Penyebab Cuci Tangan Lebih Efektif Dibandingkan Hand Sanitizer

Jumat, 28 Agustus 2026 | 04:41:01 WIB
Ilustrasi Sedang Menggunakan Hand Sanitizer.

JAKARTA - Hand sanitizer kerap menjadi opsi praktis sewaktu tidak dijumpai wastafel serta sabun di area sekitar. Cairan pembersih ini sangat mudah dibawa dan dapat dipakai saat bepergian, menaiki transportasi umum, maupun seusai memegang pelbagai permukaan fasilitas umum.

Kendati demikian, penggunaan hand sanitizer tidak selamanya bisa menggantikan kebiasaan membasuh tangan memakai sabun dan air mengalir. Para ahli menerangkan bahwa terdapat kondisi tertentu di mana mencuci tangan menjadi langkah yang jauh lebih efektif untuk menyingkirkan kuman dari kulit.

Menukil laporan Yahoo Health, Direktur Medis National Foundation for Infectious Diseases, Dr. Robert H. Hopkins Jr. menyebutkan bahwa mencuci tangan memakai sabun dan air pada umumnya lebih unggul dalam mencegah penularan penyakit. Rangkaian proses tersebut tidak sekadar mengandalkan sabun, melainkan turut melibatkan tindakan membasahi, menggosok, membilas, sampai mengeringkan tangan.

"Mencuci tangan dengan sabun dan air umumnya lebih efektif daripada menggunakan pembersih tangan dalam mencegah penularan penyakit. Tindakan fisik seperti membasahi tangan, menggosok, membilas, dan mengeringkan, semuanya berperan dalam menghilangkan kotoran, bahan kimia, dan kuman dari kulit," jelas Hopkins.

Tidak Semua Jenis Kuman Bisa Diberantas

Kepala Perawat American Nurses Enterprise, Dr. Bradley Goettl, memaparkan bahwa pembersih tangan berbahan dasar alkohol bekerja melalui mekanisme merusak organisme yang menempel pada kulit tangan. Zat alkohol tersebut mampu merusak bagian membran serta protein yang dibutuhkan oleh bakteri dan beragam jenis virus agar dapat bertahan hidup.

"Pembersih tangan berbasis alkohol bekerja lebih dengan mengganggu organisme itu sendiri. Ia merusak membran dan protein yang dibutuhkan bakteri dan banyak virus untuk bertahan hidup," ujar Goettl.

Walau begitu, keunggulan tersebut tidak berlaku untuk seluruh varian patogen. Hopkins menegaskan bahwa sejumlah kuman dan virus mempunyai lapisan pelindung luar yang membuat mereka lebih tahan terhadap efek paparan alkohol.

"Sayangnya, banyak bakteri dan virus, termasuk Clostridioides difficile (C. difficile, bakteri yang menyebabkan radang usus besar dan diare), norovirus, beberapa virus flu biasa, dan lainnya, terlindungi dari efek alkohol oleh lapisan luar berupa protein dan gula," imbuh Hopkins.

Maka dari itu, pemakaian hand sanitizer perlu disesuaikan kembali dengan situasi serta tingkat kebersihan tangan. Hopkins menjelaskan bahwa pembersih tangan beroksigen atau berkadar alkohol minimal 60 persen tetap menjadi sarana darurat yang berguna sewaktu sabun dan air tidak ditemukan.

Cairan pembersih tangan dapat difungsikan bilamana tangan tidak tampak kotor secara kasat mata dan tidak ada akses wastafel, seperti sewaktu berada di bandara, pertokoan, angkutan umum, ruang rapat, maupun seusai memegang benda publik.

Sebaliknya, sabun dan air mengalir jauh lebih tepat digunakan sewaktu tangan tampak bernoda kotor, berminyak, atau terkontaminasi bahan tertentu. Keadaan tersebut di antaranya seusai dari kamar mandi, memegang daging mentah, mengganti popok bayi, atau sebelum mengolah hidangan makanan.

"Aturan saya sederhana. Jika tangan Anda terlihat kotor, berminyak, atau terkontaminasi, gunakan sabun dan air. Itu termasuk setelah menggunakan kamar mandi, menangani daging mentah, mengganti popok, atau sebelum menyiapkan makanan," kata Goettl.

Goettl turut menambahkan bahwa tindakan mencuci tangan menjadi jalan keluar utama sewaktu wabah norovirus sedang merebak di area lingkungan kerja atau sekolah anak.

Panduan Penggunaan Hand Sanitizer dan Mencuci Tangan

Tingkat efektivitas hand sanitizer juga bergantung pada tata cara pemakainnya. Hopkins menyarankan untuk memakai cairan berbentuk gel atau busa secukupnya sampai mampu membaluri seluruh bagian permukaan kedua tangan.

"Gunakan pembersih tangan secukupnya untuk menutupi seluruh permukaan kedua tangan," kata Hopkins.

Sesudah itu, usap dan gosokkan produk secara merata hingga cairan alkohol menguap dan mengering. Bagian yang wajib memperoleh perhatian meliputi area ujung jari, sela-sela jari, ibu jari, hingga seluruh permukaan tangan.

Prosedur menggosok tangan perlu dilakukan selama kurang lebih 20 hingga 30 detik sampai kulit benar-benar kering. Sementara itu saat membasuh tangan menggunakan sabun, Goettl mengimbau agar tidak melakukannya secara tergesa-gesa. Area yang kerap terlewat antara lain ibu jari, pucuk jari, sela jari, punggung tangan, serta wilayah sekitar kuku.

Bagaimanapun juga, hand sanitizer tetap memiliki kegunaan sebagai sarana alternatif yang praktis sewaktu air dan sabun tidak tersedia. Namun, sewaktu kondisi tangan terlihat kotor, berminyak, atau memerlukan pembersihan mendalam, membasuh tangan dengan sabun dan air tetap menjadi opsi paling utama.

Terkini