Wamenkomdigi: Ilmu Filsafat Makin Relevan dalam Perkembangan AI

Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:54:02 WIB
Wamenkomdigi, Nezar Patria. [Foto: RRI]

JAKARTA - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menganggap ilmu filsafat bakal kian esensial di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI), hingga memicu banyak perusahaan teknologi tingkat dunia mulai berburu para pakar filsafat.

Disiplin filsafat dipandang semakin krusial lantaran kepiawaian AI dalam mengolah data, membuat kalkulasi prediksi, serta menetapkan keputusan mesti diimbangi oleh kapasitas manusia dalam menguji nilai, tujuan, dan dampak atas keputusan itu.

“Sebentar lagi lulusan filsafat akan dibayar mahal karena semua pengambilan keputusan yang dibuat oleh artificial intelligence akan punya dimensi-dimensi etik yang membutuhkan pertimbangan-pertimbangan dari mereka yang belajar filsafat,” kata Nezar di Jakarta, Jumat (21/8/2026).

AI memang sanggup menjabarkan beragam pemikiran filsafat, namun kebolehan itu berbeda dibanding proses refleksi filosofis manusia yang berlangsung secara menyeluruh serta kritis.

“Filsafat adalah satu hal yang mungkin agak sulit dikuasai oleh AI. AI bisa menjelaskan filsafat, tapi, belum bisa melakukan apa yang kami kenal sebagai berfilsafat,” kata Nezar.

Berdasarkan penuturan Nezar, AI saat ini tidak sekadar berfungsi sebagai alat teknis, melainkan sudah dimanfaatkan secara masif pada sektor ekonomi, medis, pendidikan, pertambangan, agrikultur, hingga interaksi sosial. Lompatan teknologi tersebut menyebabkan tiap keputusan berbasis AI membawa dimensi etis yang wajib dipertimbangkan.

Dirinya pun mewanti-wanti potensi munculnya dampak tak terduga yang tidak diinginkan, khususnya saat sistem AI mulai mahir menjalankan proses profiling dan menenun relasi sintetis dengan manusia.

“Perkembangan Artificial Intelligence ini betul-betul memunculkan apa yang kami sebut unintended consequences, konsekuensi yang tidak kami inginkan atau tidak kami duga,” ujar Nezar.

Ia menilai tantangan etika AI bakal makin rumit seiring evolusi teknologi menuju wujud AI berfisik, contohnya robot humanoid yang sanggup berinteraksi secara langsung bersama manusia.

Bermodalkan sokongan large language model, robot mampu melangsungkan percakapan, mengenali lawan bicara, memetakan profiling, sampai menjalin keterikatan yang diistilahkan sebagai synthetic relations.

“Orang merasa bahwa dia lebih bisa percaya sama mesin ketimbang dengan manusia,” kata Nezar.

Menurut pandangan Nezar, dinamika perkembangan tersebut membuktikan bahwa diskusi seputar AI tidak cukup bila sekadar meneropong keunggulan teknisnya semata. 

Manusia wajib terus mengasah daya pikir kritis dan reflektif demi menentukan batasan pemanfaatan AI serta muara pengembangannya di masa depan.

“Ini menjadi renungan, menjadi refleksi yang sangat baik untuk kami semua yang pernah kuliah di filsafat,” kata Nezar.

Terkini