Cara Menjaga Kesehatan Mental Saat Mengikuti Program Bayi Tabung

Jumat, 28 Agustus 2026 | 04:39:31 WIB
Ilustrasi Bayi Tabung.

JAKARTA - Menjalani program bayi tabung bukan sekadar urusan medis serta kesiapan fisik. Perjalanan panjang demi menanti kehadiran buah hati ini menyimpan beban psikologis yang cukup menguras emosi pasangan suami istri. Sayangnya, aspek kesehatan jiwa ini sering kali terabaikan, padahal tingkat stres sangat memengaruhi keberhasilan embrio saat menempel pada dinding rahim.

Di samping tekanan mental, tahapan ini juga diwarnai oleh beragam pemahaman keliru di tengah masyarakat. Banyak calon ibu yang akhirnya membatasi aktivitas secara berlebihan maupun merasa cemas lantaran termakan mitos medis yang beredar luas.

Berikut adalah panduan dalam menjaga kesehatan mental selama menjalani proses bayi tabung:

1. Kenali Tiga Fase Paling Menguras Emosi

Program bayi tabung memiliki beberapa fase kritis yang kerap menjadi puncak rasa cemas bagi para pasien. Memahami tahapan ini amat penting agar pasangan dapat menyiapkan mental sejak jauh hari.

Menurut Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, titik paling memicu stres dalam proses bayi tabung ialah fase pengambilan sel telur.

"Kemudian stres yang kedua pas tanam. Stres yang ketiga pas 'bagi rapot'. Dua minggu dari tanam ke 'bagi rapot', hamil atau tidak?" tutur dr. Budi dalam acara media gathering untuk memperingati lima tahun kehadiran RS Pondok Indah IVF Centre di Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Istilah "bagi rapot" merujuk pada pengumuman hasil penantian selama dua minggu usai embrio ditanamkan ke rahim guna memastikan keberhasilan prosesnya. Masa tunggu ini menjadi ujian mental yang cukup berat, sehingga penanganan medis pendukung terkadang diperlukan.

"Makanya sekarang ada terapi akupuntur, itu bisa stress relief, relaksasi yang cukup baik ya," tutur dr. Budi.

2. Hindari Istirahat Total atau Bedrest

Sebagian besar orang meyakini bahwa ibu yang baru saja melewati proses transfer embrio wajib berbaring terus-menerus tanpa beraktivitas. Secara medis, anggapan ini kurang tepat dan justru berisiko merugikan kesehatan mental calon ibu.

Dokter Budi menyarankan pasien untuk tetap bergerak bebas serta beraktivitas normal seperti biasa. Menurutnya, berbaring seharian tanpa kesibukan justru memicu kecemasan yang berdampak pada stres pikiran.

"Karena studi membuktikan bahwa pasien-pasien yang bedrest itu justru akan menimbulkan stres. Ketika dia bedrest, dia ngitung di tembok (hari 'bagi rapot'), lama banget nih. Aduh, stresful," terang dr. Budi.

Mengenai batasan fisik, tidak ada pantangan khusus selama pasien tidak memaksakan diri melakukan kegiatan yang terlalu berat.

"Jadi beraktivitas seperti biasa. Larangan enggak ada, kecuali manjat pohon kelapa," kata dr. Budi.

3. Dapatkan Dukungan Keluarga sebagai Pereda Stres

Selain menghindari rebahan total, keseimbangan emosi calon ibu amat bergantung pada kondisi lingkungan sekitar. Kehadiran orang-orang terdekat mampu menjadi penawar alami untuk mengikis rasa tegang selama prosedur berjalan.

"Dan support dari pasangan itu penting sekali. Supporting dari keluarga lebih penting lagi," pasar dr. Budi.

Banyak pasangan menduga bahwa berobat ke luar negeri berdua saja sudah memadai. Padahal, jauh dari kerabat dan keluarga di Tanah Air justru berpotensi mendatangkan beban pikiran baru.

"Itulah sebabnya mengapa pasangan-pasangan ikut bayi tabung yang dekat dengan keluarganya, biasanya tingkat stresnya jauh lebih rendah," jelas dr. Budi.

Menjalani tahapan medis yang panjang tanpa didampingi lingkungan sosial yang kondusif dapat membawa dampak kurang baik bagi calon ibu.

"Dibandingkan dengan harus pergi ke tempat yang jauh, apalagi di luar Indonesia, ya jauh lebih stressful dan itu bisa mempengaruhi keberhasilan," pungkas dr. Budi.

Terkini