Perjalanan Kinerja Keuangan Bukit Asam PTBA dalam 10 Tahun Terakhir

Sabtu, 05 September 2026 | 20:45:31 WIB
Pekerja meninjau tambang batu bara milik PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di Tanjung Enim.

JAKARTA - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan perjalanan kinerja keuangan yang bervariasi sepanjang periode 2014 hingga 2025.

Pendapatan perseroan dalam rentang satu dekade terakhir melonjak lebih dari tiga kali lipat, meski capaian tersebut tidak selalu beriringan dengan perolehan laba bersih.

Merujuk pada laporan keuangan tahunan PTBA, pendapatan perseroan merangkak naik dari posisi Rp13,08 triliun pada 2014 menjadi Rp42,65 triliun pada 2025.

Di sisi lain, laba bersih bergerak lebih dinamis dan sempat menyentuh rekor tertinggi Rp12,57 triliun pada 2022 sebelum melandai ke angka Rp2,93 triliun pada 2025.

Pada 2014, PTBA mengantongi pendapatan sebesar Rp13,08 triliun dengan perolehan laba bersih Rp1,86 triliun.

Setahun berselang, pendapatan meningkat 5,87 persen menjadi Rp13,85 triliun, disusul kenaikan laba bersih 9,41 persen menjadi Rp2,04 triliun.

Memasuki 2016, pertumbuhan laju bisnis PTBA bergerak lebih lambat. Pendapatan hanya tumbuh tipis 1,54 persen menjadi Rp14,06 triliun, sementara laba bersih terkoreksi 1,46 persen menjadi Rp2,01 triliun.

Lonjakan signifikan mulai terlihat pada 2017 ketika pendapatan PTBA melesat 38,50 persen menjadi Rp19,47 triliun, diikuti pertumbuhan laba bersih hingga 123,13 persen menjadi Rp4,48 triliun.

Tren positif berlanjut pada 2018 dengan pendapatan yang tumbuh 8,71 persen menjadi Rp21,17 triliun serta laba bersih yang naik 12,23 persen menjadi Rp5,02 triliun.

Capaian tersebut menandai kali pertama laba bersih perseroan berhasil menembus ambang batas Rp5 triliun.

Namun, pada 2019 laba bersih berbalik turun 19,25 persen menjadi Rp4,06 triliun di saat pendapatan masih tumbuh 2,93 persen menjadi Rp21,79 triliun.

Tekanan kian terasa pada 2020 akibat dampak pandemi Covid-19 yang mengoreksi pendapatan sebesar 20,48 persen menjadi Rp17,33 triliun dan laba bersih melandai 41,17 persen menjadi Rp2,39 triliun.

Kinerja perseroan berhasil bangkit pada 2021 dengan pendapatan melesat 68,90 persen menjadi Rp29,26 triliun, serta laba bersih melonjak 231,37 persen menjadi Rp7,91 triliun.

Kenaikan berlanjut hingga 2022 saat pendapatan mencapai Rp42,65 triliun atau tumbuh 45,75 persen, dan laba bersih mencetak rekor historis Rp12,57 triliun.

Pascapuncak kinerja tersebut, PTBA memasuki fase normalisasi. Pada 2023, pendapatan turun 9,75 persen menjadi Rp38,49 triliun dan laba bersih tergerus 51,42 persen menjadi Rp6,11 triliun.

Pendapatan kembali menguat pada 2024 sebesar 11,11 persen menjadi Rp42,76 triliun, tetapi laba bersih masih turun 16,41 persen menjadi Rp5,10 triliun.

Pada 2025, pendapatan PTBA relatif stabil di level Rp42,65 triliun atau terkoreksi tipis 0,26 persen, sedangkan laba bersih mengalami penurunan 42,59 persen menjadi Rp2,93 triliun.

Memasuki semester I/2026, perseroan mengantongi pendapatan Rp22,03 triliun atau tumbuh 7,7 persen secara tahunan, dengan laba bersih mencapai Rp2,65 triliun yang naik 218,1 persen.

Secara keseluruhan, pola kinerja PTBA memperlihatkan dinamika yang berbeda antara pertumbuhan pendapatan yang konsisten naik dan pergerakan laba bersih yang fluktuatif.

Terkini