Di Tengah Tekanan Rupiah, Saham MIKA dan SILO Jadi Pilihan Analis

Rabu, 12 Agustus 2026 | 00:28:01 WIB
Pegawai melintas di dekat papan informasi data saham di kantor BEI [FOTO: NET].

JAKARTA – Saham sejumlah emiten pengelola rumah sakit seperti PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) serta PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) mendapatkan rekomendasi positif dari para analis di tengah bayang-bayang tekanan pelemahan nilai tukar rupiah saat ini.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengutarakan bahwa performa sejumlah emiten sektor kesehatan tanah air bergerak kontras akibat berbagai tantangan khusus yang membayangi masing-masing emiten sepanjang paruh pertama 2026. PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) sebagai pengelola RS Hermina misalnya, dengan porsi pasien BPJS yang besar, terikat oleh tarif INA-CBGs dalam denominasi rupiah yang terus tertekan. 

Kendala serupa menimpa PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) yang dinilai mengalami kinerja lambat (underperform) karena tingginya ketergantungan pada bahan aktif farmasi (active pharmaceutical ingredients / API) impor.

Emiten pengelola RS Hermina, PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) membukukan total pendapatan senilai Rp3,6 triliun per Juni 2026. Realisasi itu mengalami kenaikan 6,51% year-on-year (YoY) dari Rp3,38 triliun pada periode yang sama 2025. HEAL mencatatkan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih yang susut 14,08% YoY menjadi Rp193,17 miliar dari Rp224,84 miliar pada periode semester I/2025.

PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) mencetak penjualan hingga Rp19,47 triliun sepanjang 6 bulan 2026. Realisasi itu mencerminkan kenaikan 14,04% year-on-year (YoY) dibandingkan Rp17,07 triliun pada periode yang sama 2025.

Namun, laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih Kalbe susut dari Rp1,97 triliun pada periode 6 bulan 2025 menjadi Rp1,91 triliun pada periode semester I/2026.

”MIKA dan SILO diuntungkan via porsi pasien mandiri atau asuransi swasta yang lebih besar, pricing flexibility murni untuk absorb kenaikan cost. Sementara PRDA dan TSPC solid via specialty positioning yang kurang terekspos atas persaingan harga,” katanya, Selasa (11/8/2026).

Sementara itu, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 8,01% secara year-on-year (YoY) dari Rp2,56 triliun menjadi Rp2,76 triliun sepanjang kurun waktu Januari—Juni 2026. Peningkatan pemasukan MIKA ini ditopang oleh ekspansi segmen pendapatan perseroan di berbagai wilayah. 

MIKA membukukan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih yang naik 6,92% YoY menjadi Rp684,05 miliar sepanjang paruh pertama 2026, dari Rp639,72 miliar pada periode yang sama 2025.

Di sisi lain, PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) sukses membukukan performa yang kokoh sepanjang rentang Januari—Juni 2026. Total pendapatan yang dikantongi perseroan mencapai Rp6,76 triliun, mencerminkan lompatan 10,78% year-on-year (YoY) dari Rp6,10 triliun pada periode yang serupa tahun 2025. Sejalan dengan capaian tersebut, SILO mampu membukukan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih yang naik 27,11% YoY dari Rp456,82 miliar menjadi Rp580,68 miliar pada periode semester I/2026.

Sekalipun tren nilai tukar rupiah berangsur menguat akhir-akhir ini, emiten kesehatan dipandang masih akan menghadapi kendala serupa hingga sisa tahun berjalan. Wafi menilai bahwa depresiasi rupiah berpotensi menekan biaya bahan baku API, sementara ketergantungan pasokan alat kesehatan impor turut memberikan implikasi yang bersifat struktural. 

Ditambah lagi, beban suku bunga yang tinggi pada era saat ini bakal membebani kinerja emiten yang memiliki belanja modal (capital expenditure / capex) ekspansi secara agresif. Terakhir, pelemahan daya beli masyarakat juga akan memengaruhi performa bisnis, khususnya pada segmen layanan kesehatan non-esensial.

”Emiten yang resilien adalah [yang memiliki] kombinasi pricing power, balance sheet yang solid, dan positioning specialty atau premium yang kurang sensitif terhadap harga,” tegasnya.

Wafi memproyeksikan bahwa MIKA dan SILO masih mempunyai ruang yang memadai untuk meneruskan momentum positif lewat keunggulan operating leverage. Di sisi lain, HEAL diperkirakan masih bakal berhadapan dengan berbagai hambatan selama tarif INA-CBGs belum mengalami penyesuaian, yang pada akhirnya memicu tantangan struktural di mana manajemen tidak dapat menyelesaikannya secara instan.

Terkini