Atasi Karhutla, BRIN dan Polri Kaji Pemanfaatan Tepung Singkong

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 16:22:01 WIB
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria [FOTO: NET].

JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang meneliti pemanfaatan tepung singkong sebagai bahan pendukung pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Penelitian tersebut digulirkan pascapraktik metode itu di masyarakat serta usulan yang dilayangkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Kepala BRIN Arif Satria menuturkan bahwa analisis awal dari para pakar kimia molekuler BRIN memperlihatkan bahwasanya pemanfaatan tepung singkong guna pemadaman karhutla secara teoritis cukup masuk akal.

"Secara saintifik sebenarnya itu hal yang masuk akal, sesuatu yang bisa. Nah sehingga sekarang begitu saya mendapat berita itu kemudian kami lakukan kajian secara teoretik. Para ahli kimia molekuler yang ada di BRIN melakukan kajian dan langsung disampaikan bahwa memang itu secara teoretik betul," kata Arif usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto menerima Presiden Timor Leste José Ramos-Horta di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Kendati demikian, Arif menekankan bahwasanya hasil analisis tersebut belum mampu menjawab sejauh mana efektivitas penggunaan tepung singkong pada pemadaman karhutla dalam area yang luas. BRIN bersama Polri saat ini mematangkan persiapan pengujian dalam beragam tingkatan skala.

"Jadi tinggal bagaimana sekarang Polri dan BRIN sedang kerja sama untuk melakukan uji coba untuk berbagai skala. Karena yang saat ini kami lihat kan baru skala kecil. Nah sekarang bagaimana untuk skala besar," ujarnya.

Menurut penilaian Arif, eksperimen skala luas bakal mencakup racikan komposisi material hingga teknik penerapannya di lokasi kejadian. Prosedur penebaran secara manual dirasa tidak mungkin dieksekusi untuk cakupan area kebakaran hutan yang amat membentang.

"Untuk skala besar kan kemudian dari sisi campuran-campuran zat-zatnya maupun dari sisi bagaimana teknik untuk memadamkannya seperti apa. Kan tidak mungkin ditaburi pakai tangan, harus pakai alat-alat tertentu. Nah sekarang sedang dikaji," katanya.

Teknologi Atasi Karhutla

Arif membeberkan bahwa Presiden Prabowo telah memberikan arahan khusus supaya BRIN mengeksplorasi pelbagai opsi teknologi yang mumpuni dalam menanggulangi karhutla.

"Arahan Bapak Presiden jelas bahwa BRIN diminta untuk mencari opsi-opsi teknologi yang bisa mengatasi bencana Karhutla ini," ujarnya.

Selain meneliti potensi tepung singkong, BRIN konsisten mematangkan teknologi modifikasi cuaca (weather modification technology/TMC) sebagai salah satu instrumen penanganan karhutla. Arif menyebut teknologi itu dapat difungsikan guna memicu munculnya hujan buatan memakai material khusus.

Ia menyampaikan bahwa BRIN telah menyelaraskan langkah bersama TNI Angkatan Udara dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai pengaplikasian teknologi tersebut.

"Kami sudah koordinasi dengan TNI Angkatan Udara juga dengan BMKG karena memang operator untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca adalah BMKG. Jadi BRIN hanya melakukan kajian dan kemudian menyiapkan material-material, melakukan riset-risetnya, kemudian yang melaksanakan adalah BMKG," katanya.

Dirinya memaparkan bahwa pembagian ranah tugas tersebut menjadi bagian dari transformasi kelembagaan teknologi modifikasi cuaca di Indonesia. Pada masa lampau, teknologi tersebut sempat dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

"Dulunya memang BPPT pernah melakukan itu, tapi ketika BMKG berdiri, divisi untuk TMC, teknologi modifikasi cuaca itu dikembangkan, maka sekitar 50 peneliti dari BRIN berpindah ke BMKG untuk memperkuat teknologi modifikasi cuaca," ujar Arif.

Saat ini, menurut keterangannya, BMKG memegang peranan pada eksekusi operasional TMC, sedangkan BRIN fokus pada lini riset, mencakup pematangan material beserta teknologi penyokongnya.

"Teman-teman yang ada di BMKG terus mencermati, kemudian mengembangkan untuk aplikasinya, tapi dari sisi riset materialnya dan teknologinya, ya tugas kami di BRIN untuk melakukan riset itu," katanya.

BRIN Validasi Praktik Masyarakat

Arif mengutarakan bahwasanya penelitian berbasis tepung singkong ini bertolak dari fungsi BRIN dalam menguji serta memvalidasi praktik atau terobosan yang tumbuh di tengah warga. Ia menilai kebiasaan masyarakat tersebut wajib diuji lewat kacamata ilmiah untuk membuktikan apakah hipotesis pendukungnya sanggup dibuktikan secara teori maupun melalui pengujian lanjutan.

"Tugas BRIN itu memang segala praktik yang ada di masyarakat, yang sudah dipraktikkan itu kami kaji secara saintifik. Ini benar apa tidak?" kata Arif.

Ia menguraikan bahwasanya hasil analisis awal menunjukkan hipotesis pemanfaatan tepung singkong guna meredam kobaran api dapat diterima secara teori. Namun, daya guna untuk menjinakkan karhutla pada area yang membentang masih mesti dibuktikan lewat serangkaian pengujian.

"Teknologi-teknologi yang muncul dari masyarakat coba kami validasi. Nah ternyata memang secara teori hipotesis, yes, betul. Nah tapi sekarang yang harus kami pikirkan adalah untuk skala berapa," ujarnya.

Menurut pemikiran Arif, tantangan terberat terletak pada implementasi metode tersebut di tengah karakteristik karhutla yang kerap melingkupi cakupan wilayah sangat luas.

"Skala kebakaran hutan kan luas sekali. Nah itu untuk skala yang besar, inilah tantangan kami. Dan sekarang ini tim Polri dengan tim BRIN sedang menyiapkan itu, melakukan kajian dan juga akan melakukan uji coba," katanya.

Ia menaruh harapan agar proses riset beserta pengujian lapangan dapat secepatnya menghasilkan metode efisien yang siap diterapkan secara nyata.

"Ya mohon doanya, moga-moga ini bisa cepat berhasil," tutur Arif.

Konservasi Flora dan Fauna

Di dalam forum pertemuan dengan Presiden Timor Leste José Ramos-Horta, Arif menerangkan bahwa topik tepung singkong untuk penanganan karhutla tidak menjadi pembahasan utama. Menurut dirinya, dialog lebih banyak diisi pertukaran pandangan seputar beragam isu, termasuk komitmen Indonesia dalam menjaga kelestarian flora dan fauna.

"Tadi tidak dibahas ya tepung singkong. Lebih banyak diskusi ini sih, tapi yang jelas tadi Presiden sangat bagus sekali menjelaskan tentang bagaimana komitmen Presiden untuk memproteksi flora-fauna di Indonesia ini," katanya.

Menurut Arif, komitmen tersebut selaras dengan agenda konservasi yang tengah menjadi perhatian global.

"Karena ini Presiden sadar betul bahwa ini adalah hal yang menjadi komitmen global tentang konservasi," tandas Arif.

Terkini