JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) memproyeksikan kerja sama bersama JBS Group bakal memboyong dana investasi dari raksasa produsen protein global tersebut ke Tanah Air lewat skema proyek greenfield maupun brownfield.
Chief Investment Officer Danantara sekaligus CEO Danantara Investment Management (DIM) Pandu Sjahrir menyatakan kerja sama ini memiliki dana potensial mencapai US$5 miliar atau setara Rp89,5 triliun yang siap disalurkan menuju Indonesia.
“Matching dengan JBS itu kurang lebih US$5 miliar yang akan nanti masuk ke Indonesia dalam bentuk investasi baik greenfield ataupun brownfield,” kata Pandu, mengutip kanal YouTube Bisnis.com, Rabu (26/8/2026).
Sebelumnya, Danantara lewat DIM telah menyepakati kemitraan strategis jangka panjang bersama JBS Group bermodal dana US$2,5 miliar atau berkisar Rp44,75 triliun.
Lewat suntikan modal itu, Danantara resmi memegang 25% porsi kepemilikan pada perusahaan patungan (joint venture/JV) baru yang bakal memegang kendali operasional JBS wilayah Australia dan Selandia Baru.
Di samping dana ekuitas US$2,5 miliar tersebut, entitas JV ini mengantongi kapasitas dana investasi tambahan mencapai US$2,5 miliar yang dikucurkan secara bertahap. Alhasil, total dana modal yang terkumpul dari aliansi bisnis ini dapat menyentuh angka US$5 miliar.
Pandu menjelaskan skema investasi tersebut tak cuma mengejar imbal hasil finansial belaka, melainkan turut membuka akses bagi Danantara untuk menyerap transfer ilmu, penguasaan teknologi, jangkauan jaringan, hingga tata kelola bisnis milik JBS.
“Kalau sudah bisa masuk ke perusahaan inti, kami membeli bukan aja cash flow, itu sangat penting. Membeli dapat akses, dapat know-how, dapat teknologi, dapat jaringan,” ujarnya.
Menurut pandangannya, kepemilikan saham di dalam tubuh JBS memberi Danantara posisi tawar untuk ikut menentukan arah kebijakan investasi korporasi. Hal ini berbeda dibanding pola modal konvensional yang sebatas mendorong investor asing mendirikan pabrik atau fasilitas langsung di Indonesia.
Pandu menambahkan Danantara mengamankan sejumlah hak istimewa di JBS Australia, termasuk wewenang menempatkan perwakilan di jajaran komisaris serta direksi guna memberi masukan atas penentuan arah investasi.
“Ini penting karena bisa memiliki seat on the table di mana bisa dibilang hatinya suatu perusahaan atau di otaknya suatu perusahaan itu penting karena di situlah semua knowledge, semua DNA dari perusahaan,” katanya.
Bukan hanya itu, struktur transaksi ini juga memberikan skema dividen preferen (preferred dividend) serta pendampingan dana (matching funding) bagi Danantara. Aspek inilah yang menurut Pandu menjadi keunggulan dibanding sekadar menanam modal pada perusahaan terbuka.
Dalam kurun dua tahun pertama, fokus alokasi dana dari aliansi bisnis ini bakal diprioritaskan masuk ke Indonesia. Kerja sama ini memungkinkan Danantara memandu arah investasi JBS menuju sektor-sektor yang krusial bagi kebutuhan nasional.
JBS Australia yang masuk dalam jangkauan transaksi ini dicatat memiliki perputaran omzet sekitar US$10 miliar. Pandu menilai tingkat margin profitabilitas yang kokoh pada lini bisnis tersebut menjadi pertimbangan utama Danantara dalam menanamkan modalnya.
Proses penjajakan investasi bersama JBS ini sejatinya telah digodok intensif selama kurang lebih satu tahun sebelum resmi dipublikasikan. Pandu menegaskan seluruh proses transaksinya digelar secara tertutup hingga menyentuh kesepakatan akhir.
“Ini kami masuk ke private company. Company Australia ini omzet kurang lebih US$10 miliar. Jadi cukup besar dan mereka memiliki profitabilitas terbaik sebenarnya di situ,” ujarnya