Purbaya Optimistis Rupiah Kembali Menguat Dalam Dua Minggu

Rabu, 14 Januari 2026 | 14:17:12 WIB
Purbaya Optimistis Rupiah Kembali Menguat Dalam Dua Minggu

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang sempat menyentuh rekor terendah tidak akan berlangsung lama. 

Menurutnya, nilai tukar rupiah diperkirakan akan kembali menguat dalam dua pekan ke depan, seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi domestik dan masuknya modal asing ke Indonesia. Optimisme ini muncul di tengah target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6% pada tahun ini.

Pelemahan Rupiah Menjadi Sorotan Awal Tahun

Sejak awal 2026, rupiah terus melemah dan sempat mencapai level Rp16.878/US$, menandai titik terendah sepanjang sejarah perdagangan pasar spot. 

Nilai tukar ini bahkan melewati pelemahan sebelumnya pada April 2025 yang berada di Rp16.870/US$, serta krisis moneter 1998 yang tercatat di Rp16.650/US$. Tekanan global dan kondisi pasar keuangan menjadi faktor utama di balik depresiasi rupiah.

Bank Indonesia (BI) menilai pergerakan mata uang domestik dipengaruhi eskalasi tensi geopolitik global dan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di negara maju. Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve AS menambah tekanan pada pasar valuta asing, termasuk rupiah. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G Hutapea, menyebutkan rupiah terdepresiasi 1,04% year-to-date hingga 13 Januari 2026.

Optimisme Purbaya Tentang Penguatan Rupiah

Meskipun menghadapi tekanan global, Purbaya optimistis bahwa rupiah akan kembali menguat dalam dua minggu ke depan. Ia menyebut, perbaikan ekonomi domestik akan menarik masuknya modal asing. "Kalau ekonominya membaik terus, rupiah kan menguat hampir otomatis. Modal asing akan masuk ke negara yang menjanjikan pertumbuhan lebih tinggi," ujarnya di Jakarta.

Purbaya juga menyoroti perilaku pengusaha Indonesia yang kerap menempatkan dana di luar negeri. Ia memprediksi arus modal tersebut akan kembali ke dalam negeri karena peluang bisnis di tanah air lebih menjanjikan. "Orang Indonesia yang naruh uang di luar negeri akan balik. Mereka akan berbisnis di sini, karena tidak terbiasa bersaing di luar," tambahnya.

Peran Sentimen Global dan Lokal

Tekanan pada rupiah bukan hanya dari dalam negeri. BI menyebut eskalasi tensi geopolitik, ketidakpastian kebijakan moneter AS, dan kebutuhan valas domestik yang meningkat menjadi faktor utama pelemahan. Pergerakan pasar global di awal 2026 mendorong rupiah menutup perdagangan pada level Rp16.860 per dolar AS pada 13 Januari, menandai tren depresiasi sejak pergantian tahun baru.

Meskipun begitu, rupiah sempat menunjukkan penguatan terbatas pada pembukaan pasar spot Rabu (14/1/2026), naik 0,13% ke Rp16.843/US$. Namun, penguatan ini hanya bersifat sementara karena kemudian kembali melemah 0,01% ke Rp16.867/US$. Kondisi ini menunjukkan volatilitas tinggi yang tetap mewarnai pasar valuta asing domestik.

Strategi Pemerintah Mendukung Rupiah

Purbaya menegaskan bahwa penguatan rupiah akan ditopang oleh langkah-langkah pemerintah untuk mendongkrak ekonomi domestik. Perbaikan ekonomi diharapkan mendorong masuknya investasi asing dan memperkuat likuiditas pasar valuta. Kebijakan fiskal dan program pembangunan di berbagai sektor menjadi kunci agar optimisme terhadap rupiah bisa tercapai.

Selain itu, sentimen positif dari dalam negeri, termasuk kembali berbisnisnya pengusaha Indonesia, akan menjadi katalis tambahan. Arus modal dari luar negeri dan peningkatan aktivitas ekonomi diyakini akan meningkatkan permintaan rupiah, sehingga memperbaiki nilai tukarnya terhadap dolar AS.

Prediksi dan Harapan Pasar

Dengan kombinasi perbaikan ekonomi domestik dan masuknya modal asing, Purbaya memperkirakan rupiah akan kembali berada pada level yang lebih kuat dalam dua minggu mendatang. Ia menekankan pentingnya stabilitas ekonomi untuk menarik kepercayaan pasar. "Dua minggu ini rupiah akan menguat, selama ekonominya membaik dan modal asing masuk," tegasnya.

Bank Indonesia pun tetap memantau perkembangan secara cermat, termasuk pengaruh geopolitik dan volatilitas pasar global. Pemerintah dan BI sepakat bahwa langkah koordinasi dan penguatan sentimen domestik menjadi kunci agar rupiah kembali stabil dan mendukung pertumbuhan ekonomi 6% pada 2026.

Dampak Pelemahan Rupiah Bagi Ekonomi

Depresiasi rupiah mempengaruhi berbagai sektor, mulai dari impor barang modal hingga harga bahan baku. Penguatan yang diprediksi Purbaya diharapkan bisa menahan kenaikan biaya impor, menjaga daya beli masyarakat, dan memberikan kepastian bagi pengusaha serta investor asing.

Selain itu, penguatan rupiah juga akan berdampak pada kepercayaan investor. Kembalinya arus modal ke dalam negeri diyakini akan mendukung ekspansi usaha, penciptaan lapangan kerja, dan stabilitas keuangan nasional. Pemerintah memandang hal ini sebagai peluang untuk memacu pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Meski awal tahun 2026 rupiah sempat melemah hingga rekor terendah, optimisme pemerintah melalui pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan harapan penguatan dalam dua pekan ke depan. Faktor perbaikan ekonomi domestik, masuknya modal asing, dan meningkatnya aktivitas pengusaha dalam negeri menjadi pendorong utama. 

Koordinasi dengan Bank Indonesia serta perhatian terhadap sentimen global diyakini akan menjaga stabilitas nilai tukar, mendukung target pertumbuhan ekonomi 6%, dan memperkuat kepercayaan pasar di tengah volatilitas awal tahun

Terkini