Kementerian ESDM Catat Produksi Batu Bara Capai 423 Komma 71 Juta Ton

Kamis, 10 September 2026 | 00:16:32 WIB
Batu bara dimuat ke tongkang di Pelabuhan Marunda.

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi batu bara nasional sampai Juli 2026 sudah menyentuh angka 423,71 juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno menyatakan pencapaian tersebut masih sesuai dengan jalur target produksi secara keseluruhan pada 2026.

"Memasuki periode hingga Juli 2026, total produksi batu bara tercatat telah mencapai 423,71 juta ton," ungkap Tri dalam agenda Ulang Tahun ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di JIExpo Kemayoran, Kamis (10/9/2026).

Dari total volume 423,71 juta ton itu, porsi pengapalan ekspor mendominasi sebanyak 63,82 persen (270,40 juta ton). Sementara pasokan kebutuhan domestik menyerap 26,86 persen (113,40 juta ton) dan sisa 9,32 persen (39,51 juta ton) menjadi cadangan nasional.

Bila disandingkan dengan rincian Buku Saku Ditjen Minerba, total volume produksi batu bara Indonesia pada 2025 lalu menyentuh 817,48 juta ton.

Dari perolehan 2025 tersebut, porsi 63,89 persen (522,35 juta ton) dialokasikan untuk ekspor, 30,2 persen (246,88 juta ton) dipakai memenuhi Domestic Market Obligation (DMO), serta 5,9 persen (48,25 juta ton) dialokasikan sebagai stok nasional.

Dari sisi penetapan harga, rerata pergerakan Harga Batubara Acuan (HBA) periode Januari hingga Agustus 2026 memperlihatkan tren stabil namun cenderung menguat.

Tercatat HBA 6322 GAR berada pada kisaran US$111,8/ton, HBA I (5300 GAR) senilai US$79,3/ton, HBA II (4100 GAR) sebesar US$54,2/ton, dan HBA III (3400 GAR) di level US$38,3/ton.

"Tingginya harga ini didukung oleh kondisi pasar ekspor batu bara Indonesia yang masih didominasi oleh kuatnya permintaan dari China dan India," tambahnya.

Guna menyikapi pergerakan ini, pemerintah merancang aturan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 demi menata serta menyeimbangkan porsi pasokan, harga, dan keberlanjutan cadangan.

Di lain sisi, khusus untuk tahun ini, Tri memperkirakan tingkat permintaan batu bara mengalami kenaikan tipis.

"Untuk tahun ini ada kenaikan, tapi tetap cenderung tipis," katanya.

Berdasarkan dinamika kawasan regional maupun global, Kementerian ESDM memaparkan gambaran (outlook) sektor batu bara kurun waktu 2026–2030:

2026: Permintaan global cenderung mengalami penurunan tipis.

2027: India beserta kawasan negara ASEAN bertahan sebagai pasar pertumbuhan utama.

2028–2029: Tekanan dari sektor energi terbarukan makin menguat, menjadi pijakan akselerasi hilirisasi batu bara.

2030: Produsen yang unggul merupakan mereka yang menerapkan efisiensi biaya (low-cost), andal dalam penyaluran, serta menerapkan prinsip ESG secara kuat.

"Jadi implikasi kunci bagi Indonesia untuk merespons dinamika ini adalah dengan menerapkan optimum production, penguatan kewajiban DMO, peningkatan efisiensi logistik, serta pelaksanaan program hilirisasi batu bara secara selektif," jelasnya.

Untuk diketahui, Kementerian ESDM memangkas proyeksi target produksi batu bara nasional pada RKAB 2026 menjadi kisaran 600 juta ton.

Langkah penyesuaian ini diambil sebagai strategi pemerintah mengontrol suplai batu bara di pasar global demi menjaga stabilitas harga sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan komoditas energi tersebut.

Penurunan kuota ke level 600 juta ton ini terbilang signifikan dibanding realisasi produksi batu bara nasional tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka 800 juta ton.

Selama proses penerbitan dan persetujuan RKAB, Kementerian ESDM berfokus menyeleksi pengajuan dari pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) agar volume produksi tetap terjaga dalam batas yang direncanakan.

Meski kuota diturunkan, pemerintah menegaskan pemenuhan kebutuhan dalam negeri (DMO)—khususnya pasokan PLTU PT PLN (Persero)—tetap diprioritaskan.

Di samping itu, Kementerian ESDM tetap membuka peluang evaluasi dan mekanisme relaksasi kuota secara terukur bagi penambang jika terjadi fluktuasi peningkatan permintaan pasar pada masa mendatang.

Terkini