JAKARTA - Peran ayah dalam perkembangan emosional anak tidak sekadar sebatas menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga. Kehadiran aktif sosok ayah terbukti berdampak nyata terhadap pembentukan karakter, kepercayaan diri, hingga kesehatan mental anak sejak dini.
Oleh karena itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) terus menegaskan krusialnya pengasuhan bersilangan untuk mencegah fenomena fatherless, yakni kondisi saat anak tumbuh tanpa keterlibatan emosional ayah.
Kondisi fatherless tidak selalu berarti ayah tidak hadir secara fisik. Pada banyak kasus, ayah tinggal serumah namun minim berinteraksi akibat kesibukan kerja, padahal kedekatan emosional menjadi fondasi penting bagi perkembangan emosi anak.
KemenPPPA menekankan bahwa keterlibatan ayah secara langsung sanggup menghadirkan rasa aman. Perasaan tersebut menjadi modal berharga bagi anak untuk mengenali emosi, menjalin relasi sosial, serta menghadapi beragam tantangan masa depan.
Anak yang memiliki ikatan hangat dengan ayah cenderung lebih mudah mengekspresikan perasaan, berani mencoba hal baru, serta mampu mengendalikan emosi. Sebaliknya, minimnya peran ayah berisiko membuat anak rentan cemas dan krisis percaya diri.
Di samping itu, peran ayah juga tecermin dari keteladanan harian. Cara ayah berbicara, memperlakukan pasangan, hingga mengelola stres akan diamati dan ditiru oleh anak, sehingga kualitas interaksi harian menjadi kunci utama.
Para pakar perkembangan anak menilai bahwa anak belajar memahami tanggung jawab, disiplin, dan keberanian melalui interaksi bersama kedua orang tua. Kehadiran ayah secara konsisten membuat anak merasa dihargai.
Dampak jangka panjangnya meliputi kesehatan mental yang stabil. Anak yang didukung secara emosional oleh ayah cenderung lebih siap menghadapi perubahan lingkungan sekolah maupun dinamika kehidupan dewasa.
Keterlibatan ayah juga membantu mengasah empati anak. Melalui percakapan sederhana, bermain bersama, atau mendengarkan cerita, ayah secara tidak langsung mengajarkan cara memahami perasaan orang lain.
Peran tersebut kian vital saat anak memasuki usia remaja untuk mencari jati diri. Sosok ayah yang terbuka terhadap diskusi dapat menjadi tempat berlindung dan berkonsultasi tanpa timbul rasa dihakimi.
Membangun kedekatan emosional dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana seperti makan bersama, mendampingi belajar, atau bermain. Anak membutuhkan kehadiran ayah yang benar-benar utuh secara emosional di rumah.