Perubahan Mood dan Energi Usai Sebulan Tanpa Konsumsi Gula Tambahan

Selasa, 01 September 2026 | 04:40:31 WIB
Ilustrasi Gula.

JAKARTA - Makanan manis kerap menjadi pilihan utama saat seseorang ingin memberikan penghargaan kepada diri sendiri. Sebatang cokelat usai menuntaskan pekerjaan atau es krim setelah melewati hari yang melelahkan kerap dianggap sebagai bentuk hiburan sederhana.

Namun, dampak berbeda muncul ketika gula tambahan benar-benar dihilangkan dari menu harian selama satu bulan. Peneliti Sian Ferguson mencoba menjawab hal tersebut melalui pengamatan langsung selama 30 hari tanpa gula tambahan untuk melihat dampaknya pada mood, energi, dan fokus.

Dalam pengamatan tersebut, Ferguson tidak menghapus seluruh jenis gula dari menu makanannya. Pasokan gula alami yang terdapat pada buah segar dan produk olahan susu tetap dikonsumsi, sedangkan gula tambahan serta madu dihindari sepenuhnya.

Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan fisik maupun mental tidak datang secara instan. Pada pekan pertama, penyesuaian terbesar justru terjadi pada kebiasaan saat memilih jenis makanan harian.

Ferguson mulai teliti membaca label nutrisi pada kemasan. Dari situ terungkap bahwa gula tambahan bersembunyi di banyak produk yang kerap diklaim sehat, seperti protein bar, yoghurt, granola, hingga aneka olahan gurih.

Tantangan berlanjut saat makan di luar rumah karena tidak semua menu restoran mencantumkan kandungan gula pada saus atau bahan olahan. Kendati demikian, keinginan kuat menyantap sajian manis belum terlalu mengganggu pada awal periode.

Ahli gizi Marjorie Nolan Cohn menjelaskan bahwa pemotongan asupan gula dapat memicu dorongan makan karena memengaruhi sistem penghargaan di otak. Pada beberapa orang, kondisi ini dapat memicu pusing, kelelahan, atau penyesuaian suasana hati.

Memasuki pekan kedua, tepatnya sekitar hari ke-10, perubahan emosional mulai terasa. Ferguson menyadari bahwa makanan manis selama ini dijadikan pelarian atau penghibur saat menghadapi tekanan aktivitas harian.

Ketika opsi gula tambahan dihentikan, pola emosional tersebut mulai dicermati. Atas arahan terapis, ia belajar menghadapi emosi penyebab dorongan makan dengan rutin menuliskan perasaannya ke dalam jurnal pribadi.

Langkah ini membuat pengalamannya berkembang menjadi proses pemahaman diri. Di saat bersamaan, tingkat energi tubuh terasa jauh lebih stabil tanpa lonjakan serta penurunan kadar gula yang drastis.

Pada pekan ketiga, kejernihan pikiran mulai meningkat. Ferguson mengaku tidak lagi mengalami kondisi sulit berpikir jernih atau lambat secara mental, di samping emosi yang terasa lebih seimbang dan tidak mudah tersinggung.

Meski demikian, perubahan positif tersebut tidak bisa sepenuhnya diklaim akibat berhenti mengonsumsi gula semata. Kebiasaan baru seperti merencanakan camilan dan menulis jurnal turut memberikan pengaruh signifikan pada kondisi emosionalnya.

Secara medis, ahli gizi Jessica M. Kelly memaparkan bahwa konsumsi gula rafinasi berlebih dapat memicu fluktuasi kadar gula darah secara cepat. Kondisi ini erat kaitannya dengan timbulnya rasa lelah, emosi tidak stabil, serta penurunan konsentrasi.

Nolan Cohn menimpali bahwa kebiasaan mengonsumsi gula tinggi dalam jangka panjang berisiko meningkatkan kecenderungan depresi. Namun, hubungan tersebut bersifat kompleks karena kondisi mental yang memburuk juga dapat mendorong seseorang melakukan emotional eating.

Poin penting dari eksperimen ini adalah membedakan gula tambahan dengan gula alami. Gula alami pada buah dan susu hadir bersama serat, vitamin, serta antioksidan, sehingga mengurangi gula bukan berarti memangkas seluruh rasa manis alami.

Terkini