Insentif Motor Listrik 2026 Dihapus, Honda Siapkan Strategi Baru Gaet Konsumen Indonesia

Jumat, 13 Februari 2026 | 15:35:41 WIB
Insentif Motor Listrik 2026 Dihapus, Honda Siapkan Strategi Baru Gaet Konsumen Indonesia

JAKARTA - Kebijakan pemerintah terkait kendaraan listrik kembali menjadi sorotan menjelang 2026. Kali ini, keputusan untuk tidak melanjutkan insentif motor listrik memunculkan tantangan baru bagi para produsen di Tanah Air.

Produsen motor listrik menerima kenyataan pahit. Pemerintah memutuskan tidak akan memberikan insentif pada 2026.

Keputusan tersebut tentu berdampak pada strategi penjualan para pabrikan. Hal tersebut membuat sebagian pihak gigit jari.

Mereka harus mencari cara untuk menggoda para konsumen di Tanah Air. Tanpa dukungan potongan harga dari pemerintah, persaingan dipastikan semakin ketat.

Biasanya para pabrikan membanting harga atau memberikan subsidi mandiri, agar motor-motor listrik mereka bisa laku. Strategi ini kerap dipilih demi menjaga daya beli masyarakat.

Akan tetapi, Astra Honda Motor (AHM) mengatakan tidak serta-merta mereka menempuh cara seperti itu secara terus-menerus. Pabrikan berlambang sayap mengepak tersebut memilih pendekatan berbeda.

Honda Komitmen Tetap Jual Motor Listrik Tanpa Insentif

Honda menegaskan komitmennya untuk tetap memasarkan lini elektrifikasi meski tanpa dukungan subsidi pemerintah. Fokus mereka bukan sekadar perang harga, melainkan membangun kepercayaan pasar.

“Lebih karena program yang sifatnya sementara. Di beberapa area dan pada kesempatan tertentu, hal itu kadang dilakukan,” ungkap Octavianus Dwi, Direktur Marketing AHM di IIMS 2026.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa diskon bukan strategi utama yang dilakukan terus-menerus. Honda menilai ada pendekatan lain yang lebih berkelanjutan untuk jangka panjang.

Ia menjelaskan, inisiatif yang dijalankan oleh AHM serta jaringan diler di Tanah Air lebih kepada memberi kesempatan ke konsumen untuk mengenal motor listrik mereka. Upaya ini dilakukan melalui berbagai aktivitas dan program pengalaman berkendara.

Jika kepercayaan para konsumen bisa tumbuh, maka permintaan lini elektrifikasi Honda dipercaya bakal melejit. Kepercayaan dianggap sebagai fondasi penting sebelum berbicara soal volume penjualan.

“Itulah bentuk inisiatif dari AHM dan jaringannya untuk memberikan lebih banyak pengalaman berkendara kepada konsumen,” tutur Octa. Strategi ini diyakini dapat memperkuat citra produk di mata masyarakat.

Strategi Bertahap Bangun Kepercayaan Konsumen

Octa mengungkapkan, Honda memilih pendekatan secara bertahap dalam memperkenalkan motor listrik ke pasar. Pendekatan ini dinilai lebih realistis mengingat segmen tersebut masih relatif baru.

Hal ini penting dilakukan karena motor listrik masih tergolong barang baru bagi sebagian kalangan. Sehingga kepercayaan konsumen harus dibangun terlebih dahulu.

Menurutnya, masyarakat membutuhkan waktu untuk memahami teknologi baru. Edukasi dan pengalaman langsung menjadi faktor penting dalam membentuk persepsi positif.

Sebab menurut Octa, pengalaman langsung dinilai menjadi kunci dalam membangun minat masyarakat terhadap lini elektrifikasi Honda. Dengan mencoba sendiri, konsumen bisa merasakan keunggulan produk.

“Kadang konsumen memang perlu diminta mencoba terlebih dahulu. Setelah dicoba, barulah muncul feedback dan konsumen bisa merasakan seperti apa pengalaman berkendaranya,” tegas Octa.

Pendekatan test ride dan aktivitas promosi berbasis pengalaman diharapkan mampu menjawab keraguan pasar. Strategi ini juga menjadi cara untuk membedakan diri dari kompetitor.

Oleh sebab itu, jenama asal Jepang ini mengaku telah menyiapkan beragam strategi agar masyarakat di dalam negeri tertarik memiliki motor listrik Honda. Strategi tersebut tidak hanya berfokus pada harga semata.

Keputusan Pemerintah dan Pertimbangan Fiskal

Sebagai informasi Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian (Kemenperin) telah memberikan kepastian soal insentif motor listrik untuk periode 2026. Pernyataan ini menjadi titik balik kebijakan kendaraan listrik roda dua.

Pembantu Presiden Prabowo Subianto tersebut mengatakan, pemerintah tidak akan mengucurkan dana untuk pembelian kendaraan roda dua setrum. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi fiskal negara.

"Pertimbangannya di mana kita memahami kekuatan fiskal seperti apa. Cost and benefit mana yang paling tinggi," kata Agus pada kesempatan berbeda.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kebijakan diambil berdasarkan evaluasi manfaat an kemampuan anggaran. Pemerintah menilai perlu mengalokasikan dana ke sektor lain yang lebih prioritas.

Kemenperin mengungkapkan, saat ini pemerintah tengah mengalihkan fokus ke hal-hal yang lebih bermanfaat. Kebijakan ini disebut bertujuan memberi dampak ekonomi yang lebih luas.

Terkhusus pada program yang dapat memberikan dampak bagi perekonomian secara keseluruhan, sehingga mereka tidak memberikan bantuan tersebut. Langkah ini menjadi sinyal bahwa industri harus lebih mandiri dalam menghadapi dinamika pasar.

Keputusan penghapusan insentif tentu menjadi tantangan bagi produsen motor listrik. Namun bagi Honda, kondisi tersebut bukan alasan untuk mundur dari pasar elektrifikasi.

Melalui pendekatan bertahap, edukasi konsumen, serta pengalaman berkendara langsung, AHM berharap mampu membangun kepercayaan publik. Strategi ini diharapkan dapat menjaga pertumbuhan penjualan meski tanpa sokongan subsidi pemerintah pada 2026.

Terkini