Bahaya Asap Karhutla yang Tidak Cuma Memicu Gangguan Pernapasan

Selasa, 01 September 2026 | 03:35:02 WIB
Ilustrasi Sesak Nafas.

JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Kalimantan, hingga Papua. Kondisi ini menuntut masyarakat di area terdampak untuk makin waspada terhadap ancaman kesehatan dari paparan asap.

Selama ini, asap karhutla identik dengan masalah saluran pernapasan, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Namun, dampak buruknya terhadap kondisi tubuh tidak terbatas pada organ pernapasan saja.

Partikel halus yang terkandung di dalam asap dapat menembus bagian dalam tubuh dan menimbulkan peradangan yang merusak berbagai organ.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, terdapat 4.082 kasus ISPA pada 27 Agustus 2026, dengan total kumulatif mencapai 13.449 kasus. Laporan tersebut berasal dari 63 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi terdampak karhutla.

Pada tanggal yang sama, pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan beberapa daerah berada dalam kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya, dengan PM2.5 sebagai parameter kritis.

"Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama akibat paparan asap dan partikulat. Karena itu, kami perlu memastikan masyarakat terlindungi dan pelayanan kesehatan tetap siap," ujar Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono.

Berikut adalah deretan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai akibat paparan asap karhutla:

1. Iritasi Mata, Hidung, Tenggorokan, dan Kulit

Dampak langsung yang dirasakan akibat paparan asap yakni mata perih atau iritasi, hidung berair, sakit tenggorokan, dahak berlebih, serta iritasi kulit.

Merujuk informasi dari LiveScience, pusing atau sakit kepala juga sering muncul sebagai salah satu gejala akibat menghirup asap karhutla.

2. Gangguan Pernapasan

Partikel yang sangat mikro di dalam asap dapat masuk hingga ke bagian dalam paru-paru serta memicu iritasi maupun peradangan. Kemenkes menyebut paparan asap berisiko memicu ISPA, batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, hingga memperburuk Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

Di samping itu, gejala napas berbunyi (mengi) dan rasa sesak di dada kerap mengganggu penderitanya.

3. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung dan Stroke

Dampak negatif asap karhutla tidak cuma menyerang saluran pernapasan, melainkan dapat masuk ke sistem kardiovaskular. Tinjauan yang dimuat dalam laman NCBI mengindikasikan paparan asap karhutla berhubungan erat dengan peningkatan masalah kardiovaskular.

Kondisi tersebut mencakup serangan jantung akut, henti jantung, gagal jantung, lonjakan kunjungan gawat darurat, perawatan inap, sampai risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular.

4. Meningkatkan Risiko Kelahiran Prematur

Paparan PM2.5 dari asap karhutla selama masa kehamilan juga perlu mendapat perhatian serius. Penelitian dari UC Irvine yang dipublikasikan dalam Environmental Protection Agency menguji lebih dari 627.000 kasus kelahiran di California.

Temuan tersebut menunjukkan paparan polusi udara akibat karhutla selama hamil berikatan dengan meningkatnya risiko kelahiran prematur (preterm birth) dan kondisi ketuban pecah dini sebelum persalinan (PPROM).

5. Meningkatkan Risiko Demensia

Efek dari paparan asap juga membawa dampak buruk pada kesehatan jangka panjang. LiveScience menyebutkan paparan yang terjadi secara berulang dapat memengaruhi fungsi otak serta dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia.

Studi yang diterbitkan di NCBI turut mengategorikan paparan jangka panjang terhadap PM2.5 sebagai faktor risiko demensia, walaupun dampak spesifik dari PM2.5 hasil karhutla masih terus diteliti lebih lanjut.

Dengan demikian, bahaya kebakaran hutan bagi kesehatan tidak sekadar memicu gangguan pernapasan. Paparan asap karhutla turut memperbesar risiko timbulnya berbagai gangguan kesehatan lain, seperti penyakit jantung, komplikasi kehamilan, hingga demensia.

Terkini