Arkora Hydro Resmi Kuasai Pengelola PLTS Batam-Bintan, Portofolio EBT Terkontrak Tembus 84,1 MW

Kamis, 27 Agustus 2026 | 00:32:00 WIB
yang tuntas pada 24 Agustus 2026 ini mendongkrak kapasitas pembangkit terkontrak perseroan menjadi 84,1 MW, sekaligus menandai diversifikasi bisnis dari sebelumnya yang hanya fokus pada tenaga air. ISI:

ENERGINEWS.ID — PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) resmi menguasai 100% saham PT Endorshine Energy Solutions (EES), perusahaan pengelola pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Batam dan Bintan, Kepulauan Riau. Akuisisi yang tuntas pada 24 Agustus 2026 ini mendongkrak kapasitas pembangkit terkontrak perseroan menjadi 84,1 MW.

Transaksi digelar melalui dua anak usaha ARKO, yakni PT Arkora Tenaga Matahari dan PT Arjuna Hidro. Dengan demikian, EES resmi menjadi anak usaha tidak langsung ARKO.

Kapasitas tersebut mencakup enam proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan total 62,8 MW dan dua proyek PLTS berkapasitas gabungan 21,3 MWp. Sebelumnya, portofolio ARKO memang didominasi pembangkit tenaga air.

Diversifikasi Bisnis dan Alasan Strategis Akuisisi

Presiden Direktur ARKO, Aldo Artoko, menyebut akuisisi ini merupakan bagian dari strategi perseroan memperluas portofolio energi baru terbarukan (EBT). Ia juga mengaitkan langkah ini dengan dukungan terhadap percepatan transisi energi nasional.

"Akuisisi ini juga menjadi bagian dari upaya kami untuk terus memperluas kontribusi Perseroan dalam penyediaan energi bersih, sejalan dengan visi kami untuk menerangi Indonesia dengan energi terbarukan serta mendukung percepatan transisi energi nasional," ujar Aldo.

Dengan masuknya EES, ARKO kini memiliki kombinasi pembangkit listrik tenaga air dan tenaga surya. Sebelumnya, perseroan tercatat fokus menggarap proyek PLTA.

Pasar Listrik Hijau di Batam dan Bintan

Lokasi aset PLTS EES dinilai strategis oleh analis. Jason Gozali, Head of Research Pluang Maju Sekuritas, mengatakan permintaan listrik hijau di Batam dan Bintan tengah meningkat, terutama dari operasional pusat data yang menuntut pasokan energi bersih sesuai mandat net zero emisi.

"Langkah tersebut mengubah profil bisnis ARKO. Perseroan kini tidak hanya mengandalkan pembangkit listrik tenaga air, tetapi juga mulai membangun bisnis tenaga surya sebagai mesin pertumbuhan kedua," kata Jason.

Selain kapasitas terkontrak, ARKO memiliki pipeline proyek EBT lebih dari 300 MW yang masih dalam tahap pengembangan. Perusahaan juga mendapat dukungan dari Grup Astra melalui PT United Tractors Tbk yang memegang kepemilikan sekitar 30%, serta Indonesia Infrastructure Finance sebagai penjamin obligasi hijau.

Rencana Pendanaan Ekspansi

Perseroan mengantisipasi kebutuhan pendanaan tambahan untuk ekspansi. Dalam 12 bulan ke depan, ARKO berpotensi melakukan rights issue guna mendukung pengembangan bisnis, terutama untuk akuisisi lanjutan di sektor tenaga surya.

Langkah ini menjadi penanda pergeseran strategi ARKO dari perusahaan listrik tenaga air murni menjadi pemain EBT yang lebih terdiversifikasi, sekaligus memperkuat posisinya di pasar listrik hijau kawasan industri Batam dan Bintan.

Terkini