Puan Desak Pemerintah Cepat Tangani Dampak Gempa M 7,7 di NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 15:42:32 WIB
Ketua DPR RI, Puan Maharani. [Foto: NET]

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak pemerintah agar mempercepat penanganan terhadap para korban gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Pimpinan DPR menyampaikan keprihatinan atas bencana gempa besar di NTT. Pemerintah harus bergerak cepat untuk menangani dampak gempa, dan merespons cepat kebutuhan warga terdampak,” kata Puan dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Puan, pendataan yang sigap akan mempermudah proses penanggulangan pascabencana sehingga kebutuhan para korban dapat segera terpenuhi. 

Politikus PDI-P tersebut juga meminta pemerintah memberikan asistensi bagi para wisatawan yang turut menjadi korban gempa di kawasan Labuan Bajo. Pasalnya, sejumlah wisatawan domestik maupun asing dilaporkan sempat berlarian keluar dari hotel saat bencana terjadi.

“Para wisatawan ini jauh dari rumahnya. Pemerintah harus memastikan mereka mendapat pertolongan, khususnya bagi wisatawan yang tempatnya menginap rusak,” jelas Puan.

Puan turut menyampaikan belasungkawa mendalam kepada para keluarga yang kehilangan anggotanya akibat gempa bumi tersebut.

“Dukacita mendalam kami sampaikan bagi para korban dan keluarga. Semoga korban yang mengalami luka-luka juga dapat segera pulih,” tutur Puan.

Di samping itu, Puan mendorong pemerintah melakukan langkah mitigasi terhadap potensi gempa susulan usai maraknya rumor yang beredar terkait bakal berulangnya gempa besar di NTT.

“Pemerintah melalui lembaga yang berwenang harus memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat serta memberikan edukasi untuk mencegah keresahan warga,” pesan Ketua DPR RI tersebut.

Update Data BNPB per 12.30 WIB: 14 Orang Tewas

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 14 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026).

“Berdasarkan pemutakhiran data hingga pukul 12.30 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia, dua orang luka berat dan 11 orang luka ringan,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam keterangannya, dikutip Sabtu (15/8/2026).

Berton memaparkan, korban jiwa tercatat berada di Kabupaten Sikka sebanyak tiga orang, Kabupaten Manggarai enam orang, dan Kabupaten Manggarai Timur lima orang.

“Sementara korban luka dilaporkan di Kabupaten Sikka, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur,” ungkap dia.

Dalam hal ini, Berton menegaskan bahwa data korban tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi berubah seiring penyesuaian serta verifikasi oleh pihak BPBD bersama tim terkait.

Selain korban jiwa, sekitar lima kepala keluarga ikut terdampak. Kurang lebih 2.000 jiwa juga mengungsi atau melakukan evakuasi secara mandiri usai merasakan guncangan hebat serta adanya peringatan dini tsunami yang sempat diterbitkan usai gempa utama.

Berdasarkan inventarisasi sementara, sebanyak 54 unit rumah mengalami kerusakan berat, sembilan rumah rusak sedang, serta 11 rumah rusak ringan. 

Kerusakan bangunan juga menimpa lima fasilitas kesehatan, satu sarana pendidikan, satu gudang Bulog, tiga tempat ibadah, dan enam kantor instansi pemerintah.

“Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah dengan dampak kerusakan cukup signifikan,” ucap Berton.

Terkini