JAKARTA — Reaksi meremehkan perasaan anak saat sedang menangis atau bersedih kerap dianggap sepele oleh orang dewasa. Padahal, ucapan yang mengabaikan emosi si kecil dapat berdampak serius terhadap tumbuh kembang serta kesehatan mental mereka.
Dokter psikiatri anak dari RS Marzoeki Mahdi, dr. Widi Primaciptadi, menegaskan bahwa emosi anak kecil haram hukumnya untuk dipandang sebelah mata.
Masalah yang dinilai sepele oleh orang dewasa, seperti kehilangan alat tulis atau tidak diajak bermain oleh teman, dapat dirasakan sebagai tekanan luar biasa bagi anak-anak.
Kondisi tersebut terjadi lantaran sistem regulasi emosi anak belum berkembang secara matang. Seperti dilansir Antara, dr. Widi menjelaskan bahwa orang dewasa kerap mengabaikan perasaan anak dengan menganggap mereka akan cepat lupa. Padahal, masalah tersebut terasa nyata dan besar di mata sang anak.
"Anak bukan stres karena kejadiannya saja, melainkan akibat cara mereka memaknai kejadian tersebut yang terasa sangat berat. Kami tidak bisa menyamakan cara berpikir orang dewasa dengan anak-anak yang identitas dirinya masih terus berkembang," ujar dr. Widi.
Stres pada anak tidak selalu ditunjukkan melalui ledakan emosi atau teriakan. Sering kali, gejalanya muncul secara perlahan namun konsisten.
Orang tua dan pengasuh diimbau waspada apabila anak mulai menunjukkan sejumlah indikasi berikut:
Menjadi Pendiam: Anak tiba-tiba menarik diri dari interaksi sosial dan geng pertemanannya.
Perilaku Self-Blame: Sering menyalahkan diri sendiri secara berlebihan atas hal-hal kecil.
Emosional: Menjadi lebih temperamental, mudah marah, atau tersinggung.
Gangguan Fokus dan Tidur: Kesulitan berkonsentrasi pada aktivitas harian serta mengalami gangguan tidur.
Kehilangan Minat: Tidak lagi menunjukkan antusiasme terhadap hobi atau kegiatan yang sebelumnya sangat disukai.
Penumpukan stres yang dibiarkan tanpa penanganan memadai berpotensi fatal, termasuk memicu kecenderungan anak untuk menyakiti diri sendiri.
Untuk mencegah dampak buruk kesehatan mental pada anak, dr. Widi menyarankan beberapa langkah konkret yang dapat diterapkan oleh orang dewasa:
1. Validasi Emosi
Mengakui dan menerima emosi anak saat mereka bersedih atau kecewa tanpa menghakimi.
2. Komunikasi Rutin
Membuka ruang dialog harian untuk menanyakan kondisi emosional anak, tidak terbatas pada pencapaian akademis saja.
3. Hentikan Membandingkan
Menghentikan kebiasaan membandingkan masa kecil orang tua dengan tantangan yang dihadapi anak saat ini.
4. Ciptakan Lingkungan Aman
Memastikan lingkungan rumah dan sekolah menjadi tempat yang paling nyaman bagi anak untuk bercerita tanpa rasa takut.