ICPI Dorong Strategi Antisipatif Hadapi Gangguan Transportasi Massal Demi Sektor Pariwisata

Selasa, 10 Februari 2026 | 10:42:32 WIB
ICPI Dorong Strategi Antisipatif Hadapi Gangguan Transportasi Massal Demi Sektor Pariwisata

JAKARTA - Sektor pariwisata Indonesia kini berada di titik krusial di mana kelancaran sistem transportasi massal menjadi urat nadi utamanya.

Menghadapi dinamika iklim yang tidak menentu serta berbagai potensi krisis di masa depan, Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) menekankan urgensi penerapan langkah-langkah proaktif. Hal ini dilakukan guna menjaga stabilitas operasional industri pariwisata agar tetap resilien saat terjadi gangguan transportasi yang tidak terduga.

Dalam pandangan para pakar, gangguan pada moda transportasi massal bukan sekadar masalah teknis logistik, melainkan ancaman nyata bagi kepuasan dan kepercayaan wisatawan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah strategi yang mampu memitigasi risiko secara cepat dan tepat sebelum dampak kerugian meluas ke berbagai lini bisnis pendukung pariwisata lainnya.

Urgensi Manajemen Risiko Menghadapi Kondisi Luar Biasa

Ketua Umum ICPI, Azril Azhari, menegaskan bahwa sektor pariwisata harus memiliki kesiapsiagaan tinggi terhadap kondisi force majeure atau kejadian luar biasa. Strategi antisipatif dinilai menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak buruk dari gangguan transportasi yang sering kali muncul tanpa peringatan. Langkah ini bertujuan untuk melindungi seluruh ekosistem pariwisata, mulai dari pengelola akomodasi, penyedia paket tur, hingga destinasi wisata itu sendiri.

Azril menyampaikan bahwa pelaku industri pariwisata dan pemerintah perlu menyiapkan manajemen risiko khusus menghadapi kejadian di luar perkiraan tersebut. Dengan adanya protokol yang jelas, setiap krisis transportasi dapat ditangani dengan respons yang lebih terkoordinasi, sehingga citra pariwisata Indonesia di mata dunia tetap terjaga meskipun berada di tengah situasi sulit.

Kebijakan Kompensasi Sebagai Solusi Menjaga Kepercayaan Wisatawan

Salah satu instrumen penting dalam strategi antisipatif ini adalah penerapan kebijakan kompensasi yang adil dan fleksibel. Menurut Azril, dampak finansial dan kekecewaan pengunjung akibat pembatalan atau keterlambatan tiba di lokasi tujuan dapat diredam melalui kerja sama yang baik dengan pihak akomodasi. Kepercayaan konsumen adalah aset yang sangat mahal dalam industri jasa, sehingga perlindungan terhadap agenda perjalanan wisatawan menjadi prioritas.

“Dampak gangguan bisa ditekan jika pihak akomodasi memberikan kompensasi kepada pengunjung atas pembatalan atau keterlambatan tiba di fasilitas yang sudah dipesan. Misalnya tetap berlaku atau hanya dipotong sebagian,” ujar Azril kepada ANTARA. Pendekatan humanis seperti ini diharapkan dapat mengurangi beban kerugian wisatawan sekaligus menunjukkan keberpihakan industri terhadap hak-hak konsumen.

Kolaborasi Strategis dan Transparansi Informasi Publik

Implementasi strategi antisipatif tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya koordinasi yang kuat antarpihak terkait. ICPI menyerukan pentingnya berbagi informasi secara real-time antara otoritas transportasi, pengelola bandara atau stasiun, dan pelaku usaha pariwisata. Keterbukaan data mengenai operasional transportasi sangat krusial agar wisatawan dapat mengambil keputusan yang tepat di tengah situasi gangguan.

Selain itu, masyarakat dan media diingatkan untuk selalu merujuk pada data resmi guna menghindari penyebaran informasi yang tidak akurat atau spekulatif. Penggunaan saluran komunikasi resmi seperti call center otoritas terkait menjadi sangat penting untuk memastikan setiap informasi yang diterima oleh calon pelancong telah tervalidasi dengan benar.

Membangun Resiliensi Pariwisata Melalui Protokol Darurat Terintegrasi

Menghadapi tahun 2026 yang penuh dengan tantangan energi dan perubahan iklim, penyusunan protokol darurat yang terintegrasi menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi. ICPI melihat bahwa keberlangsungan industri pariwisata sangat bergantung pada seberapa cepat sektor ini beradaptasi dengan gangguan pada sistem transportasi. Fokusnya bukan lagi sekadar menangani masalah saat terjadi, melainkan bagaimana menciptakan sistem yang mampu "membalas" krisis dengan solusi yang sudah disiapkan sebelumnya.

Langkah-langkah mitigasi ini dianggap krusial agar wisatawan tetap memiliki pengalaman positif meski menghadapi hambatan perjalanan. Dengan penguatan manajemen risiko dan strategi antisipatif yang matang, Indonesia diharapkan mampu memperkuat daya saing sektor pariwisatanya sebagai destinasi yang aman, andal, dan bertanggung jawab bagi pelancong domestik maupun mancanegara.

Terkini