Kinerja Keuangan Mapan, SWAP Bersiap Transformasi Bisnis Lewat IPO

Minggu, 30 Agustus 2026 | 18:33:32 WIB
Salah satu bangunan di Universitas Gadjah Mada (UGM).

JAKARTA — PT Swayasa Prakarsa Tbk. (SWAP) mencatatkan lonjakan pendapatan sekitar 77 persen pada semester I/2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Hasil positif ini menjadi fondasi utama bagi perseroan dalam melangkah ke pasar modal melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Tidak hanya mengamankan kenaikan pendapatan, perseroan juga berhasil memangkas kerugian bersih hingga 82,9 persen di semester I/2026. Laju perbaikan kinerja ini memperlihatkan fokus SWAP pada peningkatkan efisiensi operasional, pembenahan struktur biaya, dan pemaksimalan kontribusi dari lini produk-produk unggulan.

Direktur Utama PT Swayasa Prakarsa Tbk. Bondan Ardiningtyas menjelaskan bahwa arah bisnis perusahaan bakal terus diperkuat melalui ekspansi kapasitas produksi, penambahan jaringan distribusi, perluasan penetrasi pasar, serta pembuatan produk yang berpotensi menghasilkan pendapatan berulang.

“Transformasi yang kami lakukan diarahkan untuk membangun perusahaan berbasis inovasi dengan fundamental yang kuat. Kami ingin memastikan pertumbuhan perusahaan berjalan seiring dengan penerapan tata kelola yang baik dan kemampuan untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat, mitra, pemegang saham, serta seluruh pemangku kepentingan,” kata Bondan pada Minggu (30/8/2026).

Pencapaian pada semester I/2026 ini memperlancar jalan SWAP untuk memproses IPO. Tahapan book building telah digelar pada 22–27 Agustus 2026 dengan menerbitkan maksimal 323 juta saham baru atau setara 30,30 persen dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO.

Di masa penawaran awal tersebut, SWAP menetapkan rentang harga Rp130–Rp140 untuk tiap lembar sahamnya. Dari aksi korporasi tersebut, perseroan diperkirakan berpeluang meraup dana segar maksimal sebesar Rp45,22 miliar.

Setelah tahapan book building usai, perseroan bersama penjamin pelaksana emisi efek PT Sukadana Prima Sekuritas akan menetapkan nilai penawaran final berdasarkan hasil penawaran awal dan kondisi dinamika pasar.

Merujuk pada jadwal indikatif, SWAP menargetkan untuk memperoleh izin efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 31 Agustus 2026. Masa penawaran umum direncanakan berlangsung pada 2–8 September 2026, lalu dilanjutkan dengan pencatatan resmi saham perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 September 2026.

Bondan menekankan bahwa agenda IPO bukan sekadar langkah menggalang dana modal, melainkan tahapan transformasi bagi SWAP menuju entitas yang lebih transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.

“Bagi kami, IPO bukan sekadar aksi korporasi untuk memperoleh pendanaan. Langkah ini merupakan bagian dari transformasi PT Swayasa Prakarsa menjadi perusahaan yang semakin transparan, akuntabel, dan berkelanjutan, sekaligus memperluas dampak inovasi kesehatan,” tuturnya.

Menjelang perubahannya menjadi perusahaan terbuka, SWAP memperkokoh fondasi bisnis serta tata kelola dengan menyempurnakan manajemen internal, memperkuat sistem pengawasan, meningkatkan mutunya laporan keuangan, menata ulang alur bisnis, mengasah kapasitas SDM, serta memperluas jangkauan produksi dan pemasaran.

Suntikan dana dari IPO diproyeksikan dapat mendongkrak proses komersialisasi inovasi di bidang kesehatan, meningkatkan kapasitas pabrik, memperluas cakupan pasar, dan memperkuat modal kerja perseroan.

Berdiri sejak 2012, SWAP merupakan bagian dari ekosistem hilirisasi riset Universitas Gadjah Mada (UGM) yang fokus bergerak pada tiga divisi utama, yaitu alat kesehatan, obat tradisional/herbal, dan pangan fungsional.

Perseroan telah memproduksi ragam alat kesehatan untuk perawatan luka, bedah saraf, kedokteran gigi, hingga alat bantu pernapasan. Beberapanya mencakup RZ-VAC Negative Pressure Wound Therapy, INA-SHUNT, CeraSpon, Gama-CHA, ventilator Venindo, dan DivaBirth.

Di luar produk alat kesehatan, SWAP turut memproduksi herbal dan makanan fungsional berbasis riset akademik. Perseroan bermitra dengan kalangan peneliti, tenaga medis, pelaku industri, fasilitas layanan kesehatan, serta jaringan distributor untuk mendorong hilirisasi hasil riset agar dapat langsung dimanfaatkan masyarakat luas.

Terkini