Deretan Aksi Akuisisi Rukun Raharja (RAJA) Perkuat Bisnis Energi

Kamis, 10 September 2026 | 00:10:02 WIB
Fasilitas infrastruktur gas PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) kembali memperbesar cakupan usahanya lewat langkah akuisisi. Paling baru, perseroan melalui entitas anak usahanya PT Raharja Gas Kasuri resmi memuat alih 5% kepemilikan saham PT Layar Nusantara Gas (LNG), perusahaan bagian Grup Genting yang tengah menggarap sarana pemrosesan gas guna proyek Floating Liquefied Natural Gas (FLNG) Kasuri.

Corporate Secretary Rukun Raharja Yuni Pattinasarani membeberkan bahwa PT Raharja Gas Kasuri bersama Genting LNG Pte. Ltd. telah memaraf Akta Jual Beli Saham pada 4 September 2026 sebagai babak akhir transaksi jual beli saham yang sebelumnya telah disepakati pada 29 April 2026.

"Pada tanggal 4 September 2026, PT Raharja Gas Kasuri bersama Genting LNG Pte. Ltd. (‘Genting LNG’) telah menandatangani Akta Jual Beli Saham di hadapan notaris sebagai penyelesaian (completion) atas Share Sale and Purchase Agreement (‘SSPA’) yang telah ditandatangani sebelumnya pada tanggal 29 April 2026," ujar Yuni dalam keterbukaan informasi, Selasa (8/9/2026).

Lewat transaksi itu, Raharja Gas Kasuri yang bertindak sebagai anak usaha RAJA dengan kepemilikan 99,99% resmi mengambil alih 5% porsi saham Layar Nusantara Gas dari Genting LNG. Nilai transaksi tersebut tercatat menyentuh angka US$38,575 juta atau setara Rp670,2 miliar dengan perhitungan nilai tukar Rp17.375 per dolar AS.

Yuni menerangkan, transaksi tersebut dijalankan dalam koridor ekspansi bisnis RAJA sekaligus menjadi pijakan kerja sama strategis perseroan bersama Grup Genting Berhad dalam pengembangan serta pengelolaan operasional FLNG.

“Transaksi tersebut dilakukan dalam rangka pengembangan bisnis Perseroan dan merupakan bagian dari kemitraan strategis Perseroan dengan grup Genting Berhad dalam pengembangan dan operasional Floating Liquefied Natural Gas (‘FLNG’),” kata Yuni.

Layar Nusantara Gas sendiri merupakan anak perusahaan lain dari Genting Energy yang sedang membangun fasilitas pengolahan gas darat (onshore gas processing plant). Sarana tersebut diproyeksikan untuk menampung dan mengolah gas bumi dari Blok Kasuri sebelum disalurkan ke fasilitas FLNG berkapasitas 1,2 juta ton per tahun (MTPA) yang sedang digarap.

 Proyek ini bagian dari skema pengembangan Genting FLNG guna memproses gas alam menjadi liquefied natural gas (LNG).

Akuisisi Grup Hafar

Sebelumnya, pada 2025, RAJA mengeksekusi akuisisi Grup Hafar berkolaborasi dengan PT Petrosea Tbk. (PTRO). RAJA mencaplok 49% saham PT Hafar Daya Konstruksi (HDK) serta 49% saham PT Hafar Daya Samudera (HDS). Di sisi lain, PTRO mengamankan 51% porsi saham Grup Hafar sehingga kepemilikan kedua entitas terbagi antara RAJA dan PTRO. 

Total nilai akuisisi yang menjadi porsi RAJA mencapai Rp384,22 miliar, yang mencakup Rp230,53 miliar untuk akuisisi HDK dan Rp153,69 miliar untuk HDS.

Sekretaris Perusahaan Rukun Raharja Yuni Pattinasarani menerangkan bahwa perseroan telah memaraf Akta Jual Beli Saham sehubungan dengan pengambilalihan saham dua entitas bisnis Grup Hafar pada 15 Agustus 2025.

"Transaksi ini sejalan dengan roadmap bisnis perseroan dan merupakan bagian dari strategi pengembangan sektor midstream," tulisnya dalam keterbukaan informasi, Jumat (15/8/2025).

HDK merupakan perseroan yang beroperasi di bidang konstruksi bangunan sipil untuk industri minyak dan gas bumi, meliputi aktivitas engineering, procurement, dan instalasi di wilayah Indonesia. Sementara itu, HDS merupakan entitas yang bergerak di bidang layanan angkutan laut di Indonesia.

Yuni menuturkan, Hafar Group dipilih lantaran memiliki keahlian di bidang offshore engineering, procurement, construction & installation (EPCI) serta penguasaan surat izin usaha pengangkutan laut (SIUPAL) yang dapat dimanfaatkan perseroan guna merambah bisnis perkapalan minyak dan gas.

"Dengan demikian, akuisisi ini menjadi langkah strategis awal perseroan dalam memperluas portofolio usaha dan memperkuat posisi di industri energi terintegrasi," ujar Yuni dalam keterbukaan informasi, dikutip Rabu (19/11/2025).

Dalam laporan tahunan 2025, RAJA tercatat menguasai 49% saham HDK atau setara 149.450 lembar saham. Perseroan juga menggenggam 49% saham HDS atau sebanyak 315,07 ribu lembar saham.

Akuisisi Karya Mineral Jaya

Setahun sebelumnya, pada 2024, RAJA menuntaskan akuisisi PT Karya Mineral Jaya (KMJ). Merujuk laporan tahunan perusahaan, RAJA membeli 55% saham KMJ dari PT Mitra Sukses Usaha bernilai Rp23,7 miliar. Di luar pembelian saham tersebut, RAJA turut menyerap penerbitan saham baru KMJ senilai Rp19,121 miliar. Dengan demikian, total nilai transaksi akuisisi KMJ secara keseluruhan menembus Rp42,821 miliar.

Karya Mineral Jaya merupakan entitas yang beroperasi pada niaga distribusi gas alam dan menjadi pilar dari ekspansi bisnis RAJA untuk wilayah Kalimantan Utara.

Akuisisi Blok Jabung

Rekam jejak akuisisi perusahaan membentang hingga 2023. Pada tahun tersebut, RAJA melalui entitas anak usahanya PT Raharja Energi Tanjung Jabung membeli 8% participating interest (PI) Wilayah Kerja Jabung di Jambi dari PT GPI Jabung Indonesia.

Corporate Secretary Rukun Raharja Yuni Pattinasarani membeberkan bahwa RETJ dan GPI telah memaraf Perjanjian Jual Beli Participating Interest Bersyarat pada 7 Juni 2023 yang lantas mengalami penyesuaian terakhir lewat adendum pada 6 September 2023.

“Pada tanggal 7 Juni 2023, RETJ dan GPI telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Parcitipating Interest Bersyarat sebagaimana diubah dengan perubahan terakhir berdasarkan Amandemen Perjanjian Bersyarat tersebut pada tanggal 6 September 2023,” kata Yuni dalam keterbukaan informasi, dikutip Kamis (4/1/2024).

Yuni menegaskan bahwa aksi akuisisi ini akan memberi dorongan pada pendapatan dan laba RAJA. Selain itu, portofolio perseroan pada bidang investasi hulu migas menjadi semakin solid. Langkah akuisisi tersebut turut membuka celah atas potensi bisnis penunjang hulu migas milik RAJA, seperti pembangunan infrastruktur migas dan alokasi migas.

Kinerja RAJA Semester I/2026

Rangkaian aksi ekspansi akuisisi tersebut berlangsung beriringan dengan melajunya performa keuangan RAJA. Sepanjang semester I/2026, perseroan membukukan laba bersih senilai US$28,89 juta, melejit 88% disandingkan dengan perolehan rentang sama tahun sebelumnya sebesar US$15,37 juta.

Pendapatan RAJA pada rentang waktu tersebut tercatat menyentuh US$131,19 juta, merangkak naik sekitar 3% jika dibandingkan angka US$127,64 juta pada semester I/2025.

Direktur Utama Rukun Raharja Djauhar Maulidi mengungkapkan bahwa lonjakan laba bersih disokong oleh masuknya kontribusi penuh dari proyek Sengkang Gas Compressor, naiknya perolehan pendapatan investasi dari PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC), kontribusi Grup Hafar, serta keuntungan pencatatan akuntansi atas akuisisi participating interest Blok Madura melalui PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU).

"Kami melihat Semester I 2026 sebagai periode yang menunjukkan ketahanan model bisnis Perseroan. Meskipun masih menghadapi tantangan pada beberapa aktivitas operasional, kami berhasil menjaga pertumbuhan kinerja melalui kombinasi disiplin operasional, optimalisasi portofolio investasi, serta momentum positif dari sektor hulu," ujar Djauhar dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).

Djauhar merinci, kenaikan pendapatan investasi dari PJUC ikut terdorong oleh rata-rata harga minyak yang menyentuh level kisaran US$117 per *barrel oil equivalent per day* (BOEPD), jauh melampaui pencapaian sekitar US$74 pada kurun waktu sama tahun sebelumnya.

Pada lini operasional, pertumbuhan pendapatan turut ditopang kontribusi penuh proyek Sengkang Gas Compressor yang telah masuk fase komersial. Sumbangan ini mampu menutupi susutnya volume penjualan gas akibat gangguan teknis pada jaringan pipa gas wilayah Sumatra.

Satu garis lurus dengan kenaikan pendapatan, laba kotor perseroan meningkat menjadi US$47,21 juta dari posisi US$37,66 juta pada semester I/2025. Laba usaha ikut naik menyentuh US$39,39 juta ketimbang US$26,02 juta pada rentang sama tahun lalu. Sementara itu, laba sebelum pajak bertengger di angka US$39,57 juta, naik dari US$24,06 juta pada semester I/2025. Adapun adjusted EBITDA naik mencapai US$57,33 juta dari posisi sebelumnya US$38,97 juta.

Djauhar menegaskan bahwa perseroan bakal terus mengeksekusi agenda-agenda strategis pada paruh kedua 2026, termasuk percepatan pembangunan infrastruktur energi hingga optimalisasi aset yang telah beroperasi.

Terkini