Prospek Saham Grup Bakrie Semester II 2026 BUMI ENRG DEWA dan VKTR

Rabu, 19 Agustus 2026 | 03:06:32 WIB
Ilustrasi Aktivitas penambangan oleh kontraktor tambang PT Darma Henwa Tbk.

JAKARTA — Sejumlah emiten di bawah naungan Grup Bakrie menyongsong pendorong kinerja yang bervariasi pada paruh kedua 2026. BUMI dan ENRG tetap berdiri sebagai penopang utama, DEWA meraup keuntungan dari sektor tambang, sedangkan VKTR berpotensi menjadi motor pertumbuhan baru.

Dinamika proyeksi ini tidak terlepas dari karakteristik operasional tiap entitas serta dinamika sektor yang digeluti. Realisasi kinerja pada semester I/2026 menjadi pijakan awal untuk memetakan arah ekspansi bisnis Grup Bakrie di paruh berikutnya.

Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang mengungkapkan bahwa secara fundamental, ENRG dan BUMI masih menjadi tumpuan utama, DEWA menjadi beneficiary dari aktivitas pertambangan, sementara VKTR hadir sebagai kandidat mesin pertumbuhan baru yang menjanjikan untuk jangka menengah.

“BRMS memiliki potensi upside terbesar apabila pemulihan produksinya berjalan sesuai target,” kata Edwin, Selasa (18/8/2026).

Ia menjelaskan bahwa profil kondisi keuangan tiap perusahaan kini kian berjarak, sehingga investor disarankan berpatokan pada arus kas, volume hasil produksi, marjin, tingkat utang, serta katalis operasional masing-masing, ketimbang sekadar melihat nama besar kelompok usaha.

“Untuk saya pribadi, ENRG–BUMI merupakan kombinasi paling kuat untuk fundamental saat ini, sedangkan VKTR merupakan cerita pertumbuhan yang paling menarik untuk horizon lebih panjang,” ucapnya.

BUMI dan ENRG mencatatkan kenaikan omzet serta laba bersih pada paruh pertama 2026. Laporan keuangan menunjukkan pendapatan BUMI mencapai US$866,75 juta, melonjak 27,85 persen secara tahunan, yang mendorong laba bersihnya meroket 188,4 persen menjadi US$58,85 juta.

Pada periode yang sama, ENRG mengantongi pendapatan sebesar US$283,37 juta atau naik 18,51 persen. Capaian tersebut mengerek perolehan laba bersih perusahaan sebesar 26,62 persen hingga menyentuh angka US$45,23 juta.

Edwin menilai posisi BUMI dan ENRG tetap kokoh karena keduanya memiliki keterpaparan langsung pada sektor sumber daya alam yang menjadi pilar bisnis utama Grup Bakrie.

Ia menambahkan bahwa grup usaha ini tidak lagi sekadar berfokus pada komoditas mentah. Portofolionya telah bergeser menuju integrasi tambang, migas, infrastruktur, kendaraan listrik, hingga teknologi industri, meski konsistensi eksekusinya tetap perlu dipantau.

Di sisi lain, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) turut menikmati sentimen positif dari maraknya aktivitas ekstraksi tambang. Sepanjang semester I/2026, pendapatan DEWA naik 3,13 persen menjadi Rp3,21 triliun, sementara laba bersihnya melesat 89,01 persen mencapai Rp354,28 miliar.

Torehan tersebut memperlihatkan laju lonjakan laba bersih DEWA yang jauh melampaui pertumbuhan omzetnya. Edwin menempatkan DEWA sebagai pihak yang memetik keuntungan langsung dari eskalasi operasional tambang.

Kelanjutan aktivitas pertambangan serta efisiensi dalam mempertahankan marjin keuntungan bakal menjadi faktor penentu realisasi kinerja DEWA pada semester II/2026.

Sementara itu, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) menyajikan daya tarik yang berbeda dari entitas berbasis komoditas. Edwin menyebut VKTR sebagai calon mesin pertumbuhan baru yang paling prospektif untuk jangka menengah.

Pandangan ini didorong oleh pertumbuhan omzet perseroan yang melesat 56,18 persen menjadi Rp646,62 miliar pada paruh pertama 2026. Namun, lonjakan pendapatan ini belum berbanding lurus dengan profitabilitasnya.

Laba bersih VKTR tercatat terkoreksi 76,23 persen menjadi Rp1,13 miliar, yang menunjukkan bahwa aspek efisiensi biaya masih menjadi tantangan utama, meskipun lini bisnis kendaraan listrik milik perusahaan memiliki potensi jangka panjang yang besar.

Adapun PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) menghadapi tantangan penurunan kinerja pada semester I/2026, di mana pendapatan terkoreksi 20,73 persen menjadi US$95,79 juta dan laba bersih turun 43,74 persen menjadi US$12,92 juta.

Kendati tertekan, BRMS dinilai menyimpan potensi pemulihan paling tinggi apabila target peningkatkan volume produksi pada paruh kedua dapat terealisasi sesuai rencana.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menambahkan bahwa pergerakan saham emiten komoditas seperti BUMI dan BRMS bakal sangat bergantung pada dinamika harga komoditas global, arus modal asing, serta kelancaran likuiditas pasar.

“Secara umum, saya melihat prospek Grup Bakrie masih positif dengan catatan perbaikan kinerja operasional dan neraca dapat terus berlanjut,” kata Elandry.

Ia mengingatkan para pemodal untuk tetap selektif mengingat tiap emiten memiliki profil risiko serta fokus bisnis yang berbeda. Arah pergerakan saham Grup Bakrie pada semester II/2026 tidak lagi seragam, melainkan bergerak sesuai dengan katalis di sektornya masing-masing.

Terkini