Saat Pasangan Lebih Unggul Begini Cara Mengubah Minder Jadi Motivasi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 20:53:02 WIB
Ilustrasi Seseorang Minder.

JAKARTA - Sewaktu pasangan meraih promosi posisi lebih cepat, mengantongi penghasilan lebih tinggi, atau tampak lebih mahir pada bidang tertentu, perasaan bangga terkadang berkelindan dengan rasa minder. Tanpa disadari, keberhasilan pasangan justru kerap dijadikan barometer untuk mengukur kualitas diri sendiri.

Sikap emosional tersebut sejatinya bukan hal yang tabu. Dalam lingkar hubungan dekat, pasangan memang berpotensi menjadi salah satu figur yang paling sering dijadikan bahan komparasi.

Akan tetapi, membandingkan diri dengan pasangan tidak serta-merta mengindikasikan bahwa ikatan asmara sedang bermasalah atau seseorang mengidap tingkat krisis kepercayaan diri yang kronis.

Melansir Greater Good, riset dari asisten profesor psikologi di University of San Francisco, Zachary Reese, Ph.D., mengonfirmasi bahwa aktivitas membandingkan diri dengan pasangan sejatinya mengusung fungsi yang amat beragam.

Proses komparasi ini bahkan berdaya guna membantu seseorang memahami potensi diri, mengenal karakter pasangan, hingga memetakan arah hubungan yang tengah dilakoni.

Reese memaparkan bahwa seseorang secara rata-rata membandingkan kapasitas dirinya dengan pasangan hingga beberapa kali dalam kurun satu hari. Pembandingan tersebut dapat menyasar aspek kemampuan akademis-praktis maupun sudut pandang yang dianut.

Sebagai contoh, seseorang mungkin mengamati bahwa pasangannya jauh lebih cermat mengelola finansial, lihai memasak, mahir berkomunikasi, atau cekatan menuntaskan pekerjaan. Berangkat dari pengamatan tersebut, terbitlah pertanyaan reflektif apakah dirinya telah mengeksekusi hal serupa dengan cukup baik.

Reese menegaskan bahwa dinamika perbandingan tersebut tidak senantiasa mendatangkan dampak destruktif.

“Perbandingan dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan bahkan membuat pasangan semakin dekat,” jelasnya.

Berdasarkan studi ilmiah yang dilangsungkan Reese bersama Robin Edelstein dan Stephen Garcia terhadap lebih dari 1.100 responden dewasa berstatus pasangan romantis di Amerika Serikat, kecenderungan mengukur kemampuan dengan pasangan lebih dominan ditemukan pada kelompok usia muda, pemilik harga diri rendah, serta mereka yang berada dalam relasi baru atau kurang memuaskan.

Secara tersirat, letupan rasa minder yang hadir sewaktu pasangan berada di atas dapat dijadikan alarm untuk meninjau kembali cara seseorang menilai harga dirinya.

Aktivitas perbandingan tidak selalu meletup akibat seseorang menganggap dirinya kalah telak. Dalam ikatan komitmen yang telah berjalan lama serta harmonis, Reese menemukan wujud komparasi lain yang bertumpu pada penyelarasan pendapat atau pertimbangan.

Misalnya, ketika bermaksud membeli suatu barang, seseorang bakal menimbang apakah pasangannya turut memandang barang tersebut layak untuk dibeli.

Pola serupa kerap berlaku sewaktu pasangan merumuskan keputusan terkait pengasuhan anak maupun penataan urusan rumah tangga. Dalam kondisi ini, pasangan tak lagi diposisikan sebagai standar persaingan untuk menentukan siapa yang paling dominan.

Pandangan pasangan justru difungsikan sebagai referensi tambahan sebelum menetapkan keputusan akhir.

Reese mengibaratkan bahwa individu dalam jalinan hubungan jangka panjang mampu memandang khazanah pengetahuan serta keahlian pasangannya sebagai aset yang sanggup dimanfaatkan untuk tumbuh bersama.

Bahkan dalam laporan risetnya, terdapat partisipan yang mengekspresikan bahwa fakta pasangannya unggul dalam banyak hal justru menjadi pemacu semangat yang mendorong dirinya untuk melesat maju.

Oleh sebab itu, tatkala pasangan menguasai keahlian yang lebih mumpuni pada suatu bidang, rasa minder tidak sepatutnya dijadikan satu-satunya reaksi emosional.

Pencapaian pasangan dapat dipandang sebagai kompas informasi mengenai ranah keahlian apa yang ingin dipelajari atau dikembangkan dalam kepribadian diri.

Komparasi dengan pasangan turut dapat membantu seseorang melakukan evaluasi berkala terhadap progres pertumbuhan dirinya.

Reese mencontohkan seseorang yang mengoperasikan keahlian pasangannya sebagai tolok ukur objektif guna memantau pencapaian target-target pribadi.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang tengah mengikuti kursus kuliner dapat mengukur sejauh mana keterampilan memasaknya berkembang dengan membandingkan racikan masakan bersama pasangan. Kendati demikian, muaranya bukan untuk memperebutkan siapa yang paling unggul.

“Perbandingan dengan pasangan membantu kami memahami diri sendiri dan pasangan,” ungkap Reese.

Menurutnya, komparasi juga efektif membantu pasangan mengevaluasi dinamika hubungan serta menyesuaikan pola perilaku, termasuk dalam pembagian porsi tanggung jawab rumah tangga secara adil.

Pada akhirnya, pasangan memang dapat memantulkan bayangan bak cermin untuk menatap kualitas diri sendiri. Namun, cermin tersebut tak perlu dipakai semata-mata untuk memburu celah kekurangan.

Reese menggarisbawahi bahwa tindakan membandingkan diri dengan pasangan tidak secara otomatis menandakan adanya keretakan dalam ikatan asmara.

Komparasi dapat menjadi instrumen positif untuk memahami dinamika sosial, bersyarat tidak sampai menggerus harga diri maupun merusak keharmonisan hubungan.

Maka dari itu, tatkala pasangan tampil lebih unggul dalam suatu hal, tidak perlu terburu-buru mengutuki diri merasa tertinggal. Alih-alih menjadikan prestasi pasangan sebagai beban penilaian harga diri, manfaatkanlah perbandingan tersebut untuk mencermati apa yang bisa dipelajari, dikembangkan, atau disyukuri dari dalam diri sendiri.

Terkini