Sering Dikira Pemalas Kebiasaan Ini Justru Ciri EQ Tinggi Seseorang

Rabu, 19 Agustus 2026 | 03:54:31 WIB
Ilustrasi Kecerdasan Emosional.

JAKARTA — Di tengah ekosistem dunia kerja yang menuntut efisiensi tinggi, seseorang kerap dinilai murni berdasarkan tingkat kesibukannya. Mereka yang tidak memamerkan aktivitas padat berisiko diberi label pemalas, dinilai kurang berambisi, atau dianggap tidak produktif.

Padahal, tidak semua gesture yang terkesan santai secara otomatis menandakan kemalasan. Kebiasaan tersebut justru dapat menjadi indikator dari kecerdasan emosional (EQ) yang tinggi. Di tengah tekanan hustle culture yang memaksa kami untuk terus bergerak, pemilik EQ tinggi memilih pendekatan yang lebih seimbang.

"Tidak semua yang tampak seperti kemalasan itu kurang motivasi. Terkadang orang melindungi waktu, energi, atau kesehatan mental mereka dengan menetapkan batasan yang sehat," kata psikolog dan terapis hubungan Mindy DeSeta, seperti dilansir Parade.

Dapat dipahami bahwa perilaku yang sekilas tampak pasif tidak selalu membawa dampak buruk. Berikut adalah tujuh kebiasaan yang kerap disalahartikan padahal mencerminkan kecerdasan emosional yang matang.

Pertama, konsisten mengambil waktu istirahat di tengah jam kerja. Mengalokasikan jeda singkat untuk sekadar beranjak dari meja kerja merupakan langkah taktis untuk memulihkan fokus harian.

"Pada kenyataannya, istirahat singkat membantu orang untuk menyegarkan diri, tetap fokus, dan membuat keputusan yang lebih baik ketimbang bekerja hingga kelelahan mental," ujar DeSeta.

Kedua, membiasakan diri untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Keputusan untuk segera meninggalkan kantor seusai jam kerja menandakan pemahaman bahwa dinamika kehidupan tidak sebatas persoalan profesi semata.

Ketiga, berani dan tidak segan untuk menolak permintaan secara tegas. Langkah menetapkan batasan ini diambil agar kualitas hasil kerja tetap terjaga tanpa memaksakan kapasitas diri.

"Orang yang cerdas secara emosional mengetahui batasan mereka dan memahami bahwa melakukan beberapa hal dengan baik sering kali lebih berharga ketimbang melakukan banyak hal dengan buruk," tutur DeSeta.

Keempat, menunda untuk segera membalas pesan masuk. Kebiasaan menjaga jarak dari desakan komunikasi tanpa henti ini mencerminkan kemampuan pengelolaan waktu dan ruang pribadi yang sehat.

Kelima, sengaja meluangkan waktu tanpa distraksi. Pola ini membantu mengasah kesadaran diri serta memberikan ruang untuk mencerna pengalaman hidup secara lebih jernih dan tenang.

"Tujuannya adalah untuk meningkatkan perhatian Anda terhadap rangsangan yang tepat," kata asisten profesor psikiatri di Harvard Medical School, Ashwini Nadkarni, seperti dilansir Real Simple.

Keenam, mengambil jeda sebelum memberikan respons. Tindakan menarik napas sejenak sebelum menanggapi sesuatu membantu seseorang agar tidak mudah dikuasai oleh dorongan emosi sesaat.

Ketujuh, tidak ragu meminta bantuan saat membutuhkan. Keberanian untuk berkolaborasi mencerminkan kerendahan hati, kesadaran atas kapasitas diri, serta keahlian membangun relasi yang solid.

Terkini