Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS per 2 September 2026

Rabu, 02 September 2026 | 02:59:02 WIB
Ilustrasi RupiahRupiah Dan Dollar.

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar mata uang rupiah diproyeksikan masih dibayangi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Rabu (2/9/2026). Laju rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif serta berpotensi terdepresiasi menuju kisaran Rp17.790 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rentang pergerakan rupiah sepanjang hari berada di kisaran Rp17.740 sampai Rp17.790 per dolar AS.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.740 sampai Rp17.790 per dolar AS,” kata Ibrahim, Selasa (1/9/2026).

Pada penutupan transaksi Selasa (1/9/2026), mata uang Garuda terkoreksi 22 poin ke posisi Rp17.744 per dolar AS. Rentetan tekanan tersebut dipicu oleh paduan sentimen dari ranah eksternal dan domestik.

Mengenai aspek internasional, Ibrahim menuturkan bahwa para pelaku pasar mencermati eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Tensi kawasan memanas lantaran Presiden AS Donald Trump menebar ancaman bakal melancarkan aksi gempuran balasan ke Iran pascabentrok langsung pada akhir pekan.

“Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran menyusul terjadinya saling serang secara langsung untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir pada hari Minggu. Hal ini meningkatkan ketegangan dalam konflik yang sebelumnya sempat beralih menjadi kebuntuan ekonomi,” ujarnya.

Di luar faktor Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) terus memegang peranan kunci. Ibrahim menguraikan narasi hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh saat Simposium Jackson Hole melipatgandakan ekspektasi lonjakan suku bunga acuan AS paling cepat pada September 2026.

Ekspektasi kebijakan tersebut berpotensi memperkokoh posisi dolar AS sekaligus memicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor pendek.

“Pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 66% untuk kenaikan suku bunga pada bulan September, naik dari sekitar 38% sebelum pidato Warsh,” kata Ibrahim.

Sementara dari ranah dalam negeri, perhatian investor terarah pada rilis deretan indikator makroekonomi terkini. Indonesia mencatatkan tingkat inflasi bulanan sebesar 0,21 persen (MtM) pada Agustus 2026, membalikkan posisi deflasi 0,14 persen pada bulan sebelumnya. Secara tahunan, inflasi Agustus 2026 berada di level 3,19 persen (YoY).

Di sisi lain, neraca perdagangan nasional berbalik membukukan surplus senilai US$120 juta pada Juli 2026, berbalik dari defisit US$450 juta pada Juni 2026. Capaian ekspor Indonesia sepanjang Juli 2026 menembus angka US$26,22 miliar atau bertumbuh 6,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berbekal serangkaian kalkulasi sentimen tersebut, rupiah diproyeksikan masih bergulat dengan tekanan. Ibrahim mematok area Rp17.740 hingga Rp17.790 per dolar AS sebagai koridor pergerakan rupiah.

Pada pembukaan perdagangan Rabu (2/9/2026), nilai tukar rupiah dibuka melosot 0,08 persen atau 14 poin ke posisi Rp17.758 per dolar AS. Pada saat bersamaan, indeks dolar AS (DXY) merangkak menguat 0,10 persen menuju posisi 99,77.

Ibrahim kembali menegaskan pergerakan mata uang domestik sepanjang hari masih akan diwarnai oleh akumulasi sentimen global maupun laporan indikator ekonomi dalam negeri.

"Hal ini meningkatkan ketegangan dalam konflik yang sebelumnya sempat beralih menjadi kebuntuan ekonomi," kata Ibrahim, Selasa (2/9/2026).

Menyikapi perkembangan nilai tukar, jajaran perbankan nasional merilis acuan kurs transaksi dolar AS. BCA mematok e-rate beli Rp17.760 dan jual Rp17.780, sedangkan tarif TT counter serta bank notes dipasang Rp17.570 (beli) dan Rp17.850 (jual).

Selanjutnya, BRI menetapkan e-rate sebesar Rp17.638 untuk beli dan Rp17.799 untuk jual, sementara layanan TT counter dipasang pada posisi Rp17.580 (beli) dan Rp17.880 (jual).

Bank Mandiri merilis special rate di level Rp17.730 untuk beli dan Rp17.760 untuk jual. Sektor TT counter maupun bank notes dipasang seragam pada angka beli Rp17.520 serta jual Rp17.820.

Sementara itu, BNI menetapkan special rates pada harga Rp17.755 (beli) dan Rp17.785 (jual). Jalur TT counter berada di angka Rp17.565 (beli) serta Rp17.865 (jual), lalu bank notes dipatok Rp17.620 (beli) dan Rp17.920 (jual).

Hingga pukul 13.04 WIB, rupiah terpantau masih tertekan 0,18 persen atau terkoreksi 32 poin menuju level Rp17.767 per dolar AS.

Memasuki pukul 14.13 WIB, laju penurunan rupiah tertahan tipis dengan pelemahan 0,16 persen atau merosot 29 poin di level Rp17.764 per dolar AS.

Terkini