Kemenperin-Pemkab Sidrap Dorong Teknologi Pengolahan Kopi Lokal

Jumat, 04 September 2026 | 18:23:31 WIB
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Hasil Perkebunan, Mineral Logam, dan Maritim (BBSPJIHPMM) mengukuhkan pengembangan teknologi pengelolaan kopi lokal lewat sinergi bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.

"Penguatan kerja sama ini dalam pengembangan industri berbasis komoditas unggulan daerah, khususnya peningkatan kualitas dan daya saing produk kopi Sidrap," kata Ketua Tim Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi, Konsultasi, dan Pendampingan Teknis BBSPJIHPMM Asma Assa, di Sidrap, Jumat.

Melalui rilis resminya pasca berdiskusi dengan Bupati Sidrap, BBSPJIHPMM bersama Dinas Perdagangan dan Perindustrian setempat siap merealisasikan program pembimbingan, penguatan kompetensi, beserta pengaplikasian teknologi industri bagi para pelaku usaha daerah.

Salah satu agenda yang dijadwalkan berjalan, jelasnya, yaitu penguatan kompetensi pengolah kopi lewat integrasi teknologi pascapanen yang melibatkan para produsen kopi lokal di Desa Leppangeng, Kecamatan Pitu Riase, Sidrap.

Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia memandang perbaikan mutu pengolahan menjadi kunci utama agar hasil bumi unggulan daerah dapat menyumbang nilai tambah yang lebih optimal bagi warga.

"Kopi merupakan salah satu komoditas andalan di daerah kami selain beras. Oleh karena itu, kualitasnya harus terus ditingkatkan, mulai dari proses pascapanen sampai menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi," ujarnya pula.

Lewat pengawalan teknologi dari Kemenperin ini, sebut Bupati, menjadi momentum bagi para pelaku usaha kopi di Sidrap untuk memacu mutu produk hingga memperluas cakupan pasar.

"Potensi kami ada. Tinggal bagaimana kami tingkatkan kualitas, kemasan, dan pemasarannya. Pemerintah daerah terus mendukung produk unggulan Sidrap tidak hanya dikenal di daerah, tetapi mampu bersaing di pasar yang lebih luas," ujarnya lagi.

Pihaknya berharapan kemitraan pengembangan industri pengolahan kopi dapat terbangun makin solid, sekaligus mendongkrak kapasitas pelaku usaha, serta memberi dampak positif bagi peningkatan penghasilan petani dan produsen kopi.

Di samping Desa Leppangan, hamparan perkebunan kopi turut membentang di desa-desa lain pada kawasan Kecamatan Pitu Riase. Di Dusun III Matajeng, Desa Tana Toro, Kelompok Tani Sipammasemase mengolah dua hektare lahan yang ditanami 4.000 pohon kopi robusta, dan sudah berproduksi sejak 2024.

Wilayah ini mempunyai karakteristik geografis yang menyokong ekspansi perkebunan kopi dalam skala lebih masif, bahkan sanggup memanen biji kopi bermutu tinggi hingga puluhan ton.

Menurut Bupati, beberapa titik di Kecamatan Pitu Riase masih menyimpan lahan kosong yang amat lapang untuk pengembangan budidaya kopi. Rencananya kawasan kecamatan ini bakal ditransformasi menjadi pusat produksi kopi, sehingga memerlukan bantuan intervensi dari pemerintah.

Peluang tersebut perlu direalisasikan guna mendongkrak pendapatan sekaligus memutar roda ekonomi pedesaan. Sebelumnya, ia sempat memanen kopi secara langsung dan mengecek alur hulling atau pengupasan kulit biji kopi (green bean) memanfaatkan mesin, dilanjutkan tahap pengeringan, pemilahan, sampai pengolahan sebelum memasuki proses penyangraian.

Terkini