Respons Karhutla, Kemenkes Siapkan Surat Edaran Pembelajaran PJJ

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:38:31 WIB
Petugas Manggala Agni Daops Bukit Tempurung memadamkan karhutla di lahan gambut Desa Pandan Sejahtera, Tanjung Jabung Timur, Jambi [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kesehatan tengah mematangkan rancangan surat edaran yang mengatur tentang pembatasan kegiatan luar ruangan, salah satunya melalui opsi penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ), manakala kondisi kualitas udara mengalami penurunan drastis sebagai langkah tanggap darurat atas maraknya bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes dr. Then Suyanti, saat ditemui di Jakarta pada hari Rabu, mengemukakan bahwa pihaknya telah membangun koordinasi lintas instansi bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Agama demi mendorong efektivitas pemberlakuan metode PJJ tersebut.

"Jadi memang surat edaran sedang kami siapkan, mungkin dalam dua hari ini kami akan terbit surat edaran tersebut dari sekjen," katanya.

Ia menegaskan bahwa kebijakan preventif ini sengaja dirumuskan guna memberikan perlindungan maksimal bagi kelompok masyarakat yang masuk dalam kategori rentan terhadap paparan polusi asap karhutla.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa instruksi serupa sejatinya telah tertuang melalui edaran resmi dari Menteri Lingkungan Hidup yang ditujukan kepada para kepala daerah tingkat gubernur, wali kota, maupun bupati agar senantiasa waspada memantau dinamika indeks kualitas udara.

"Disarankan untuk, sama ya, bahwa untuk sekolah diharapkan tidak perlu tatap muka dengan kondisi ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) yang meningkat," katanya.

Berdasarkan rekaman data per tanggal 22 Agustus, tingkat intensitas kejadian karhutla paling parah terdeteksi melanda wilayah Riau, Jambi, Sumatra Selatan, serta sejumlah kawasan regional lainnya.

"Berdasarkan tadi jam lima pagi data ISPU yang kami pantau dari 17 stasiun, yang saat ini kondisi yang berbahaya ada di Kabupaten Muaro Jambi, dengan nilai ISPU-nya 302, kemudian di Palangkaraya, Jekan Raya, di Kalimantan Tengah dengan 573. Ini berbahaya," katanya.

Sebagai acuan perbandingan, ia menjelaskan bahwa rentang skor 0 sampai 50 merepresentasikan tingkat kualitas udara yang sehat, sementara angka kisaran 201 hingga 300 mengindikasikan status kualitas udara yang berada pada level sangat tidak sehat serta berpotensi mendongkrak risiko gangguan kesehatan secara signifikan.

"Adanya PM 2,5 yang tinggi, tingkat pajanannya sangat luas, karena di mana-mana udara itu ada tidak ada batasan, dan kelompok rentan menjadi perhatian kami sama-sama karena gampang terkena penyakit, dan ini perlunya respons cepat kami semua," katanya.

Ia menggarisbawahi bahwa tingkat ancaman risiko kesehatan tidak semata-mata dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi partikel polutan saja, melainkan turut ditentukan oleh faktor durasi waktu paparan serta tingkat kerentanan fisik masing-masing individu.

Beragam spektrum penyakit berpotensi timbul akibat paparan asap tersebut, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi pada indra penglihatan dan kulit, hingga peningkatan risiko klinis terhadap penyakit jantung serta stroke mematikan.

Menanggapi situasi tersebut, Then memaparkan serangkaian langkah preventif guna meredam dampak buruk kesehatan akibat karhutla, yang mencakup kegiatan edukasi publik agar meminimalisasi aktivitas di luar gedung serta disiplin mengenakan masker, memantau fluktuasi kualitas udara secara berkala, serta membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat.

Di samping itu, langkah antisipatif turut difokuskan pada upaya menjamin ketersediaan stok obat-obatan beserta kesiapan fasilitas pelayanan medis, di samping menggencarkan program pemantauan serta pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Terkini