ENERGINEWS.ID — Pemerintah tengah berkejaran dengan waktu untuk mengejar bauran energi terbarukan. Dari potensi raksasa 3.687 gigawatt (GW) yang tersebar di seluruh negeri, baru sekitar 16,278 GW yang termanfaatkan. Artinya, kurang dari 0,5 persen potensi hijau yang sudah dieksekusi menjadi listrik.
Potensi terbesar sebenarnya ada di energi surya yang mencapai 3.294 GW. Disusul angin 155 GW, tenaga air 95 GW, energi laut 63 GW, bioenergi 57 GW, dan panas bumi 24 GW.
Mengapa Percepatan EBT Mendadak Krusial?
Wakil Menteri ESDM, Yuliot, mengakui tantangan optimasi energi bersih ini tidak kecil. Ia menyebut percepatan EBT menjadi kunci untuk menekan impor bahan bakar fosil yang menggerus anggaran negara.
"Langkah percepatan EBT serta penerapan program mandatori B50 sejak 1 Juli 2026 menjadi krusial untuk menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, mengurangi beban fiskal APBN dari subsidi energi, serta mengantisipasi dampak gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik global," ujar Yuliot dalam forum Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW), Senin (24/8/2026).
Subsidi energi selama ini menjadi beban berat APBN. Dengan memperbanyak porsi EBT, pemerintah berharap pengeluaran untuk impor minyak dan batu bara bisa ditekan, sekaligus menjaga pasokan listrik nasional tetap stabil di tengah gejolak harga komoditas dunia.
Jerman Suntik Dana 2,3 Miliar Euro untuk Jaringan Listrik
Untuk mengejar target yang ambisius ini, pemerintah tidak berjalan sendiri. Kemitraan dengan Jerman diperkuat, khususnya untuk investasi pembangkit terbarukan dan modernisasi jaringan listrik atau smart grid.
Kerja sama energi Indonesia-Jerman tercatat telah menghimpun komitmen dukungan kumulatif lebih dari 2,3 miliar euro. Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, Reem Alabali Radovan, menyatakan kesiapan negaranya untuk mendorong partisipasi swasta dalam pengembangan infrastruktur energi terbarukan di Indonesia.
"Dalam beberapa tahun mendatang, kami ingin memperluas kerja sama ekonomi dengan Indonesia secara terarah dan memperkuat investasi swasta, khususnya dalam energi terbarukan dan perluasan jaringan listrik," kata Radovan.
Modernisasi jaringan listrik menjadi isu penting. Pasalnya, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang potensinya melimpah di Indonesia timur kerap terkendala infrastruktur transmisi yang belum memadai untuk menyalurkan listrik ke pusat industri di Jawa.
Dengan suntikan dana dan teknologi dari Jerman, pemerintah optimistis target bauran EBT 21 persen pada 2026 dapat tercapai. Namun, pekerjaan rumah masih panjang: dari perizinan yang rumit hingga harga jual listrik EBT yang harus kompetitif bagi investor.