Merger BUMN Infrastruktur Tak Dilakukan Tergesa, Danantara Tegaskan Tahapan Ketat dan Sistematis

Kamis, 05 Februari 2026 | 10:10:55 WIB
Merger BUMN Infrastruktur Tak Dilakukan Tergesa, Danantara Tegaskan Tahapan Ketat dan Sistematis

JAKARTA - Proses konsolidasi BUMN karya atau sektor infrastruktur menjadi perhatian publik karena menyangkut masa depan sejumlah perusahaan pelat merah strategis. Namun, langkah tersebut ditegaskan tidak akan dijalankan secara terburu-buru, melainkan melalui tahapan panjang yang terukur dan sistematis agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.

Hal ini disampaikan COO Danantara Indonesia Dony Oskaria yang menekankan bahwa merger baru akan dilakukan setelah kondisi keuangan dan operasional masing-masing perusahaan benar-benar siap. Menurutnya, konsolidasi bukan sekadar penggabungan struktur bisnis, tetapi merupakan tahap lanjutan dari proses penyehatan menyeluruh yang sudah berlangsung sejak sebelumnya.

Dony menjelaskan bahwa Danantara Indonesia menempatkan transparansi dan kesehatan perusahaan sebagai fondasi utama sebelum masuk ke fase konsolidasi. Oleh karena itu, fokus awal yang dilakukan adalah pembetulan laporan keuangan agar mencerminkan kondisi riil masing-masing entitas.

“Ini kemarin kita sudah lakukan proses pembetulan buku-bukunya,” ujar Dony usai rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR, Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tahapan awal sudah berjalan dan menjadi pijakan penting sebelum melangkah ke fase berikutnya.

Langkah ini dinilai penting agar proses merger nantinya tidak sekadar menyatukan perusahaan yang masih memiliki persoalan fundamental. Dengan fondasi keuangan yang lebih sehat, konsolidasi diharapkan mampu memperkuat kinerja dan daya saing BUMN karya dalam jangka panjang.

Tahapan Awal Fokus pada Pembersihan Laporan Keuangan

Menurut Dony, tahap awal difokuskan pada pembersihan laporan keuangan dan pengakuan penurunan nilai aset agar kondisi perusahaan menjadi lebih transparan. Proses ini dilakukan untuk memastikan bahwa neraca dan laporan laba rugi mencerminkan keadaan yang sesungguhnya tanpa menutupi risiko yang ada.

Langkah tersebut mencakup pengakuan impairment atau penurunan nilai aset yang sebelumnya belum sepenuhnya dicatat secara akurat. Dengan demikian, kondisi keuangan perusahaan dapat dinilai secara lebih objektif sebelum dilakukan langkah strategis berikutnya.

“Kita sudah lakukan impairment, setelah impairment kita lakukan restrukturisasi perusahaannya,” lanjut Kepala BP BUMN tersebut. Pernyataan ini menegaskan bahwa pembersihan laporan keuangan bukanlah akhir, melainkan pintu masuk menuju penataan ulang struktur perusahaan.

Restrukturisasi yang dimaksud tidak hanya menyentuh aspek keuangan, tetapi juga mencakup perbaikan tata kelola dan efisiensi operasional. Tujuannya adalah menciptakan perusahaan yang lebih ramping, adaptif, dan siap menghadapi tantangan pasar.

Dony menilai bahwa tanpa tahapan ini, proses merger justru berpotensi membawa masalah lama ke dalam entitas baru. Oleh karena itu, Danantara memastikan bahwa setiap BUMN karya yang akan dikonsolidasikan telah melalui proses penyehatan yang menyeluruh.

Ia juga menegaskan bahwa pendekatan ini selaras dengan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan aset negara. Dengan demikian, konsolidasi tidak hanya mengejar skala besar, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan bisnis.

Dalam konteks ini, Danantara tidak ingin mengulang kesalahan masa lalu yang kerap menggabungkan perusahaan tanpa menyelesaikan persoalan mendasar terlebih dahulu. Langkah sistematis ini diharapkan menjadi model baru dalam transformasi BUMN ke depan.

Restrukturisasi dan Penurunan Beban Utang Jadi Prioritas

Selain pembersihan laporan keuangan, restrukturisasi perusahaan menjadi tahapan penting sebelum masuk ke fase konsolidasi. Restrukturisasi ini mencakup penataan ulang model bisnis agar lebih relevan dengan kebutuhan pasar dan tantangan industri.

Dony menjelaskan bahwa salah satu fokus utama restrukturisasi adalah penurunan beban utang. Menurutnya, struktur pembiayaan yang terlalu berat akan menghambat kinerja perusahaan dan membatasi ruang gerak untuk ekspansi di masa depan.

Ia menilai bahwa upaya menurunkan utang merupakan langkah krusial agar perusahaan menjadi lebih sehat dan berkelanjutan. Dengan kondisi keuangan yang lebih stabil, BUMN karya diharapkan mampu menjalankan proyek-proyek strategis tanpa tekanan finansial berlebihan.

“Termasuk penurunan utang-utangnya, setelah itu baru masuk ke fase berikutnya, yaitu fase untuk melakukan konsolidasi bisnisnya melalui merger,” sambungnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa restrukturisasi menjadi jembatan menuju konsolidasi yang lebih matang.

Langkah ini juga dinilai penting agar merger tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar menciptakan nilai tambah bagi perusahaan dan negara. Dengan fondasi yang lebih kuat, entitas hasil konsolidasi diharapkan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

Dony menambahkan bahwa restrukturisasi tidak hanya dilakukan pada satu atau dua perusahaan, tetapi mencakup seluruh BUMN karya yang masuk dalam rencana konsolidasi. Pendekatan ini dilakukan agar tidak ada entitas yang tertinggal dalam proses penyehatan.

Selain itu, restrukturisasi juga diarahkan untuk memperbaiki efisiensi operasional dan meningkatkan produktivitas. Dengan struktur organisasi yang lebih sederhana dan proses bisnis yang lebih efektif, perusahaan diharapkan mampu memberikan kontribusi optimal bagi pembangunan nasional.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan restrukturisasi menjadi prasyarat mutlak sebelum merger dapat dilakukan. Tanpa fondasi yang kuat, konsolidasi justru berisiko menimbulkan persoalan baru yang lebih kompleks.

Target Penyelesaian dan Waktu Pelaksanaan Merger

Dony mengatakan bahwa Danantara menargetkan seluruh rangkaian proses penyehatan dan restrukturisasi dapat rampung pada tahun ini. Dengan demikian, peluang pelaksanaan merger diperkirakan terbuka pada semester kedua.

Ia menyebut jadwal tersebut realistis mengingat tahapan pembersihan dan penyehatan telah berjalan sepanjang tahun lalu. Progres yang telah dicapai menjadi dasar optimisme bahwa konsolidasi dapat dilakukan sesuai rencana tanpa mengorbankan kualitas proses.

“Kita harapkan tahun ini harus selesai, jadi kemungkinan besar nanti akan kita lakukan pada semester II,” kata Dony. Pernyataan ini memberikan gambaran waktu yang lebih jelas terkait agenda konsolidasi BUMN karya ke depan.

Meski demikian, Dony menegaskan bahwa target waktu tersebut tetap bersifat fleksibel dan bergantung pada kesiapan masing-masing perusahaan. Jika terdapat entitas yang belum memenuhi standar kesehatan keuangan dan operasional, maka proses merger dapat ditunda demi menjaga kualitas hasil akhir.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa Danantara lebih mengutamakan kualitas proses dibandingkan kecepatan pelaksanaan. Menurut Dony, konsolidasi yang dilakukan secara tergesa-gesa justru berisiko mengganggu stabilitas bisnis dan kinerja perusahaan dalam jangka panjang.

Ia juga menekankan bahwa tujuan utama konsolidasi adalah menciptakan BUMN karya yang lebih kuat, efisien, dan berdaya saing. Oleh karena itu, setiap tahapan harus dijalankan dengan disiplin dan kehati-hatian tinggi.

Dengan struktur perusahaan yang lebih sehat, Danantara berharap entitas hasil merger dapat menjadi motor penggerak pembangunan infrastruktur nasional. Selain itu, perusahaan juga diharapkan mampu memberikan kontribusi optimal terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Dony menambahkan bahwa proses konsolidasi ini sejalan dengan agenda besar pemerintah dalam memperkuat BUMN sebagai pilar ekonomi nasional. Dengan pengelolaan yang lebih profesional dan transparan, BUMN diharapkan mampu menjadi contoh praktik bisnis yang baik di tingkat regional maupun global.

Ia juga menilai bahwa keberhasilan konsolidasi akan memberikan sinyal positif kepada pasar dan investor. Dengan fondasi keuangan yang lebih kuat, BUMN karya diharapkan mampu menarik minat investasi dan memperluas peluang kerja sama strategis.

Ke depan, Danantara berkomitmen untuk terus menjaga komunikasi terbuka dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, DPR, dan publik. Transparansi ini dinilai penting untuk membangun kepercayaan terhadap proses transformasi yang tengah berjalan.

Dony menegaskan bahwa setiap kebijakan yang diambil akan mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap keberlanjutan perusahaan dan kepentingan negara. Dengan pendekatan yang hati-hati dan terukur, konsolidasi BUMN karya diharapkan mampu menghasilkan manfaat maksimal bagi seluruh pihak.

Dalam konteks ini, Danantara tidak hanya melihat merger sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai bagian dari proses panjang reformasi struktural BUMN. Reformasi ini diharapkan mampu menciptakan perusahaan negara yang lebih adaptif, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan global.

Dengan demikian, konsolidasi yang dilakukan bukan sekadar penggabungan administratif, tetapi transformasi menyeluruh yang menyentuh aspek keuangan, operasional, dan tata kelola. Langkah ini diharapkan mampu membawa BUMN karya menuju fase pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan.

Dony menutup dengan menegaskan bahwa keberhasilan konsolidasi akan sangat bergantung pada disiplin dalam menjalankan setiap tahapan. Oleh karena itu, Danantara akan terus memastikan bahwa seluruh proses berjalan sesuai prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik.

Terkini