Varsam Kurnia Ungkap Pentingnya Identitas Personal di Tengah Gempuran AI

Jumat, 11 September 2026 | 02:42:01 WIB
Hedgren x Varsam Kurnia [FOTO: NET].

JAKARTA - Kehadiran teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sukses membawa kemudahan serta kecepatan dalam memproduksi pelbagai karya visual. Situasi ini di sisi lain turut memunculkan tantangan tersendiri bagi kalangan kreator agar konsisten mempertahankan ciri khas karakter pada setiap karya yang mereka ciptakan.

Seorang seniman ilustrator sekaligus pemilik jenama Something's to Keep, Varsam Kurnia, mengutarakan sudut pandang personalnya terkait fenomena tersebut. Ia sekaligus membagikan sejumlah kiat aplikatif yang biasa diterapkannya manakala menghadapi kebuntuan dalam mengarungi proses kreatif.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Varsam tatkala dijumpai dalam rangkaian acara Exclusive Preview Hedgren AW26 Collection sekaligus peluncuran kolaborasi Travel Essentials Collection Hedgren x Varsam Kurnia di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, pada hari Rabu (9/9/2026).

Menjaga Karya Tetap Autentik Personal Voice sebagai Identitas

Bagi Varsam, kepemilikan karakter personal memegang peranan krusial dalam penciptaan sebuah karya. Menurut pandangannya, seorang kreator tidak sekadar merancang sesuatu secara visual semata, melainkan turut menyampaikan pesan mendalam yang bersumber dari dalam dirinya sendiri.

“Dari aku sih aku merasa kalau itu semua tentang personal voice, suara pribadi kami sebagai manusia, sebagai seorang pribadi. Dan apa yang kami mau sampaikan lewat gambar itu sendiri sih,” terang Varsam.

Ia menilai bahwa esensi tersebut senantiasa relevan meskipun para kreator harus berjibaku di tengah sengitnya tingkat kompetisi, termasuk masifnya adopsi teknologi AI yang kini kian luas dimanfaatkan dalam ranah penciptaan karya kreatif.

“Jadi walaupun banyak kompetisi, walaupun banyak AI sekarang, tapi suatu esensi manusia itu gak akan bisa bohong,” ujarnya.

Esensi yang Tidak Bisa Direplikasi

Varsam menuturkan bahwa muatan unsur autentik yang melekat pada diri seorang kreator mampu membuat sebuah karya menjadi lebih mudah terhubung secara emosional dengan audiensnya.

“Something yang authentic dari diri kami, dan orang juga akan resonate dengan hal itu,” katanya.

Menurut pandangan Varsam, setiap individu dibekali karakter serta latar belakang pengalaman hidup yang berlainan satu sama lain. Keunikan disparitas tersebut kelak bertransformasi menjadi bagian intrinsik dalam karya yang memberikan nilai personal yang kuat.

“Karena masing-masing itu dua pribadi, dan pasti ada hal yang esensi dari itu yang pasti resonate ke orang,” ujar Varsam.

Lebih lanjut, ia memandang unsur karakter tersebut sebagai dimensi otentik yang tidak gampang ditiru ataupun digantikan oleh produk karya buatan mesin yang sekadar menjiplak teknologi.

“Yang gak bisa direplika dari yang niru, atau dari AI itu sendiri sih,” lanjutnya.

Tetap Berkarya Saat Art Block

Kondisi art block merujuk pada fase ketika seseorang mendapati dirinya terperangkap dalam jurang kebuntuan proses kreatif, sehingga merasa kesulitan untuk merumuskan ide segar ataupun menelurkan karya seperti sediakala. Situasi pelik ini kerap kali menyulitkan para kreator untuk mempertahankan produktivitas mereka.

Menurut pandangan Varsam, ketika seseorang sedang dilanda art block, ia sama sekali tidak perlu memaksakan diri secara berlebihan untuk terus berkarya di atas medium yang persis sama. Ia justru menganjurkan agar kreativitas tersebut tetap disalurkan melalui jalur eksplorasi bentuk medium alternatif lainnya.

“Tips untuk teman yang lagi art block itu, buatku sih tetap berkreasi, tapi dalam medium lain,” terang Varsam.

Sebagai bentuk ilustrasi nyata, ia memaparkan bahwa manakala dirinya sedang kehilangan mood untuk melukis atau menggambar, ia dapat mengalihkan fokus pada aktivitas artistik lain, seperti mencoba merajut keramik, membentuk clay, ataupun menghias objek benda di sekitarnya.

Melalui perpindahan medium ekspresi tersebut, Varsam tetap sanggup mengalirkan energi kreatifnya tanpa harus membebani diri untuk menelurkan produk gambar di tengah kondisi buntu.

“Jadi tetap mengarahkan that creative energy, but through a different medium untuk nge-unblock that creative block itu sendiri sih,” pungkas Varsam.

Terkini