Konsumsi Semen Naik, SMGR dan INTP Catat Pertumbuhan Penjualan

Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:15:32 WIB
Karyawan SIG menyiapkan semen kantong yang siap kirim [FOTO: NET].

JAKARTA - Tingkat konsumsi semen di dalam negeri terpantau menunjukkan tren penguatan yang positif sepanjang kurun waktu tujuh bulan pertama tahun 2026. Permintaan pasar yang solid tersebut sekaligus mendatangkan angin segar bagi performa emiten produsen semen, yakni PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP).

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) membukukan total volume penjualan grup mencapai angka 21,5 juta ton selama tahun berjalan hingga bulan Juli 2026, yang menunjukkan kenaikan sebesar 5,1 persen secara tahunan (year on year/YoY). 

Realisasi tersebut merepresentasikan pencapaian setara 55,2 persen dari target proyeksi tahun penuh 2026 yang ditetapkan oleh Mirae Asset Sekuritas, serta masih berada dalam koridor kisaran run rate 53 persen hingga 56 persen.

Kendati demikian, pihak SMGR masih harus menghadapi tekanan persaingan pada pangsa pasar domestik. Sepanjang Juli 2026, pangsa pasar domestik perseroan mengalami koreksi turun ke level 45,1 persen, yang sekaligus mencatatkan posisi titik terendah dalam kurun waktu setidaknya 60 bulan terakhir. Adapun volume penjualan domestik SMGR selama periode 7 bulan 2026 menyentuh angka 17 juta ton, tumbuh sebesar 7,8 persen secara tahunan.

Di sisi lain, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) berhasil meraup volume penjualan sebesar 10,3 juta ton sepanjang tujuh bulan pertama 2026, yang bertumbuh 6,4 persen secara tahunan. Capaian tersebut setara dengan 53,3 persen dari estimasi proyeksi tahun penuh 2026 dan masih menempati rentang run rate wajar di kisaran 52 persen sampai 54 persen.

INTP juga mencatatkan sinyal pemulihan pangsa pasar domestik yang positif pada Juli 2026. Volume penjualan bulanan perseroan menembus angka 1,9 juta ton, atau melesat 18,6 persen secara bulanan (month-to-month/MtM) serta bertambah 13,2 persen secara tahunan. Porsi pangsa pasar INTP ikut terkerek naik menjadi 31,3 persen, mencatatkan peningkatan sebesar 2 poin persentase baik secara bulanan maupun tahunan.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andreas Saragih memaparkan bahwa tingkat konsumsi semen nasional secara agregat mencapai 36,1 juta ton selama periode 7 bulan pertama 2026, atau menanjak 9,5 persen apabila dikomparasikan dengan kurun waktu yang setara pada tahun lalu. Angka realisasi tersebut juga tercatat sedikit berada di atas tren pola historis lima tahunan serta memenuhi target 56,6 persen dari total proyeksi Mirae Asset untuk setahun penuh 2026.

“Konsumsi semen domestik naik menjadi 6,1 juta ton pada Juli 2026, didukung cuaca kering, basis rendah tahun lalu, serta percepatan pekerjaan infrastruktur,” tulis Andreas dalam risetnya, Rabu (26/8/2026).

Meninjau khusus pada performa bulan Juli 2026 saja, volume konsumsi semen domestik membukukan angka 6,1 juta ton, yang bertumbuh sebesar 10,9 persen secara bulanan dan 5,9 persen secara tahunan. Peningkatan permintaan ini merata terjadi pada kategori produk semen kantong (bagged) maupun semen curah (bulk).

Pihak Mirae Asset menilai bahwa akselerasi penguatan tersebut mencerminkan kondisi cuaca yang cenderung lebih kering, faktor basis perbandingan yang rendah pada tahun sebelumnya, serta adanya percepatan progres pengerjaan proyek-proyek infrastruktur.

Pertumbuhan tingkat konsumsi ini turut disokong oleh berbagai program strategis pemerintah, di antaranya pembangunan dapur SPPG, program KDKMP, pembangunan Sekolah Rakyat, proyek rekonstruksi wilayah Sumatra, serta inisiatif masif program pembangunan 3 juta rumah.

Menanggapi dinamika tersebut, Mirae Asset mempertahankan pandangan sikap Neutral terhadap sektor industri semen dengan menetapkan target harga saham yang tidak mengalami perubahan. Untuk emiten SMGR, Mirae Asset menyematkan rekomendasi beli (Buy) dengan target harga di level Rp2.750 per saham. Sementara itu, emiten INTP memperoleh rekomendasi Trading Buy dengan target harga senilai Rp6.500 per saham.

Khusus untuk INTP, rekomendasi tersebut merupakan hasil penyesuaian penurunan peringkat (downgrade) menjadi Trading Buy menyusul pergerakan harga sahamnya yang telah melesat menguat lebih dari 20 persen sejak publikasi laporan per 29 Juli 2026, sekaligus melampaui kinerja penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berada di kisaran 6 persen.

Secara historis musiman, Mirae Asset menilai bahwa kuartal III merupakan periode puncak terkuat bagi siklus konsumsi semen. Kendati demikian, terdapat sejumlah faktor risiko eksternal yang tetap wajib dicermati oleh para investor, mencakup potensi suku bunga acuan yang lebih tinggi, kebijakan rasionalisasi belanja anggaran pemerintah, tren pelemahan nilai tukar rupiah, tingginya harga energi, hingga risiko ancaman inflasi bahan pangan akibat dampak fenomena El Nino.

Di sisi lain, peluang katalis positif bagi emiten-emiten sektor semen ini bersumber dari potensi tingkat konsumsi yang melampaui ekspektasi, momentum pemulihan pangsa pasar dari para pemain lapis pertama, serta peluang ruang kenaikan harga jual produk.

Terkini