Mengurai Nutrisi Garam Himalaya dan Garam Laut untuk Kesehatan

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:16:31 WIB
Petani mengolah garam beryodium [FOTO: NET].

JAKARTA - Garam Himalaya dan garam laut (sea salt) pada dasarnya sama-sama menyimpan ragam mineral alami, namun selisih kadarnya dianggap tidak membawa pengaruh signifikan bagi kondisi kesehatan.

Merujuk ulasan laman Health pada Kamis, kedua varian garam tersebut komponen utamanya disusun oleh natrium dan klorida. Keduanya juga mengandung sekelumit magnesium, kalium, kalsium, tembaga, mangan, serta zat besi.

Akan tetapi, takaran mineral tersebut terlampau minim untuk menghadirkan faedah berarti dalam batas aman konsumsi garam harian. Takaran satu sendok teh garam saja sudah menyimpan kadar natrium yang mendekati atau bahkan melampaui ambang ideal 1.500 miligram per hari, terutamanya bagi penderita hipertensi.

Garam Himalaya diekstrak dari area tambang garam bawah tanah, sedangkan garam laut diproduksi dari air laut melalui teknik penguapan memanfaatkan angin dan paparan sinar matahari.

Kedua jenis garam ini tergolong minim pemrosesan. Garam Himalaya umumnya bercorak merah muda lantaran dipengaruhi kandungan oksida besi, sementara garam laut lazimnya berwarna putih atau agak abu-abu akibat efek mineral di dalamnya.

Walaupun sering dipercaya lebih menyehatkan disbanding garam dapur biasa, garam Himalaya maupun garam laut tetap menyimpan natrium dalam konsentrasi tinggi. Variasi kadar natrium di antara keduanya tergolong tipis sehingga tidak menawarkan keunggulan kesehatan yang substansial.

Masyarakat juga patut mewaspadai risiko pencemaran. Garam Himalaya berpotensi mengandung jejak logam seperti aluminium, barium, silikon, hingga indikasi timbal. Di lain sisi, garam laut berisiko terpapar mikroplastik akibat dampak polusi di ekosistem laut.

Di samping itu, kedua varian garam ini bukanlah pemasok yodium yang adekuat. Garam dapur pada umumnya telah difortifikasi dengan yodium demi mengantisipasi defisiensi yodium yang dapat memicu gangguan fungsi kelenjar tiroid.

Asupan yodium sendiri sejatinya bisa diperoleh lewat makanan lain seperti komoditas ikan, rumput laut, dan telur.

Atas dasar itu, penentuan antara garam Himalaya atau garam laut sejatinya lebih didasarkan pada selera rasa dan kebutuhan olahan masakan, bukan atas dasar asumsi bahwa salah satunya jauh lebih menyehatkan. Hal yang paling krusial adalah menjaga agar batas konsumsi garam harian tetap terkontrol.

Terkini