Harga Batu Bara Menguat Tipis, China Lesu, India Alihkan Impor Kokas ke Amerika Serikat

Selasa, 10 Februari 2026 | 13:58:56 WIB
Harga Batu Bara Menguat Tipis, China Lesu, India Alihkan Impor Kokas ke Amerika Serikat

JAKARTA - Pergerakan harga batu bara kembali menarik perhatian pasar global di awal pekan ini. Di tengah permintaan yang belum sepenuhnya pulih usai libur panjang di sejumlah negara, harga komoditas energi tersebut justru mencatat penguatan tipis.

Harga batu bara menanjak pada perdagangan Senin. Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$117,5 per ton atau menguat 0,21% pada Senin, 9 Februari 2026.

Penguatan ini menjadi kabar baik setelah harga batu bara melandai 0,3% pada Jumat pekan lalu. Pergerakan ini memberi sinyal bahwa pasar mulai menemukan titik keseimbangan baru setelah tekanan yang terjadi sebelumnya.

Kenaikan tipis tersebut juga mencerminkan adanya sentimen positif dari sisi pasokan global. Para pelaku pasar menilai kondisi stok dan distribusi masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga.

Permintaan China Masih Lemah, Stok Pelabuhan Jadi Penopang Harga

Dari China dilaporkan harga batu bara termal di pelabuhan utara China naik moderat meskipun permintaan dari pembeli masih lesu akibat liburan Tahun Baru Imlek. Kondisi ini membuat aktivitas transaksi belum sepenuhnya pulih seperti sebelum masa liburan.

Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi pasokan yang tetap ketat setelah liburan karena stok di pelabuhan menurun dan importir serta penjual mengantisipasi potensi kekurangan. Penurunan stok tersebut memberi ruang bagi penjual untuk mempertahankan bahkan menaikkan harga secara terbatas.

Permintaan titik akhir seperti pembangkit listrik dan sektor industri masih relatif lemah atau belum pulih sepenuhnya setelah liburan panjang. Situasi ini menyebabkan banyak pelaku pasar memilih untuk bersikap menunggu sebelum melakukan pembelian dalam jumlah besar.

Aktivitas transaksi masih terbatas, dengan pembeli cenderung hati-hati menunggu konfirmasi harga atau sinyal pasar yang lebih jelas. Sikap wait-and-see ini membuat lonjakan harga belum terjadi meskipun pasokan cenderung mengetat.

Salah satu penopang kenaikan adalah penurunan stok batu bara di pelabuhan. Ekspektasi ketatnya pasokan impor dan domestik juga mendorong penjual untuk mempertahankan atau sedikit menaikkan harga.

Namun, kondisi pasar belum sepenuhnya solid karena permintaan dari sektor industri belum menunjukkan pemulihan signifikan. Hal ini membuat kenaikan harga masih bersifat terbatas dan bergerak secara moderat.

Pasar menilai keseimbangan antara permintaan dan pasokan masih rapuh dalam jangka pendek. Ketidakpastian ini membuat volatilitas harga berpotensi kembali muncul jika terjadi perubahan signifikan di sisi permintaan.

Para pelaku industri juga mencermati perkembangan ekonomi China pasca-libur panjang. Pemulihan aktivitas industri di negara tersebut akan sangat menentukan arah harga batu bara dalam waktu dekat.

Pasar Batu Bara Kokas Lesu, Transaksi Hilir Tertekan

Jika permintaan batu bara kokas naik tipis tidak demikian dengan kokas. Pasar batu bara kokas memulai minggu ini dengan gambaran yang sangat suram.

Sentimen perdagangan tetap lesu sehingga harga melemah. Kondisi ini mencerminkan lemahnya minat beli dari sektor hilir yang menjadi pengguna utama batu bara kokas.

Aktivitas pembelian di hilir seperti pabrik baja, pabrik kokas, dan pengguna industri menurun signifikan karena banyak pembeli menghentikan operasi atau menahan pembelian saat liburan panjang. Hal ini berdampak langsung pada turunnya permintaan terhadap batu bara kokas.

Di sisi pasokan, banyak kegiatan produksi berkurang atau tertunda menjelang atau selama liburan, sehingga pasokan batu bara kokas tidak aktif kembali secara normal. Ini berarti volume perdagangan yang aktif turun di pasar spot.

Dengan permintaan dan pasokan yang sama-sama melambat, dukungan harga melemah. Saat ini, kalangan pelaku pasar cenderung bersikap wait-and-see, menunggu liburan selesai dan sinyal permintaan maupun pasokan lebih jelas sebelum melakukan aksi pembelian atau penjualan besar-besaran.

Kondisi pasar yang stagnan ini membuat pergerakan harga batu bara kokas tertahan di level rendah. Pelaku industri masih berhati-hati karena belum ada indikator kuat yang menunjukkan pemulihan konsumsi.

Ketidakpastian ini juga dipengaruhi oleh kondisi sektor baja global yang belum sepenuhnya stabil. Permintaan baja yang belum pulih optimal membuat kebutuhan terhadap bahan baku seperti batu bara kokas ikut tertahan.

Meski demikian, sejumlah analis menilai situasi ini bersifat sementara. Pemulihan aktivitas industri pasca-libur panjang diperkirakan dapat mendorong permintaan secara bertahap.

Pelaku pasar kini menunggu sinyal dari sektor manufaktur dan konstruksi sebagai indikator utama. Jika sektor tersebut mulai menunjukkan peningkatan aktivitas, maka permintaan batu bara kokas berpotensi ikut terdorong.

India Ganti Haluan Impor Batu Bara Kokas dari Australia ke Amerika Serikat

Impor batu bara kokas India dengan cepat bergeser ke Amerika Serikat, menjauh dari Australia yang selama ini menjadi pemasok terbesar. Pergeseran ini telah berlangsung jauh sebelum pengumuman terbaru mengenai kerangka perdagangan India-AS.

Perubahan tersebut menegaskan adanya pergeseran struktural dalam strategi pengadaan energi India. Negara tersebut tampak semakin serius mendiversifikasi sumber pasokan bahan baku industrinya.

Analisis Business Standard terhadap data terbaru Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa meskipun Australia masih menjadi pemasok tunggal terbesar, dominasinya melemah tajam. Pangsa Australia dalam impor batu bara kokas India turun menjadi 43% pada Full Year 2025 dari 69% pada Full Year 2020 secara volume.

Australia mengekspor 35,92 juta ton batu bara kokas pada FY20, yang turun menjadi 24,54 juta ton pada FY25. Penurunan ini mencerminkan perubahan preferensi pasar India terhadap sumber pasokan yang lebih beragam.

Dalam periode yang sama, Amerika Serikat muncul sebagai pemasok utama, dengan pangsa naik dari 7,3% menjadi lebih dari 15% pada FY25. Kenaikan ini seiring pengiriman AS ke India yang berlipat ganda dalam lima tahun terakhir.

AS mengekspor 3,77 juta ton batu bara kokas pada FY20, yang meningkat menjadi 8,47 juta ton pada FY25. Pada periode yang sama, pangsa Rusia juga meningkat menjadi 7,75 juta ton dari sebelumnya 1,1 juta ton.

Pergeseran ini terjadi di tengah ketergantungan India yang berkelanjutan pada impor batu bara kokas. India diperkirakan memiliki 37 miliar ton sumber daya batu bara kokas, terutama di Jharkhand, dengan cadangan tambahan di Madhya Pradesh, Benggala Barat, dan Chhattisgarh.

Namun, sekitar 95% kebutuhan batu bara kokas sektor baja masih dipenuhi melalui impor. Angka ini meningkat menjadi 57,07 juta ton pada FY25 dari 51,83 juta ton pada FY20.

Niat terbaru India untuk membeli batu bara kokas dari AS di bawah kerangka perdagangan bilateral yang diusulkan muncul seiring strategi diversifikasi ini yang telah berjalan cukup lama. Pemerintah India tampaknya ingin memperluas jangkauan sumber pasokan demi mengurangi risiko ketergantungan.

Pernyataan bersama India-AS yang dirilis pada Sabtu menyebutkan bahwa India berniat membeli produk AS senilai US$500 miliar selama lima tahun. Produk tersebut mencakup energi, logam mulia, dan batu bara kokas.

Perubahan sumber pasokan ini semakin cepat meskipun pemerintah berupaya mengurangi kerentanan terhadap impor batu bara kokas. Kementerian Batu Bara bulan lalu menetapkan batu bara kokas sebagai mineral kritis, yang menandakan perlunya meningkatkan produksi domestik dan mengamankan pasokan.

Para analis menyebut diversifikasi ini mencerminkan upaya sadar pembeli India untuk mengurangi risiko akibat konsentrasi pasokan. Strategi tersebut dianggap penting dalam menjaga stabilitas biaya dan keberlanjutan industri baja nasional.

"Pergeseran ini mencerminkan strategi diversifikasi yang disengaja untuk mengurangi paparan terhadap gangguan pasokan dan volatilitas harga yang terkait dengan ekspor batu bara kokas Australia," ujar Rajib Maitra, Partner dan Pemimpin Sektor di Deloitte South Asia.

Ketergantungan pada satu wilayah geografis membuat produsen baja rentan terhadap guncangan pasokan akibat siklon, gangguan tambang, dan periode pasar yang ketat. Kondisi tersebut secara langsung memengaruhi biaya mendarat atau landed cost bahan baku.

Amit Bhargava, National Leader Metals and Mining KPMG India, mengatakan fokus pengamanan batu bara kokas sangat penting mengingat arah pengembangan industri baja India. Menurutnya, ekspansi kapasitas baja India berskala sangat besar secara global.

"Ekspansi kapasitas baja India berskala sangat besar secara global. Jalur tanur tinggi (blast furnace), yang merupakan jalur dominan, juga akan berperan signifikan dalam ekspansi tersebut, sehingga membuat batu bara kokas menjadi krusial," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kerangka perjanjian perdagangan sementara India-AS menunjukkan niat untuk memperluas wilayah sumber pasokan. Langkah ini dinilai dapat memperkuat posisi India dalam menghadapi dinamika pasar global.

"AS sejak lama memiliki potensi untuk memasok batu bara kokas, dan kerangka ini menciptakan niat yang lebih jelas untuk mengembangkan pasokan tersebut. Ini akan membantu proses pencampuran (blending) dan optimalisasi biaya secara keseluruhan bagi pelaku industri India," katanya.

Terkini