JAKARTA - Industri logam dasar Indonesia menunjukkan pertumbuhan luar biasa sepanjang 2025, namun belum seluruh segmen merasakan lonjakan kinerja yang sama. Sub sektor besi dan baja masih menghadapi tantangan signifikan meski prospek perbaikan terbuka pada tahun ini.
BPS mencatat industri logam dasar mencetak pertumbuhan 15,71%, tertinggi di antara sub sektor manufaktur lainnya. Lonjakan ini didorong oleh tingginya permintaan ekspor, terutama untuk besi, baja, dan logam mulia.
Pertumbuhan Industri Logam Dasar dan Faktor Pendorongnya
Kemenperin memproyeksikan industri logam dasar akan kembali tumbuh sebesar 14% pada 2026. Sub sektor ini diprediksi tetap menjadi satu-satunya manufaktur dengan pertumbuhan dobel digit tahun ini.
Direktur Eksekutif IISIA Harry Warganegara menjelaskan pertumbuhan terutama berasal dari produksi dan ekspor bahan baku serta produk setengah jadi. Produk seperti ferronikel, stainless steel, dan semi finished steel menjadi motor penggerak utama kinerja industri logam dasar.
Meskipun pertumbuhan tinggi terlihat secara keseluruhan, Harry menekankan bahwa lonjakan kinerja belum merata di seluruh lini industri. Beberapa segmen, khususnya industri besi dan baja, masih menghadapi tekanan dari pasar domestik dan impor murah.
Tekanan pada Segmen Baja Karbon dan Peran Pemerintah
Corporate Secretary Krakatau Steel Fedaus menyoroti bahwa kenaikan signifikan lebih banyak terjadi di industri pengolahan nikel menjadi stainless steel. Sementara itu, segmen baja karbon masih menghadapi persaingan ketat dari produk impor dengan harga rendah.
Lebih dari 90% pasar baja karbon mengandalkan konsumsi domestik, sehingga keberadaan barang impor murah menjadi ancaman serius bagi industri lokal. Fedaus menekankan peran pemerintah sangat penting untuk melindungi industri dalam negeri dari persaingan tidak sehat.
Johanes W. Edward dari Spindo menambahkan bahwa kinerja industri baja secara umum belum menunjukkan lonjakan signifikan. Ia menyebut belum ada permintaan yang melonjak drastis maupun ekspor yang naik mendadak.
Optimisme Industri Menyongsong Tahun 2026
Meski demikian, Krakatau Steel dan Spindo tetap optimistis menghadapi 2026. Mereka melihat peluang dari proyek-proyek pemerintah, seperti program pembangunan 3 juta unit rumah dan proyek Koperasi Merah Putih, yang dapat meningkatkan kebutuhan baja dalam negeri.
Selain konstruksi, sektor pertahanan dan maritim juga menawarkan prospek peningkatan permintaan baja, termasuk pembuatan kapal. Spindo pun akan menyelesaikan ekspansi Unit 7 untuk memperluas jangkauan produk dan meningkatkan efisiensi operasional.
Utilisasi Pabrik dan Tantangan Konsumsi Domestik
Data IISIA menunjukkan tingkat utilisasi pabrik baja nasional masih rendah, sekitar 52%. Faktor penyebabnya antara lain konsumsi domestik yang belum pulih, tekanan impor, dan lemahnya sektor konstruksi di dalam negeri.
Harry menekankan bahwa keberlanjutan kinerja industri besi dan baja tidak hanya bergantung pada ekspansi bahan baku dan produk setengah jadi. Penguatan industri baja bernilai tambah di dalam negeri menjadi kunci agar pertumbuhan lebih merata dan berkelanjutan.
Pengendalian Impor dan Kebijakan Pendukung Industri
Efektivitas pengendalian impor dan konsistensi penerapan SNI wajib menjadi faktor penting bagi prospek industri besi dan baja. Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) juga dinilai krusial untuk menopang pertumbuhan sub sektor logam dasar.
Harry menyoroti perlunya dukungan kebijakan harga energi, termasuk Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), untuk meningkatkan daya saing industri. Dukungan ini diharapkan membuat pertumbuhan industri logam dasar tidak hanya tinggi tetapi juga merata di seluruh segmen.
Prospek Tahun 2026
IISIA memandang industri besi dan baja nasional berpotensi menjadi tulang punggung pertumbuhan logam dasar pada 2026. Dengan pengendalian impor, dukungan pemerintah, dan program P3DN, pertumbuhan tinggi bisa tercapai dan memberi dampak positif bagi seluruh sub sektor industri.
Prospek optimis ini juga didukung oleh peluang dari proyek pemerintah dan permintaan ekspor yang stabil. Jika strategi penguatan industri, kebijakan proteksi, dan efisiensi operasional dijalankan, industri logam dasar Indonesia diprediksi kembali mencatat pertumbuhan dobel digit tahun ini.