Toto Sugiri Beberkan Pekerjaan Rumah Indonesia Jadi Hub Data Center

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:21:01 WIB
Ilustrasi Karyawan Sedang Mengecek Data Center.

JAKARTA - Kebutuhan industri terhadap kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mendorong percepatan permintaan pusat data (data center) di Indonesia.

Pemerintah dan pelaku industri kini mengantongi sejumlah pekerjaan rumah guna memastikan pengembangan pusat data terlaksana secara optimal di dalam negeri.

Direktur Utama PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) Otto Toto Sugiri menekankan bahwa kolaborasi pemerintah dan swasta harus berfokus pada masalah daya dan air.

Terkait ketersediaan listrik, Toto menilai sumber energi hijau akan menjadi penopang utama jangka panjang seiring kian terbatasnya cadangan batu bara.

”Dalam jangka panjang, kami harus percaya sumber energi berbasis fosil akan habis, sementara dunia butuh lebih banyak listrik. Jadi inisiatif energi hijau pemerintah harus dikoordinasikan dengan baik dan merangkul sektor swasta,” katanya dalam BATIC 2026 di Nusa Dua, Bali, Kamis (27/8/2026).

Selain urusan energi, Toto menyebutkan bahwa pemerintah perlu memberikan kemudahan pendanaan bagi perusahaan pemula (startup) yang kerap terkendala pembiayaan.

Faktor pengembangan kompetensi sumber daya manusia (SDM) juga menjadi aspek krusial agar generasi muda mampu mengoperasikan teknologi mutakhir secara produktif.

”Di tingkat infrastruktur, kami masih punya pekerjaan rumah. Tapi prioritas lainnya adalah pengembangan kompetensi di bidang pendidikan, mengarahkan generasi muda ke area yang lebih produktif, seperti menggunakan AI untuk industri manufaktur dan lainnya,” katanya.

Indonesia sebetulnya memiliki modal kuat untuk menjadi pusat AI regional berkat populasi besar, kelimpahan sumber daya alam, hingga dinamika geopolitik global.

Toto memprediksi kapasitas pusat data Indonesia dapat melonjak drastis hingga mencapai 1,4 GW pada akhir 2026 dari posisi 400 MW saat ini.

Kendati demikian, dia mengingatkan agar penempatan pusat data terdistribusi dengan bijak dan memperhatikan keberlangsungan hidup masyarakat lokal.

”Tapi kami harus belajar dari masalah di negara lain, seperti AS dan Eropa, di mana penduduk mulai memprotes. Kami harus menghindarinya. Pusat data tidak boleh memakan air dan listrik jatah penduduk,” katanya.

Untuk mengatasi hal itu, kawasan industri yang memiliki pengolahan air mandiri seperti Batam atau Bintan disarankan menjadi tempat ekspansi pusat data berkapasitas besar.

Terkini