Harga Minyak Naik, Rupiah Terdepresiasi ke Rp17.850 per Dolar AS

Selasa, 18 Agustus 2026 | 00:17:31 WIB
Pegawai menunjukan mata uang Dolar Amerika Serikat dan Rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah dibuka merosot terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (18/8/2026). Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi pendorong utama yang menekan pergerakan rupiah.

Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka pada level Rp17.850 per dolar AS, terkoreksi 0,29% dari posisi sebelumnya.

Pelemahan tersebut menempatkan mata uang Garuda dalam jajaran mata uang Asia yang terdepresiasi pada awal perdagangan, menyusul peso Filipina yang melemah 0,22%, rupee India 0,18%, yen Jepang 0,05%, serta yuan China dan dolar Singapura yang masing-masing melorot 0,03% dan 0,02%. Baht Thailand juga tercatat melemah 0,02% terhadap dolar AS.

Sebaliknya di kawasan Asia, won Korea Selatan memimpin penguatan dengan kenaikan sekitar 0,38% terhadap dolar AS. Selanjutnya ringgit Malaysia terangkat 0,29%, sementara dolar Taiwan naik 0,18%. Adapun dolar Hong Kong cenderung bergerak stabil.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi sentimen utama yang membayangi rupiah.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia setelah berakhirnya gencatan senjata AS-Iran,” ujar Lukman, Selasa (18/8/2026).

Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah berada di rentang Rp17.750-Rp17.850 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Tekanan bagi mata uang domestik hadir bersamaan dengan kembali melambungnya harga minyak seiring memudarnya peluang perpanjangan gencatan senjata AS-Iran. Harga minyak mentah jenis Brent bahkan sempat menembus level US$91 per barel akibat menguatnya kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan energi serta jalur pengiriman minyak melintasi Selat Hormuz.

Menurut Lukman, sampai saat ini belum muncul sentimen domestik yang cukup kuat untuk menopang pergerakan rupiah. Meski begitu, perhatian para pemodal mulai terfokus pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang digelar esok hari.

“Belum ada sentimen dari domestik, namun investor tentunya mengantisipasi RDG BI besok,” kata Lukman.

Arah kebijakan BI menjadi faktor kunci bagi rupiah dalam jangka pendek, utamanya di tengah tekanan eksternal dari meningkatnya risiko geopolitik dan kenaikan harga energi. Pasar kini menantikan apakah keputusan serta pernyataan BI dalam RDG mampu menghadirkan angin segar bagi rupiah atau justru membuat mata uang Garuda tetap tertekan di hadapan dolar AS.

Terkini