JAKARTA — Seorang wanita asal California, Amerika Serikat, bernama Grace Jamison, nyaris buta total akibat kebiasaan menggunakan lensa kontak saat mandi. Ia pun berharap kejadian kelam yang menimpanya tidak dirasakan orang lain.
Jamison sudah rutin memakai lensa kontak sejak berumur 14 tahun. Karena memiliki agenda harian yang padat, ia terbiasa mengenakannya sepanjang hari termasuk saat mandi, lalu baru melepasnya menjelang tidur.
Saat menginjak usia 19 tahun atau sekitar setahun lalu, ia pindah ke Republik Dominika guna menjalankan misi LDS.
Mengikuti rutinitas yang biasa dijalaninya selama bertahun-tahun, ia tetap mandi tanpa melepas lensa kontak dan baru mencopotnya saat hendak beristirahat malam. Namun dari sinilah nasib buruk menimpanya.
"Saya tahu Anda tidak boleh berenang dengan lensa kontak, tetapi saya tidak pernah berpikir air mandi tidak aman untuk lensa kontak," ujar Jamison yang kini genap berusia 20 tahun, dikutip dari People pada Rabu (2/9/2026).
Setelah beberapa hari berlalu, Jamison baru menyadari ada gangguan pada penglihatannya. Awalnya mata terasa gatal dan kering, lalu dengan cepat berubah menjadi merah serta sangat sensitif terhadap paparan cahaya.
Gejalanya memburuk dalam waktu singkat. Hanya dalam kurun satu minggu, penglihatannya kian buram hingga ia hampir tidak mampu melihat menggunakan kedua matanya.
Saat memeriksakan diri, dokter sempat meresepkan obat tetes mata steroid karena mengira ia terkena infeksi herpes, yang justru makin memperparah kondisi matanya.
Seusai sebulan rutin berkonsultasi ke dokter mata, Jamison akhirnya mengantongi diagnosis pasti bahwa ia mengidap Acanthamoeba keratitis.
Merujuk data Cleveland Clinic, kondisi ini merupakan infeksi kornea akibat organisme mikroskopis sejenis amoeba. Pengguna lensa kontak serta individu berimunitas rendah memiliki risiko tinggi tertular infeksi ini.
"Ketika saya mengetahui bahwa banyak orang dengan Acanthamoeba keratitis kehilangan penglihatan mereka, saya sangat sedih. Sebagian dari diri saya berharap itu tidak akan terjadi pada saya, tetapi jauh di lubuk hati, saya pikir saya tahu betapa seriusnya itu," tutur Jamison.
Ia menegaskan infeksi ini tidak hanya mengintai di Republik Dominika, melainkan bisa terjadi di mana saja. Ia mendorong masyarakat untuk lebih sadar, terutama bagi mereka yang sering memaparkan lensa kontak dengan air.
Meski telah memperoleh diagnosis dan perawatan yang tepat, infeksi tetap menjalar hingga membuat Jamison sempat mengalami kebutaan total di kedua matanya selama empat bulan. Matanya yang sangat sensitif cahaya memaksanya terus berada di ruang gelap.
Bagi sosok yang aktif, kondisi ini merenggut kemandiriannya hingga aktivitas sederhana seperti makan pun menjadi hal yang sangat sulit dilakukan.
"Saya tidak tahu di mana letak barang-barang, dan saya tiba-tiba harus mempelajari kembali hal-hal yang selalu saya anggap biasa," katanya.
Memasuki bulan kelima, kondisi Jamison perlahan mulai membaik. Infeksi pada mata kirinya ternyata tidak terlampau parah jika dibandingkan dengan mata kanan.
Kini, setelah setahun berlalu, mata Jamison masih menyisakan kerusakan serta bekas luka. Namun berkat bantuan kacamata, penglihatannya kini sudah kembali jelas.
Ia pun masih wajib menjalani pengobatan rutin untuk menuntaskan infeksi, termasuk menggunakan obat tetes mata yang menimbulkan rasa perih luar biasa.
"Saya sudah lebih terbiasa selama setahun terakhir, tetapi tetap saja sakit. Jadi bukan hanya Acanthamoeba yang menyerang mata saya yang menyakitkan, pengobatannya sendiri juga bisa sangat menyakitkan," tutur Jamison.
Jamison mengingatkan publik agar selalu waspada dalam menjaga kesehatan mata. Hanya karena belum pernah mengalaminya sekarang, bukan berarti ancaman itu tidak bisa terjadi di masa depan.
"Tolong jangan pernah mengambil risiko dengan penglihatan Anda. Itu sama sekali tidak sepadan. Saya tahu itu karena saya hidup dengan konsekuensinya," ucapnya.