Wakil Ketua MPR Harap Kepemimpinan Baru PBNU Jawab Tantangan Bangsa

Senin, 31 Agustus 2026 | 21:22:22 WIB
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno.

JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menaruh harapan agar KH Miftachul Akhyar yang terpilih sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031 dapat senantiasa mengarahkan NU dalam merespons aneka tantangan bangsa.

Eddy turut menyampaikan ucapan selamat sekaligus optimistis bahwa nahkoda baru ini sanggup mengarahkan NU untuk merespons krisis lingkungan serta krisis energi yang kian dirasakan publik.

“Saya mengucapkan selamat kepada KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU terpilih. Semoga amanah dalam memimpin Nahdlatul Ulama dan terus membawa NU menjadi kekuatan moral, sosial, dan keumatan yang terus memberikan solusi bagi persoalan bangsa,” kata Eddy dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Sebagai Pimpinan MPR, Eddy mendorong NU untuk saling bergandengan tangan dalam menciptakan ketahanan energi, memacu percepatan pemanfaatan energi bersih, serta menjalankan mandat konstitusi terkait hak masyarakat atas lingkungan yang bersih dan sehat.

“Saya mengajak mari berkolaborasi untuk mewujudkan ketahanan energi dan transisi menuju energi terbarukan sebagai bagian dari visi Presiden Prabowo sekaligus urgensi dakwah ekologis. Transisi energi harus menjadi jalan menuju kedaulatan energi, sehingga Indonesia mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri dengan sumber daya yang kami miliki,” ujarnya.

Eddy menggarisbawahi bahwa kedaulatan energi memerlukan gerakan sosial berskala luas, tidak sekadar mengandalkan kebijakan pemerintah maupun regulasi parlemen. Pada titik ini, NU memegang peran sangat strategis berkat jaringan pesantren, ulama, dai, lembaga pendidikan, hingga basis komunitas yang mengakar di masyarakat.

Eddy meyakini PBNU sanggup memperluas aksi penyelamatan lingkungan lewat simpul pesantren dan basis komunitasnya. Menurutnya, lingkungan pesantren bisa dijadikan percontohan nyata penerapan pola hidup ramah lingkungan melalui penanganan sampah, penghematan energi, pemanfaatan tenaga surya, konservasi air, hingga penguatan ekonomi hijau berbasis warga.

“Saya membayangkan pesantren-pesantren NU dapat menjadi role model pesantren hijau yang bersih, mandiri energi, mampu mengelola sampah, dan menggunakan teknologi energi terbarukan. Dari pesantren, gerakan ini kemudian menyebar ke masyarakat,”

“Kami ingin mewariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya Indonesia yang ekonominya tumbuh, tetapi Indonesia yang energinya berdaulat, udaranya bersih, lingkungannya terjaga, dan pembangunan ekonominya benar-benar berkelanjutan,” tuturnya.

Terkini