Gempa M7,7 Guncang NTT, Badan Geologi ESDM Imbau Warga Tetap Waspada

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 17:43:31 WIB
Dampak gempa bumi yang mengguncang dan dirasakan masyarakat di wilayah NTT hingga NTB, Bali, dan Sulawesi Selatan pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.23 WIB [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta kepada masyarakat agar tetap tenang serta meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan dari BPBD setempat, memeriksa kondisi bangunan, serta mematuhi rambu maupun jalur evakuasi menyusul terjadinya gempa bumi dengan pusat di Timur Laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu, menyatakan bahwa masyarakat juga diimbau agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya terkait peristiwa gempa bumi dan potensi tsunami tersebut.

Kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan tetap perlu dijaga dengan baik. Selain itu, warga diimbau untuk menghindari kawasan tebing yang memiliki potensi mengalami pergerakan tanah, utamanya pada saat kondisi cuaca hujan.

Pada hari Sabtu ini pukul 04.58.23 WIB, gempa bumi yang kuat mengguncang dan dirasakan oleh masyarakat luas di berbagai wilayah mulai dari NTT hingga NTB, Bali, serta Sulawesi Selatan.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episentrum gempa terletak pada koordinat 8,33 LS dan 121,32 BT di wilayah Timur Laut Nagekeo, NTT, dengan magnitudo awal M7,0 serta kedalaman 10 kilometer.

Parameter gempa tersebut kemudian diperbarui menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.

Sementara itu, data dari GeoForschungsZentrum (GFZ) mencatat posisi episentrum berada pada koordinat 8,375 LS dan 121,545 BT dengan magnitudo M6,25 pada kedalaman 10 kilometer.

Lana Saria menjelaskan bahwa lokasi episenter gempa tersebut berada di laut.

Daerah yang berada di sekitar lokasi terdekat memiliki bentuk morfologi yang cukup beragam, mulai dari kawasan dataran, berombak, bergelombang, perbukitan, hingga daerah pegunungan.

Wilayah tersebut tersusun atas batuan gunung api yang berumur tersier serta batuan sedimen berumur kuarter.

Kondisi geologi wilayah tersebut menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam memahami kuatnya guncangan yang dirasakan di permukaan bumi.

"Batuan yang telah mengalami pelapukan maupun sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi," ujar Lana Saria.

Berdasarkan data tapak lokal Vs30, daerah di sekitar episenter terklasifikasi ke dalam Kelas Tanah C yang merupakan tanah sangat padat atau batuan lunak, Kelas Tanah D sebagai tanah sedang, serta Kelas Tanah E yang dikategorikan sebagai tanah lunak.

"Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak ini berarti potensi guncangan gempa bumi di area tersebut terasa lebih intens," tambah Lana.

Ditinjau berdasarkan parameter sumbernya, gempa bumi tersebut memiliki mekanisme sesar naik yang berasosiasi langsung dengan Zona Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust.

Pihak Badan Geologi menyatakan bahwa kawasan tersebut berada dalam zona rawan bencana gempa bumi dengan tingkat kerawanan menengah hingga tinggi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari BMKG, tingkat intensitas guncangan tercatat pada skala IV-V MMI di Ruteng, V MMI di Kota Bima dan Kabupaten Dompu, serta skala IV-V MMI di wilayah Ende, Labuan Bajo, Maumere, hingga Sumba Timur.

Terkini