Perpres Ojol Segera Terbit, Profitabilitas GOTO Uji Strategi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:28:31 WIB
Pengemudi ojek online (ojol) [FOTO: NET].

JAKARTA — Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) yang bakal menaungi operasional angkutan berbasis aplikasi atau ojek online (ojol) diprediksi berimbas terhadap capaian kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO). Pihak pemerintah bersama DPR dikonfirmasi telah menuntaskan tahap finalisasi atas perancangan regulasi tersebut.

Dalam pembagiannya, Perpres Ojol untuk angkutan penumpang bakal dikelola oleh Kementerian Perhubungan, sementara tarif pengiriman barang dan makanan diatur oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengutarakan bahwa penyelesaian Perpres tersebut melibatkan beberapa kementerian terkait, seperti Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Perhubungan, serta Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

"Tarif barang dan makanan diatur oleh Komdigi, tarif angkutan orang oleh Kementerian Perhubungan, sedangkan pelaku transportasi daring ini akan diampu oleh Kementerian UMKM," kata Dasco, Selasa (18/8/2026).

Dasco turut menambahkan bahwa pihaknya masih akan menggelar satu sesi diskusi bersama kementerian terkait, diikuti satu pertemuan lanjutan bersama himpunan pengemudi ojek daring serta entitas perusahaan aplikator sebelum Perpres resmi diundangkan.

"Kami minta semua pihak bersabar. Mari kami tunggu Perpres-nya, mudah-mudahan semuanya bisa berjalan dengan baik," ujarnya.

Bagi GOTO, kepastian penerbitan Perpres ini menjadi titik krusial lantaran perseroan sedang berupaya menjaga profitabilitas pada lini transportasi roda dua GoRide.

Sebelumnya, Direktur Utama GOTO Hans Patuwo memaparkan bahwa perseroan bakal mengkaji sejumlah skema guna membenahi unit economics bisnis transportasi roda dua GoRide seusai diterapkannya kebijakan batas potongan 8%.

Ia menyampaikan bahwa unit economics GoRide saat ini masih di zona minus pascapenerapan aturan tersebut. Kendati demikian, Hans menilai pelaksanaan kebijakan sejauh ini berjalan tanpa hambatan dengan jumlah pengguna, mitra pengemudi, serta volume transaksi yang stabil.

Hans terdahulu berpandangan cukup riskan bagi perseroan untuk berspekulasi mengenai poin-poin yang nantinya tertera dalam dokumen final Perpres tersebut.

“Kami sedang berdiskusi dengan berbagai pihak di pemerintah dan sejumlah kementerian, dan tentunya kami berharap cakupannya tetap terbatas pada produk transportasi roda dua,” kata Hans dalam earning calls GOTO beberapa waktu lalu.

Hans juga membeberkan bahwa tingkat margin bisnis transportasi roda dua GoRide milik perseroan memang mengalami penurunan pada fase awal ini.

“Unit economics kami saat ini masih negatif dan kami masih menunggu situasi menjadi lebih stabil. Ke depannya, kami akan melakukan berbagai penyesuaian untuk meningkatkan unit economics,” ujar Hans.

Ia melanjutkan bahwa GOTO mengantongi beragam opsi instrumen yang dapat difungsikan untuk kebutuhan tersebut, misalnya penyesuaian harga serta instrumen pendukung seperti biaya platform, waktu skema tarif, dan aspek lainnya. GOTO selanjutnya bakal mengevaluasi bermacam jalan untuk menggenjot unit economics GoRide, termasuk menjajaki potensi efisiensi beban biaya di seluruh lini On Demand Service (ODS).

Risiko Profitabilitas Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menerangkan bahwa penetapan tarif layanan pesan-antar makanan dan barang berada di bawah wewenang Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), berbeda dari tarif angkutan penumpang yang berada di bawah kendali Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Maka dari itu, lanjutnya, skema pembagian 92:8 yang berlaku pada sektor transportasi penumpang belum tentu diimplementasikan secara identik pada GoFood maupun GoSend.

“Tarif barang dan makanan diatur Komdigi, berbeda dengan Kemenhub yang mengatur tarif penumpang. Jadi, skema 92:8 belum tentu diterapkan sama ke GoFood dan GoSend,” kata Wafi, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, seandainya pemerintah kelak menerapkan batasan potongan 8% secara seragam (flat) untuk sektor makanan dan pengiriman paket, dampaknya terhadap GOTO bakal terasa lebih signifikan. Wafi menilai pemangkasan komisi pada layanan food delivery dan kurir berpotensi mendatangkan risiko tekanan bagi profitabilitas GOTO dalam dua kuartal berturut-turut.

“Kalau komisi food dan delivery dibatasi, GOTO menghadapi pilihan untuk menyerap tekanan margin atau menaikkan biaya kepada merchant maupun konsumen yang berpotensi menekan volume,” ujarnya.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengutarakan situasi saat ini berbeda dibanding masa lalu ketika GOTO memiliki keleluasaan menetapkan tarif berlandaskan dinamika penawaran dan permintaan.

“Karena GOTO sebelumnya dapat menentukan tarif berdasarkan supply and demand. Hal ini mungkin akan menyulitkan GOTO untuk mendapatkan kesempatan margin yang lebih besar ke depannya,” ucap Nico, Rabu (19/8/2026).

Menurut Nico, efek aturan tersebut pada profitabilitas GOTO masih perlu mencermati bagaimana formula harga dan mekanisme pembatasan komisi diterapkan nantinya. Ia menilai penurunan komisi dari kisaran 20% menjadi 8% tidak secara otomatis menggambarkan skala tekanan yang bakal ditanggung GOTO. 

Pasalnya, berdasarkan masukan para pengemudi, pergeseran komisi bukan satu-satunya faktor tunggal yang menentukan pendapatan mereka karena masih ada sederet beban biaya lain yang harus ditanggung.

Nico menambahkan, bilamana GOTO tetap mampu mempertahankan tingkat pendapatan secara utuh meskipun terjadi perubahan skema potongan, tekanan terhadap profitabilitas dapat lebih terkontrol.

Di sisi lain, Nico menganggap prospek GOTO tidak melulu bertumpu pada lini transportasi dan pengantaran makanan. Perseroan ditopang ekosistem yang lebih luas serta diversifikasi portofolio yang dapat menjadi penyangga kinerja ketika salah satu lini dihadapkan pada hambatan regulasi.

Ia menyebutkan tren pertumbuhan finansial GOTO lewat GoPay terus menunjukkan grafik peningkatan, terlihat dari kenaikan nilai transaksi secara keseluruhan. Menurutnya, pertumbuhan ini mengindikasikan bahwa ekosistem GOTO di luar segmen ODS terus bertumbuh dan memberi sumbangsih nyata pada kinerja perseroan.

“GOTO tidak hanya mengandalkan dua lini bisnis saja saat ini. Mereka mengandalkan ekosistem GOTO yang mereka miliki. Selain itu, mereka juga memiliki diversifikasi bisnis yang kuat yang dapat membantu menjaga kinerja GOTO,” tuturnya.

Terkini