JAKARTA - Para petani di Kabupaten Berau kini tengah didorong untuk mengadopsi metode pertanian yang lebih cerdas dan ekonomis di tengah dinamika harga sarana produksi pertanian yang fluktuatif pada tahun 2026.
Mencapai hasil panen yang melimpah bukan lagi sekadar soal pemberian pupuk kimia dalam jumlah besar, melainkan tentang ketepatan manajemen lahan dan efisiensi biaya operasional.
Dengan memanfaatkan potensi lokal dan teknologi tepat guna, para petani Bumi Batiwakkal memiliki peluang besar untuk meningkatkan margin keuntungan sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pertanian mereka secara jangka panjang.
Kembali Ke Alam: Pemanfaatan Pupuk Organik Sebagai Kunci Efisiensi Biaya
Salah satu rahasia utama untuk menekan biaya produksi di tahun 2026 adalah dengan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia subsidi maupun nonsubsidi yang harganya kian meningkat.
Para petani Berau disarankan untuk beralih atau mengombinasikan pola pemupukan dengan pupuk organik cair (POC) atau kompos yang diolah dari limbah pertanian lokal. Selain mampu memperbaiki struktur tanah yang mulai jenuh akibat bahan kimia, penggunaan bahan organik secara konsisten dapat menekan biaya belanja input pertanian hingga 30% - 40%.
Manajemen tanah yang sehat adalah fondasi utama. Tanah yang kaya akan mikroorganisme alami akan membantu tanaman menyerap nutrisi secara lebih optimal, sehingga tanaman menjadi lebih kuat dalam menghadapi serangan hama dan penyakit.
Langkah ini secara otomatis juga akan mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia yang mahal, sehingga modal usaha dapat dialokasikan untuk kebutuhan strategis lainnya seperti peningkatan sistem irigasi atau pembelian benih unggul.
Penerapan Pola Tanam Terintegrasi Dan Pemilihan Benih Unggul
Selain masalah nutrisi, rahasia panen melimpah terletak pada pemilihan varietas benih yang sesuai dengan karakteristik lahan di wilayah Berau. Penggunaan benih bersertifikat memang membutuhkan modal awal yang sedikit lebih tinggi, namun potensi hasil yang diberikan jauh lebih besar dibandingkan benih asalan.
Benih unggul di tahun 2026 ini umumnya telah dibekali dengan ketahanan terhadap perubahan iklim ekstrem, yang menjadi tantangan utama bagi pertanian di Kalimantan Timur.
Penerapan pola tanam seperti Intercropping (tumpang sari) atau rotasi tanaman juga sangat dianjurkan. Metode ini membantu menjaga ketersediaan unsur hara di dalam tanah secara alami dan memutus siklus hidup hama tanaman tertentu.
Misalnya, menanam kacang-kacangan di sela tanaman utama dapat membantu mengikat nitrogen di tanah, yang secara langsung memberikan "pupuk gratis" bagi tanaman di sekitarnya. Strategi ini sangat efektif untuk memaksimalkan penggunaan lahan yang terbatas namun memberikan hasil yang beragam.
Manajemen Air Dan Mekanisasi Pertanian Skala Kecil
Di era modern 2026, efisiensi tenaga kerja menjadi faktor penentu laba bersih petani. Penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) sederhana untuk proses pengolahan lahan dan panen terbukti dapat mempercepat waktu pengerjaan dan mengurangi kehilangan hasil (losses) saat panen.
Pemerintah daerah Berau terus mengupayakan bantuan alsintan melalui kelompok tani, sehingga para petani diharapkan proaktif dalam berorganisasi guna mendapatkan akses fasilitas ini.
Selain itu, manajemen air yang tepat melalui sistem irigasi hemat air seperti irigasi tetes atau sistem tadah hujan yang terukur sangat krusial, terutama saat menghadapi musim kemarau. Tanaman yang tidak mengalami stres air akan tumbuh lebih seragam dan memiliki bobot panen yang lebih berat.
Dengan menggabungkan pengetahuan tradisional dan inovasi manajemen modern, petani Berau tidak hanya akan menjadi penonton dalam industri pangan, tetapi menjadi penyokong utama ketahanan pangan daerah dengan biaya yang jauh lebih hemat.