Penerbitan Surat Utang Multifinance Turun Jadi Rp14,57 Triliun di 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 23:08:31 WIB
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo)

JAKARTA - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatatkan perolehan penerbitan surat utang korporasi sektor multifinance hingga Juli 2026 mencapai Rp14,57 triliun, terkoreksi 41,8 persen (year on year/YoY) dari nilai sebelumnya Rp25,03 triliun.

Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin mengungkapkan bahwa penurunan pada sektor ini tercatat lebih dalam apabila dibandingkan total penerbitan surat utang korporasi nasional yang mengalami kontraksi 16,2 persen YoY menjadi Rp112,31 triliun.

“Akibatnya, kontribusi multifinance terhadap total penerbitan korporasi turun menjadi sekitar 13,0% pada Juli 2026 dari 18,7% pada Juli 2025,” ucapnya kepada Bisnis, dikutip pada Senin (31/8/2026).

Meskipun demikian, Ahmad menilai penurunan angka tersebut lebih mencerminkan dinamika pelemahan penerbitan sejak Juni dibandingkan dengan pola perlambatan sejak awal tahun.

Sepanjang rentang Januari 2026 hingga Mei 2026, akumulasi penerbitan dari multifinance masih menyentuh Rp12,93 triliun atau menguat 19,3 persen YoY.

Akan tetapi, melihat realisasi kumulatif sampai Juli 2026 yang berada pada Rp14,57 triliun, nilai penerbitan tambahan selama Juni–Juli hanya berkisar Rp1,64 triliun.

“Sebaliknya, periode yang sama pada 2025 mencatat peningkatan penerbitan yang jauh lebih besar. Karena itu, penurunan pada Juli 2026 juga dipengaruhi oleh high-base effect pada Juni–Juli 2025,” bebernya.

Ahmad melanjutkan bahwa ditinjau dari sisi fundamental, tren kenaikan suku bunga turut menghambat laju penerbitan.

Peningkatan BI Rate dari 4,75 persen pada April menjadi 5,75 persen pada Juni 2026 menyebabkan acuan biaya pendanaan naik, sehingga investor menuntut kompensasi hasil (yield) yang lebih tinggi.

Pada saat yang bersamaan, kebutuhan dana untuk ekspansi dinilai belum terlalu agresif karena piutang perusahaan pembiayaan hanya tumbuh 1,88 persen YoY menjadi Rp511,26 triliun pada Juni 2026.

“Kombinasi biaya dana yang lebih tinggi dan pertumbuhan pembiayaan yang moderat membuat perusahaan lebih selektif dalam menentukan waktu, tenor, dan nilai penerbitan,” sebutnya.

Lebih jauh, ia memaparkan bahwa aksi penerbitan surat utang tampak terfokus pada jajaran perusahaan berskala besar.

Adira Finance, FIFGROUP, dan Indomobil Finance masing-masing menerbitkan sekitar Rp2,50 triliun, yang bila digabungkan menyumbang sekitar 58 persen dari keseluruhan penerbitan multifinance pada rentang periode tersebut.

Kemudian, WOM Finance turut melaporkan penerbitan sekitar Rp2,3 triliun sepanjang semester I 2026, sedangkan Astra Sedaya Finance mencatatkan angka sekitar Rp1,03 triliun.

“Pola ini menunjukkan bahwa akses pasar pada 2026 relatif lebih kuat bagi emiten besar dengan profil kredit dan basis investor yang lebih mapan,” pungkasnya.

Terkini