Bahaya Kebiasaan Anak Menahan BAB Saat Toilet Training Menurut Ahli

Jumat, 11 September 2026 | 04:51:31 WIB
Ilustrasi toilet training.

JAKARTA – Proses melatih kemandirian anak untuk buang air di kamar mandi atau toilet training sering menghadapi berbagai kendala. Salah satu masalah yang paling sering dikeluhkan orang tua adalah kebiasaan anak menahan buang air besar (BAB) secara sengaja.

Kebiasaan menahan kotoran di dalam usus perlu diwaspadai karena berdampak langsung pada kelancaran fungsi saluran pencernaan anak.

"Kalau ditahan terus, sembelit ya," kata spesialis anak konsultan gastrohepatologi, Dr. dr. Andy Darma, Sp.A, Subsp.GH(K), dalam peluncuran Gut and Immunity Council (GIC) di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Mekanisme kerja tubuh saat merespons tumpukan volume pada saluran kemih dan saluran pencernaan sangat berbeda. Secara biologis, anak tidak bisa menahan buang air kecil hingga hitungan hari karena struktur kandung kemih tergolong terbatas dan kaku.

"Enggak ada orang nahan pipis lalu dia enggak bisa pipis seminggu. Kenapa? Karena kandung kemih kan terbatas," jelas dr. Andy.

Anatomi tersebut berbanding terbalik dengan bagian pembuangan akhir pada organ pencernaan. Dinding usus memiliki kelenturan yang memungkinkannya membesar, melebar, serta memanjang untuk menampung penambahan volume kotoran.

"Bisa membesar, bisa melebar, bisa memanjang. Jadi bisa saja anak itu menahan (buang air besar)," sebut dr. Andy.

Saat anak menolak pergi ke kamar mandi, rasa mulas perlahan akan mereda lalu hilang. Kotoran yang ditahan akan menetap di usus besar dan mengalami penyerapan cairan secara berulang.

"Semakin lama (kotoran) semakin kering, dan semakin keras," papar dr. Andy.

Feses yang keras dan kering dapat melukai dinding mukosa serta memicu rasa nyeri saat anak akhirnya buang air. Pengalaman nyeri tersebut membuat anak kembali menahan kotorannya di kemudian hari.

"BAB keras menyebabkan nyeri. Nyeri menyebabkan menahan. Menahan menyebabkan bertambah keras. Jadi muter saja," ujar dr. Andy.

Keengganan anak pergi ke toilet meski sudah diberi obat pelunak feses sering berakar dari masalah krisis kepercayaan kepada orang tua. Sikap trust issue timbul akibat kebohongan kecil terkait tindakan medis di masa lalu, seperti mengklaim obat tidak pahit atau suntikan tidak sakit.

"Kadang-kadang anak itu jadi trust issue. Jadi, salah satu cara untuk toilet training adalah kami harus menghilangkan trust issue," ungkap dr. Andy.

Anak yang kehilangan rasa percaya menganggap ajakan ke toilet sebagai klaim palsu yang akan berujung rasa sakit.

"Pada saat kami lembekkan (menggunakan obat), kami sudah yakin bahwa sebetulnya tuh (buang air besar) enggak sakit. Tapi dia masih nahan kadang-kadang (karena trust issue)," ucap dr. Andy.

Pola BAB setelah konsultasi dokter perlu diiringi komunikasi transparan. Orang tua bertugas memberikan rasa aman saat efek obat pencahar bekerja dan memastikan prosesnya bebas nyeri.

Menurut dr. Andy, afirmasi jujur sangat penting untuk memutus siklus sembelit dan kebiasaan menahan BAB.

"Tugas kami afirmasi. 'Tadi sakit enggak?', 'Enggak', 'Berarti besok jangan ditahan ya'. Begitu-itu," terang dr. Andy.

Terkini