 per dolar AS. Posisi ini melemah dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di level 16.855 per dolar AS. Pergerakan tersebut mencerminkan tekanan yang masih cukup kuat terhadap mata uang negara berkembang.

Rupiah melemah seiring dominasi sentimen global

Selain di pasar spot, pelemahan rupiah juga tercermin pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. JISDOR tercatat turun ke level 16.875 per dolar AS dari posisi sebelumnya di 16.853 per dolar AS, menandakan tekanan yang relatif merata di pasar valuta asing domestik.

Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva menuturkan, pelemahan rupiah tidak terlepas dari kondisi global yang mendorong penguatan dolar AS. Investor global cenderung mengambil sikap defensif di tengah ketidakpastian ekonomi dan keuangan internasional.

“Kinerja mata uang rupiah mengalami pelemahan pada perdagangan sore ini diakibatkan oleh faktor global, terutama penguatan dolar AS di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko,” ujar Taufan, seperti dikutip dari Antara, Selasa pekan ini.

Dolar AS diuntungkan sikap wait and see investor

Menurut Taufan, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan dolar AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury yang masih tinggi membuat dolar tetap menarik di mata investor global.

Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar untuk menempatkan dana pada aset yang dinilai lebih aman, termasuk dolar AS. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan oleh arus modal keluar dari pasar emerging market.

Selain faktor kebijakan moneter, peningkatan ketegangan geopolitik global turut memperburuk sentimen risiko. Situasi ini membuat investor cenderung menghindari aset berisiko dan memilih instrumen safe haven, yang pada akhirnya membatasi ruang penguatan rupiah.

Tekanan geopolitik batasi ruang penguatan rupiah

Taufan menjelaskan, kondisi global yang tidak kondusif memperkuat preferensi investor terhadap aset aman. Arus modal yang keluar dari negara berkembang menjadi konsekuensi dari meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dan politik dunia.

“Kondisi ini memperkuat preferensi investor terhadap aset safe haven dan menyebabkan arus modal keluar dari pasar emerging market, yang pada akhirnya membatasi ruang penguatan rupiah meskipun tekanan yang terjadi masih relatif terkendali,” ujarnya.

Meski demikian, pelemahan rupiah dinilai masih dalam batas wajar dan tidak mencerminkan tekanan fundamental yang berlebihan. Pergerakan nilai tukar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek yang berasal dari luar negeri.

Sentimen domestik cenderung netral dan stabil

Dari sisi domestik, sentimen terhadap rupiah disebut relatif netral dengan fundamental ekonomi yang masih terjaga. Indikator makroekonomi dinilai belum menunjukkan tekanan signifikan yang dapat memperburuk nilai tukar secara drastis.

Namun demikian, pelaku pasar memilih bersikap wait and see terhadap langkah lanjutan Bank Indonesia, khususnya dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika global yang masih bergejolak. Sikap ini membuat pergerakan rupiah cenderung fluktuatif.

“Pelaku pasar memilih bersikap wait and see terhadap langkah lanjutan Bank Indonesia serta perkembangan pasar keuangan global, sehingga pergerakan rupiah ke depan diperkirakan masih fluktuatif dan sangat dipengaruhi dinamika eksternal,” kata Taufan.

Pergerakan rupiah sudah melemah sejak pembukaan

Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, rupiah sudah menunjukkan pelemahan. Nilai tukar rupiah dibuka turun 18 poin atau sekitar 0,11 persen ke level 16.873 per dolar AS dari posisi sebelumnya di 16.855 per dolar AS.

Pada perdagangan sehari sebelumnya, rupiah juga ditutup melemah 36 poin atau 0,21 persen menjadi 16.855 per dolar AS dari posisi 16.819 per dolar AS. Tren ini menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah telah berlangsung sejak awal pekan.

“Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh masih kuatnya dolar AS yang ditopang oleh tingginya imbal hasil US Treasury serta sikap investor global yang cenderung berhati-hati,” kata Taufan, dikutip dari Antara.

Prospek rupiah masih bergantung dinamika eksternal

Menurut Taufan, pelemahan rupiah saat ini masih didominasi oleh sentimen global. Meski muncul isu terkait intervensi pemerintah AS terhadap The Fed, pasar menilai isu tersebut belum memberikan dampak nyata terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Investor global masih menunggu sinyal yang lebih jelas terkait waktu dan besaran penurunan suku bunga The Fed. Selama ketidakpastian tersebut belum mereda, dolar AS diperkirakan tetap menjadi aset aman yang diminati pasar.

Dari dalam negeri, rilis data penjualan eceran yang tumbuh 1,5 persen secara bulanan mencerminkan daya beli masyarakat yang relatif terjaga. Namun, sentimen positif ini dinilai belum cukup kuat untuk menahan tekanan eksternal yang masih dominan.

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS, arah kebijakan The Fed, serta perkembangan sentimen risiko global. Langkah stabilisasi otoritas moneter mampu menahan volatilitas, tetapi belum cukup untuk membalikkan arah pelemahan rupiah dalam jangka pendek.

Terkini