Pemerintah Raih Triliunan Rupiah dari Lelang Sukuk Terbaru

Rabu, 14 Januari 2026 | 14:17:07 WIB
Pemerintah Raih Triliunan Rupiah dari Lelang Sukuk Terbaru

JAKARTA - Pemerintah berhasil menyerap dana senilai Rp12 triliun dari lelang delapan seri Surat Berharga Negara Syariah (SBSN) atau sukuk pada Rabu, 13 Januari 2025. 

Lelang ini menunjukkan minat tinggi dari investor, dengan total penawaran yang masuk mencapai Rp55,26 triliun.

Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menyatakan bahwa serapan terbesar berasal dari seri PBS030 (pembukaan kembali) yang memenangkan penawaran senilai Rp4,15 triliun dari total penawaran masuk Rp8,64 triliun. Imbal hasil (yield) rata-rata tertimbang untuk seri ini tercatat 5,15938 persen dengan jatuh tempo 15 Juli 2028.

Langkah ini menegaskan strategi pemerintah dalam mengoptimalkan penerbitan sukuk untuk mendukung pembiayaan anggaran secara berkelanjutan, sekaligus memberikan alternatif investasi yang sesuai prinsip syariah bagi para investor domestik maupun asing.

Rincian Seri Sukuk yang Dimenangkan

Selain PBS030, pemerintah juga menyerap dana sebesar Rp3 triliun dari seri SPNS12102026 (penerbitan baru) dengan penawaran masuk Rp10,08 triliun. Imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan tercatat 4,50000 persen, dengan jatuh tempo 12 Oktober 2026.

Seri PBS040 (pembukaan kembali) menyumbang serapan Rp1,1 triliun dari total penawaran Rp5,93 triliun, dengan yield 5,50835 persen dan jatuh tempo 15 November 2030. 

Sementara itu, masing-masing seri SPNS10022026 dan SPNS13072026 memenangkan nominal Rp1 triliun. Seri SPNS10022026 menerima penawaran Rp6,35 triliun dengan yield 4,30000 persen, dan jatuh tempo 16 Februari 2026. Seri SPNS13072026 mencatat penawaran Rp10,4 triliun dengan yield 4,45000 persen dan jatuh tempo 13 Juli 2026.

Serapan dari PBS038 (pembukaan kembali) tercatat Rp750 miliar dari penawaran Rp5,41 triliun, yield 6,67861 persen, jatuh tempo 15 Desember 2049. Seri PBSG002 (pembukaan kembali) dimenangkan Rp600 miliar dari penawaran Rp4,55 triliun, dengan yield 6,01810 persen dan jatuh tempo 15 Oktober 2033. 

Terakhir, PBS034 (pembukaan kembali) memenangkan penawaran Rp400 miliar dari total masuk Rp3,9 triliun, yield 6,34536 persen, jatuh tempo 15 Juni 2039.

Makna Serapan Sukuk bagi Stabilitas Fiskal

Serapan sukuk pekan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap instrumen syariah pemerintah, sekaligus menegaskan kemampuan pemerintah mengelola pembiayaan anggaran melalui pasar modal. 

Dana yang dihimpun dapat dialokasikan untuk mendukung berbagai proyek pembangunan, membiayai belanja negara, serta menjaga keberlanjutan fiskal.

Keberhasilan lelang ini juga mencerminkan strategi diversifikasi pembiayaan pemerintah. Dengan menerbitkan beberapa seri dengan jatuh tempo dan yield berbeda, pemerintah mampu menjangkau berbagai profil investor, mulai dari yang mencari imbal hasil jangka pendek hingga jangka panjang. Hal ini penting untuk menyeimbangkan likuiditas dan risiko pembiayaan.

Proyeksi Investor dan Tren Sukuk Domestik

Tingginya minat terhadap sukuk menjadi sinyal positif bagi pasar modal syariah Indonesia. Investor domestik maupun luar negeri menilai instrumen ini menarik karena kepastian imbal hasil dan kepatuhan pada prinsip syariah. 

Selain itu, penerbitan sukuk yang rutin menunjukkan komitmen pemerintah menjaga keberlanjutan pasar obligasi syariah, sekaligus membuka peluang pertumbuhan pasar modal secara lebih luas.

Tren ini juga menunjukkan bahwa sukuk menjadi alternatif investasi yang stabil di tengah kondisi pasar global yang bergejolak. Dengan yield yang kompetitif, sukuk menawarkan instrumen jangka menengah hingga panjang bagi investor yang mengutamakan keamanan modal dan kepatuhan syariah.

Ke depan, pemerintah diperkirakan akan terus memanfaatkan pasar SBSN untuk pembiayaan anggaran, sambil menyesuaikan jumlah penawaran dan imbal hasil sesuai kondisi pasar dan kebutuhan fiskal. 

Hal ini sekaligus menjadi sinyal bagi investor bahwa pasar sukuk Indonesia semakin matang dan dapat diandalkan untuk investasi jangka panjang.

Terkini