JAKARTA — Apple dilaporkan siap meluncurkan lini iPhone generasi terbarunya pada bulan ini. Berseberangan dengan pola peluncuran pada tahun-tahun terdahulu, raksasa teknologi asal Cupertino ini dikabarkan bakal mendahulukan rilis varian Pro tanpa membawa model reguler maupun Plus.
Lini iPhone 18 Pro beserta iPhone 18 Pro Max nantinya digadang-gadang meluncur bersama gawai layar lipat perdana yang kemungkinan mengusung nama iPhone Ultra.
Di samping itu, rumor lain membeberkan bahwa patokan harga iPhone 18 Pro diproyeksikan bakal meroket akibat lonjakan biaya suku cadang yang tergolong tinggi.
Riset teranyar dari lembaga TrendForce menaksir adanya potensi kenaikan harga pada iPhone 18 Pro sebesar 10 hingga 20 persen jika dibandingkan dengan iPhone 17 Pro.
Kenaikan tersebut setara dengan estimasi nominal 150 dollar AS sampai 200 dollar AS, atau berkisar Rp2,6 juta hingga Rp3,5 juta.
Merujuk pada kalkulasi TrendForce, iPhone 18 Pro bakal dibanderol pada kisaran 1.249 dollar AS hingga 1.299 dollar AS, atau sekitar Rp22 juta sampai Rp22,9 juta.
Apabila estimasi ini presisi, maka angka penjualan iPhone 18 Pro terbukti lebih mahal dibanding iPhone 17 Pro yang kala itu debut di angka 1.099 dollar AS atau setara Rp19,3 juta.
Di sisi lain, harga iPhone 18 Pro Max diproyeksikan merambat naik 150 dollar AS hingga 200 dollar AS, sehingga nilainya menyentuh 1.349 dollar AS sampai 1.399 dollar AS, atau sekitar Rp23,7 juta hingga Rp24,6 juta.
Banderol ini melampaui harga awal iPhone 17 Pro Max yang dipasarkan pada angka 1.199 dollar AS atau sekitar Rp21,1 juta.
Selain varian Pro, TrendForce turut meyakini bahwa gawai lipat iPhone Ultra bakal dipasarkan mulai dari rentang harga 2.099 dollar AS hingga 2.299 dollar AS, yang berkisar antara Rp37 juta sampai Rp40 juta.
Adapun opsi konfigurasi memori tertinggi dari gawai ini berpotensi dipatok hingga 3.000 dollar AS atau menyentuh kisaran Rp52 juta.
Melalui laporan yang sama, TrendForce juga memaparkan perkiraan harga untuk iPhone 18 versi reguler, walaupun varian ini dikabarkan baru menyapa publik pada 2027 mendatang.
iPhone 18 reguler tersebut turut diprediksi mengalami lonjakan harga sebesar 10 hingga 20 persen lebih mahal dibanding iPhone 17.
Pemicu utama yang mendorong kenaikan ini tak lain adalah lonjakan biaya produksi komponen memori 256 GB yang meroket hingga nyaris 400 persen dari tahun ke tahun.
"Untuk model Pro dengan kapasitas 256 GB, biaya memori pada kuartal III-2026 diperkirakan naik hampir 400 persen dibanding tahun sebelumnya," kata TrendForce dalam laporannya, dikutip KompasTekno dari 9to5Mac.
Lonjakan harga suku cadang tersebut secara otomatis mengatrol total biaya manufaktur iPhone secara keseluruhan.
Analisis terpisah dari TrendForce memperkirakan bill of materials (BOM) atau total biaya komponen iPhone Pro kapasitas 256 GB membengkak sekitar 38 persen dibanding periode serupa tahun lalu.
Kendati demikian, pihak Apple diprediksi tidak akan membebankan seluruh lonjakan biaya ini secara mentah-mentah kepada calon pembeli.
Apple kemungkinan memilih menyerap sebagian beban kenaikan biaya dengan mengorbankan margin profit perusahaan demi menahan lonjakan harga iPhone agar tidak melonjak terlalu ekstrem.
Dinamika ini terbilang kontras dengan situasi tahun lalu ketika Apple masih sanggup menahan harga jual iPhone 17 Pro Max di kawasan Amerika Serikat.
Tahun ini, pembengkakan biaya memori menjadi kendala yang lebih berat bagi industri manufaktur elektronik akibat pesatnya permintaan dari sektor infrastruktur AI.
Pembangunan pusat data dan infrastruktur AI secara masif mendongkrak kebutuhan komponen memori secara global, sehingga memicu lonjakan harga di pasar secara keseluruhan.