Gubernur Lampung Dorong Penggunaan Bed Dryer untuk Pengeringan Gabah

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:58:32 WIB
Ilustrasi Petani Sedang Mengeringkan Gabah atau Padi.

JAKARTA - Penggunaan teknologi bed dryer menjadi salah satu langkah efektif untuk mengatasi kendala yang selama ini dialami petani saat mengeringkan gabah.

Melalui sarana tersebut, para petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada sinar matahari yang membutuhkan waktu lama, terutama sewaktu musim hujan.

Hal itu diungkapkan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal saat meninjau penggunaan bed dryer dalam Program Desaku Maju di Desa Sumber Agung, Pringsewu, Jumat (14/8/2026).

“Jadi nanti desa ini tadinya jual produksi mentah, nanti tahun depan sudah bisa produksi beras berkualitas tinggi, pakan ayam, hingga pakan ikan,” ujar Mirza.

Menurutnya, pengeringan gabah di area desa tidak sekadar mempercepat penanganan pascapanen, melainkan memberi keuntungan dalam hal penyimpanan maupun pemasaran.

Gabah yang kering sempurna sanggup disimpan lebih lama sehingga masa penjualan menjadi lebih fleksibel bagi para petani.

“Manfaatnya harga gabahnya naik. Selain itu, petani tidak takut harga jatuh karena kalau sudah kering bisa disimpan sampai setahun dengan bagus,” katanya.

Gubernur menambahkan bahwa gabah basah mengandung kadar air tinggi sehingga memperberat beban angkutan ke luar desa.

“Kalau kami keringkan di desa, mobil yang lewat desa lebih ringan dan lebih jarang, jadi jalan-jalan di desa akan lebih terjaga,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa keberadaan alat pengering ini mesti mengubah pola pengelolaan hasil tani desa agar nilai ekonomisnya dinikmati warga lokal.

“Bapak jual padi dibawa ke kota dijadikan beras, lalu Bapak beli lagi berasnya di desa. Jadi jalan bolak-balik. Kalau sekarang tidak perlu, di sini jadi beras, keluarnya sudah dalam bentuk beras,” jelasnya.

Mirza juga mengajak keterlibatan pemuda desa untuk memegang peranan penting pada pemanfaatan teknologi, pembuatan produk, hingga urusan pemasaran.

“Tugasnya anak muda tidak boleh jadi petani saja, tapi harus membantu desa menghilirisasi komoditas agar punya nilai tambah. Anak muda harus jadi motor untuk teknologi dan marketing,” kata Mirza.

Di samping hilirisasi, ia menilai biaya produksi perlu ditekan melalui pembuatan input pertanian secara mandiri, seperti pupuk organik cair.

“Jangan hanya jual gabah. Kalau sudah kering bisa dijadikan beras dan katul. Begitu juga jagung, bisa jadi pakan ayam dan ikan agar ekonomi berputar di desa,” ujarnya.

Guna mendukung program tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung menyalurkan 82 unit mesin bed dryer ke 12 kabupaten dan satu kota pada 2026.

Petani setempat menyambut baik bantuan ini karena proses pengeringan gabah yang biasanya memakan waktu hingga 15 hari kini jauh lebih cepat dan terukur.

Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Sumber Agung, Tasbiah, mengungkapkan bahwa alat tersebut sangat meringankan pekerjaan para petani di sawah.

“Sebelum ada dryer ini, petani mengeringkan gabah secara manual di halaman rumah. Kalau waktu musim hujan itu agak lama karena kendala cuaca, jadi sangat merepotkan,” ungkapnya.

“Setelah ada alat ini, alhamdulillah sangat membantu petani untuk mengeringkan gabah yang langsung dari sawah,” katanya.

Ketua Kelompok Tani Sumber Tani, Sandi, menambahkan bahwa kendala waktu pengeringan 20 ton gabah kini dapat teratasi tanpa merusak mutu produksi.

“Sebelum mendapatkan bed dryer, kami kesulitan dalam hal pengeringan. Untuk kapasitas 20 ton itu butuh waktu kurang lebih 15 hari, sehingga sangat menurunkan kualitas produksi,” ujarnya.

“Mudah-mudahan dryer ini dapat menjaga dan meningkatkan kualitas produksi tani kami agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas serta meningkatkan nilai ekonomisnya,” kata Sandi.

Terkini