Target Yield SBN 6,9% pada 2027 dan Realisasinya Sepanjang 2026

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 16:59:32 WIB
Presiden Prabowo Subianto [FOTO: NET].

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto mematok target yield Surat Berharga Negara (SBN) berada di angka 6,9% pada tahun 2027 mendatang melalui pemaparan Pidato Kenegaraan mengenai Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Prabowo menetapkan target yield acuan SBN tersebut pada tingkat persentase yang selaras dengan target di dalam APBN 2026 yang mematok level 6,9% khusus untuk instrumen SBN bertenor 10 tahun.

”Suku bunga SBN 10 tahun diperkirakan 6,9%,” kata Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan, Jumat (14/8/2026).

Selain itu, Prabowo turut menjabarkan bahwa pihak pemerintah memproyeksikan nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp17.500 per dolar Amerika Serikat pada tahun 2027, yang menunjukkan adanya kenaikan dari patokan Rp16.500 pada tahun 2026.

Apabila meninjau kembali data realisasi sepanjang tahun 2026 ini, pergerakan yield acuan SBN Republik Indonesia terpantau bergerak pada kisaran yang cukup tinggi sejak penghujung kuartal I/2026.

Pencapaian level 6,9% tersebut untuk pertama kalinya tersentuh oleh yield pada tanggal 23 Maret 2026 menyusul terjadinya pelemahan kinerja nilai tukar rupiah secara signifikan.

Pada saat itu, pembukaan perdagangan nilai tukar rupiah di sesi pagi hari langsung mencatatkan pelemahan sebesar 0,41% ke level Rp16.997 per dolar AS, yang mana posisi tersebut hampir mendekati batas level psikologis rupiah di kisaran Rp17.000 per dolar AS.

Merujuk pada catatan data Trading Economics, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap Greenback terpantau konsisten berada di atas level Rp17.000 terhitung sejak 6 April 2026.

Bahkan, pada tanggal 8 Juni 2026, nilai tukar rupiah sempat merosot menyentuh titik terendahnya di angka Rp18.153 per dolar AS.

Seirama dengan dinamika tersebut, angka yield SBN bergerak melonjak pada level yang tinggi. Tepat pada 10 Juni 2026, yield SBN sempat bertengger di angka 7,47% sebelum akhirnya berangsur-angsur mengalami penurunan dan stabil bergerak di rentang 7% hingga 7,3%.

Hingga hari ini, pergerakan yield SBN tercatat mengalami pelemahan dari level 6,11% pada awal tahun menuju angka 7,06% pada sesi perdagangan terakhir.

Lonjakan tingginya yield SBN ini secara otomatis turut memberikan tekanan beban pembiayaan yang cukup berat, baik bagi kalangan korporasi maupun pihak pemerintah tatkala menerbitkan instrumen surat utang.

Setiap penerbit surat utang dituntut untuk menawarkan tingkat imbal hasil yang kompetitif mengingat rata-rata suku bunga kupon SBN di pasar sekunder telah berada di level yang tinggi.

Kondisi tersebut tampak jelas tercermin dari penerbitan instrumen Surat Berharga Negara Ritel atau Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030T3 dan ORI030T6 yang menawarkan besaran imbal hasil tertinggi dalam kurun waktu satu tahun ke belakang.

Kedua produk investasi ritel tersebut masing-masing memberikan penawaran imbal hasil sebesar 6,9% dan 7% per tahun, yang pada akhirnya turut menekan pembiayaan pemerintah melalui mekanisme penerbitan surat utang.

Terkini