Kebiasaan Anak Suka Makan Ingus Perlukah Orang Tua Khawatir

Kamis, 13 Agustus 2026 | 05:40:32 WIB
Ilustrasi Anak Makan Ingus.

JAKARTA - Kebiasaan anak mengorek hidung lalu mengonsumsi lendir atau ingus yang keluar sering kali membuat orang tua merasa cemas dan cemas. Kendati demikian, perilaku yang terbilang umum tersebut tidak selalu menandakan adanya gangguan kesehatan serius.

Disadur dari Live Science, aksi mengorek hidung lalu memakan ingus dikenal dengan istilah mukofagi. Perilaku ini tidak cuma ditemui pada kalangan anak-anak, sebab sejumlah orang dewasa pun mengaku pernah atau masih rutin melakukannya.

Riset terhadap 200 remaja di India pada tahun 2001, sebagai contoh, menemukan fakta bahwa hampir seluruh partisipan mengaku pernah mengorek hidung. Sembilan di antaranya bahkan mengonfirmasi rutin memakan lendir dari hidung mereka.

Walau begitu, alasan pasti mengapa seseorang, khususnya anak kecil, memakan ingus sampai saat ini belum banyak diteliti secara mendalam.

Sejumlah pakar menduga tindakan ini berhubungan dengan dorongan rasa ingin tahu, kebiasaan yang terbentuk, hingga kondisi rongga hidung yang merasa kurang nyaman.

Pakar biologi evolusi Anne Claire Fabre dalam Live Science menjelaskan, perilaku serupa juga ditemukan pada beberapa spesies primata. Menurutnya, cairan ingus dominan terdiri dari udara, sedangkan sisanya menyimpan kandungan protein, karbohidrat, serta garam.

“Ada kemungkinan hewan mendapatkan manfaat dari mengonsumsi komponen-komponen ini,” kata Fabre.

Namun, temuan tersebut belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa manusia turut memperoleh dampak kesehatan positif dari mengonsumsi ingus.

Pada anak kecil, tindakan ini dapat berawal dari rasa penasaran semata. Anak umumnya belajar melalui eksplorasi terhadap lingkungan sekeliling, termasuk mengenali organ tubuh serta apa yang mereka jumpai.

“Anak-anak belajar dengan menjelajah dan terkadang, itu berarti menjelajahi diri mereka sendiri,” ujar Fabre.

Saat hidung terasa gatal atau dipenuhi lendir yang mengganggu, anak cenderung mengoreknya demi menghilangkan sensasi tidak nyaman. Usai ingus berhasil dikeluarkan, rasa penasaran kerap memicu anak untuk mencicipinya.

Selain faktor dorongan ingin tahu, tekstur beserta sensasi asin dari ingus disinyalir dapat memikat perhatian sebagian orang. Pada beberapa kasus, aktivitas mengorek hidung bahkan berubah menjadi tindakan otomatis atau cara alami menenangkan diri.

Meski begitu, belum ada bukti ilmiah kokoh yang membuktikan bahwa mengonsumsi ingus sanggup memperkuat daya tahan tubuh. Maka dari itu, orang tua sebaiknya tidak menganggap perilaku tersebut sebagai trik alami agar anak lebih tahan penyakit.

Lantas, apakah memakan ingus bisa memicu sakit? Mengonsumsinya sesekali secara umum tidak langsung membuat anak jatuh sakit. Sebagian besar lendir yang diproduksi tubuh sejatinya akan tertelan secara tak sadar.

Lendir berfungsi menyaring debu, serbuk sari, partikel asing, hingga beraneka mikroorganisme yang masuk lewat saluran pernapasan. Tubuh lantas membawa lendir itu menuju tenggorokan sebelum bermuara ke organ pencernaan.

"Apakah ada bakteri dan zat lain di dalam ingus? Tentu saja," kata dokter perawatan primer Matthew Badgett, MD dalam Cleveland Clinic.

Akan tetapi, partikel yang terperangkap dalam lendir hidung pada akhirnya juga bakal terdorong ke tenggorokan serta lambung.

Usai tertelan, zat itu akan melewati lambung yang mempunyai tingkat keasaman sangat tinggi. Situasi ini menjadi salah satu sistem pertahanan tubuh dalam mengeliminasi berbagai mikroorganisme yang ikut masuk bersama makanan atau lendir.

Kendati demikian, bukan berarti anak patut dibiarkan memelihara kebiasaan tersebut. Ingus bukanlah asupan yang memiliki gizi, dan tindakan mengorek hidung menggunakan jemari kotor justru berpotensi memicu penyebaran kuman.

Lalu, haruskah orang tua panik? Orang tua tidak perlu langsung panik apabila tidak sengaja melihat anak mengorek hidung dan memakan ingusnya. Hal yang jauh lebih utama ialah mengajarkan pola hidup bersih tanpa membuat anak merasa malu atau dihakimi.

Jari tangan yang dipakai mengorek hidung dapat membawa kuman penyakit. Oleh sebab itu, anak sebaiknya dibiasakan menggunakan tisu sewaktu membersihkan hidung serta rajin mencuci tangan sesudahnya.

Orang tua perlu memberikan perhatian ekstra jika aktivitas mengorek hidung dilakukan terus-menerus hingga memicu luka atau pendarahan. Bila perilakunya sangat sulit dikendalikan dan mengganggu rutinitas harian, ada baiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis.

Kesimpulannya, anak yang sesekali memakan ingus umumnya bukan alasan untuk langsung merasa panik. Ketimbang memarahi, orang tua dapat membimbing anak secara bertahap untuk memahami kebersihan hidung dan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih higienis.

Terkini