Kinerja GIAA Membaik Prabowo Target Garuda Indonesia Untung di 2027

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:43:31 WIB
Ilustrasi Pesawat Garuda Indonesia.

JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) kembali menjadi sorotan setelah Presiden Prabowo Subianto menargetkan maskapai pelat merah tersebut mulai mencetak keuntungan pada awal 2027, usai bertahun-tahun menghadapi tekanan keuangan.

Harapan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Menurut Kepala Negara, peluang Garuda untuk berbalik mencetak laba semakin terbuka seiring pemulihan armada yang sebelumnya banyak mengalami grounded. Hingga Juni 2026, sebanyak 20 pesawat telah kembali diaktifkan sehingga jumlah armada yang beroperasi mencapai sekitar 140 unit.

Prabowo memproyeksikan apabila tidak terjadi konflik di Timur Tengah, sesungguhnya pada Juli ini maskapai nasional tersebut sudah mampu membukukan untung.

Adapun emiten berkode saham GIAA ini belum merilis laporan keuangan kuartal II/2026. Namun, optimisme pemerintah sejalan dengan perbaikan kinerja Garuda Indonesia Group pada awal 2026.

Mengutip laporan hingga kuartal I/2026, rugi bersih konsolidasi GIAA menyusut 45,2 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$41,6 juta, dari US$75,9 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada periode yang sama, pendapatan usaha meningkat 5,4 persen yoy menjadi US$762,4 juta. Segmen penerbangan berjadwal menjadi penopang utama dengan pendapatan US$648,1 juta, tumbuh 7,4 persen yoy dan berkontribusi sekitar 80 persen terhadap total pendapatan grup.

Perbaikan juga terlihat dari sisi operasional. Laba operasional atau EBIT melonjak 47,2 persen yoy menjadi US$46,5 juta, sedangkan EBITDA naik 7 persen menjadi US$210,4 juta.

Saat pendapatan tumbuh, Garuda juga mampu menekan beban usaha sebesar 0,7 persen menjadi US$713,2 juta. Beban bahan bakar turun 3,7 persen menjadi US$224,7 juta, sementara biaya pemeliharaan dan perbaikan pesawat turun 9,1 persen menjadi US$48,6 juta.

Pemulihan armada menjadi faktor penting di balik perbaikan kinerja tersebut. Hingga akhir Maret 2026, total pesawat Garuda Indonesia Group mencapai 142 unit, terdiri atas 78 pesawat Garuda Indonesia dan 64 pesawat Citilink.

Kapasitas yang meningkat mendorong frekuensi penerbangan pada kuartal I/2026 naik 5,87 persen yoy menjadi 38.675 penerbangan. Jumlah penumpang juga tumbuh 6,76 persen menjadi 5,42 juta orang.

Sementara itu, passenger yield tercatat 7,56 sen atau tumbuh 2,49 persen yoy, dengan seat load factor (SLF) tetap terjaga di level 78,07 persen. Dari sisi ketepatan waktu, on time performance (OTP) Garuda Indonesia Group meningkat menjadi 91,01 persen, dibandingkan 87,93 persen pada kuartal I/2025.

Garuda masih melanjutkan pemulihan dan pengembangan armada. Pada kuartal II/2026, perseroan menjadwalkan kedatangan empat unit Boeing 737-800, serta dua unit Boeing 737-8 yang direncanakan tiba pada akhir 2026.

Kombinasi pemulihan armada, pertumbuhan penumpang, peningkatan pendapatan, serta efisiensi biaya membuat target pemerintah agar Garuda berbalik untung pada awal 2027 memiliki landasan kinerja yang lebih kuat. Namun, tekanan eksternal seperti harga avtur dan ketidakpastian geopolitik tetap perlu diwaspadai

Terkini