Atasi Krisis Air, Presiden Prabowo Instruksikan Pembuatan Desalinasi

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:30:02 WIB
Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung rapat koordinasi penanganan dampak gempa Flores di Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) [FOTO: NET].

JAKARTA - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memberikan instruksi khusus kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) agar berkolaborasi bersama pihak Universitas Pertahanan (Unhan), jajaran TNI, serta fakultas-fakultas teknik guna merancang teknologi desalinasi yang ditujukan bagi wilayah-wilayah yang mengalami krisis kekurangan pasokan air.

"Saya minta BRIN, BRIN mungkin dengan Unhan, TNI dan fakultas-fakultas teknik, saya minta teknologi desalinasi untuk yang kami mampu bangun sendiri segera dikirim ke daerah-daerah yang sangat membutuhkan," kata Prabowo, saat rapat penanganan bencana gempa di Nakegeo, NTT, Rabu (26/8/2026), dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden.

Lebih lanjut, Prabowo turut menekankan pentingnya penyediaan akses air bersih yang merata, khususnya bagi wilayah Pulau Palue beserta kawasan-kawasan pesisir lain yang amat memerlukan bantuan tersebut.

"Tadi terutama Pulau Palue segera dikirim ke pulau-pulau tersebut atau ke daerah-daerah yang membutuhkan di pantai-pantai," ucap dia.

Di dalam momentum kegiatan rapat koordinasi tersebut, Prabowo juga menerima pemaparan laporan langsung dari pimpinan kepala daerah setempat perihal progres pengerjaan proyek pembangunan bendungan di Nagekeo yang dijadwalkan rampung dalam beberapa bulan ke depan.

Menanggapi laporan itu, Prabowo menyatakan komitmen penuh untuk memberikan dukungan terhadap proyek pembangunan bendungan tersebut.

Bahkan, Kepala Negara berencana untuk mengintegrasikannya dengan program pengembangan sektor budi daya perikanan serta pertanian modern di wilayah Nagekeo.

"Baik, kalau asal irigasinya sudah siap, ya, kami dukung proyek ini. 8.000 hektar ya? 8.000 hektar, mungkin yang 100 hektar dekat pantai kami bikin budi daya ikan. Dan yang pantai kami juga bikin budi daya ikan juga. Ada yang langsung di pantai, ada yang masuk sedikit ke pantai, enggak apa-apa. 100 hektar itu cukup besar untuk budi daya ikan, ya. Untuk 8.000 hektar untuk pertanian," ucap dia.

Terkini