JAKARTA - Pimpinan tertinggi Ajax Amsterdam, yakni sang Chief Executive Officer (CEO) Menno Geelen beserta Head of Football Partnerships, Corne Groenendijk, membeberkan secara blak-blakan perihal strategi matang klub dalam merintis pembangunan fondasi talenta muda sekaligus konsisten menjaga stabilitas keberlanjutan klub.
Duet pimpinan penting Ajax Amsterdam tersebut hadir dan bertindak sebagai narasumber utama dalam perhelatan akbar forum Indonesia Sport Summit 2026 yang diselenggarakan secara resmi di kompleks Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, pada hari Sabtu (12/9/2026).
Di dalam sesi diskusi panel yang mengusung tema khusus bertajuk "Global Leadership Forum: Beyond The Pitch: How Football Clubs Create Sustainable Economic and Community Value", Geelen bersama Groenendijk membagikan akumulasi pengalaman berharga Ajax dalam mengelola manajemen klub dengan mengedepankan perspektif orientasi target jangka panjang.
Corne Groenendijk memaparkan pandangannya bahwa unsur rasa memiliki (sense of belonging) yang mendalam dari tiap-tiap elemen anggota klub, dipadu penerapan pola pikir berorientasi jangka panjang, menjelma sebagai rahasia utama bagi Ajax dalam mengawal keberlangsungan eksistensi klub.
Sebagai bentuk ilustrasi nyata, ia menunjuk pada fase titik nadir krisis yang melanda skuad Ajax pada kurun musim kompetisi 2017-2018 tatkala klub terpaksa menelan pil pahit gagal lolos dari babak fase kualifikasi Liga Champions maupun Liga Europa, sehingga praktis absen total dari kancah panggung turnamen Eropa.
Pembenahan Besar Ajax Amsterdam Situasi pelik tersebut secara otomatis memicu manajemen Ajax guna segera mengeksekusi serangkaian langkah restrukturisasi pembenahan secara masif, mencakup aspek tata kelola komersial hingga penguatan kualitas kedalaman materi skuad tim utama.
Memasuki bursa transfer musim panas 2018, pihak manajemen Ajax membuat gebrakan dengan memboyong dua sosok pemain berkaliber pengalaman tinggi, yakni gelandang serang Dusan Tadic yang direkrut dari Southampton serta bek tangguh Daley Blind yang dipinang dari Manchester United. Inklusi investasi strategis berani tersebut terbukti berbuah manis lewat pencapaian hasil prestasi gemilang.
Pada musim kompetisi 2018-2019 berikutnya, skuad Ajax sukses merengkuh pencapaian gemilang memborong dua gelar juara domestik sekaligus, yakni titel Eredivisie dan KNVB Beker, serta secara luar biasa melaju mulus hingga menembus babak semifinal ajang bergengsi Liga Champions.
"Tentu saja. Maksud saya, kami bekerja sama dengan Menno Geelen, CEO kami, serta Marc Overmars, mantan pemain Ajax dan Barcelona yang menjabat sebagai direktur teknik," ujar Groenendijk.
"Salah satu peristiwa paling penting bagi departemen komersial terjadi pada 2018. Tahun sebelumnya adalah masa yang sangat buruk bagi kami; kami tidak berlaga di kompetisi Eropa, benar-benar tahun yang mengecewakan."
"Namun pada musim panas itu, kami berhasil mendatangkan satu atau dua bintang besar, yakni Dusan Tadic dan Blind."
"Marc Overmars, direktur teknik kami, mengatakan bahwa berkat kinerja departemen komersial yang sangat baik, yang berhasil mengumpulkan dana besar, kami tidak hanya mampu membeli satu pemain bintang, melainkan dua," tambahnya.
Investasi Akademi Ajax Lebih lanjut, Groenendijk menekankan prinsip bahwa alokasi arus investasi finansial Ajax tidak pernah semata-mata difokuskan hanya untuk memburu pembelian pemain bintang baru di bursa transfer. Pihak manajemen klub secara konsisten terus menggelontorkan kucuran dana besar guna membiayai program pengembangan sistem akademi usia dini.
Selama ini, akademi sepak bola Ajax telah lama diakui secara luas sebagai salah satu lumbung pabrik penghasil utama pasokan pemain berkelas bagi skuad tim utama. Rentetan nama bintang besar lapangan hijau seperti Frenkie de Jong, Matthijs de Ligt, hingga Brian Brobbey terbukti merupakan produk-produk jebotan asli binaan akademi Ajax.
Groenendijk menyebutkan angka estimasi bahwa pihak Ajax secara rutin menanamkan investasi finansial senilai lebih dari 10 juta euro setiap tahunnya khusus untuk menghidupkan operasional akademi.
"Hal ini juga kembali pada poin yang sama, yaitu bahwa dana tersebut juga diperlukan untuk investasi di akademi pemain muda—nilainya mencapai lebih dari 10 juta euro per tahun," ungkap Groenendijk.
Menurut kalkulasi pandangannya, besaran kucuran dana investasi tersebut terbukti mampu mendatangkan imbal hasil keuntungan berlimpah bagi kubu klub, baik itu termanifestasikan lewat kontribusi langsung performa para pemain muda di panggung tim utama, maupun perolehan nilai ekonomis masif manakala talenta muda tersebut matang berkembang dan mendatangkan valuasi nilai transfer penjualan yang tinggi.
"Jadi, ada banyak imbal hasil investasi—jika boleh disebut demikian—dari akademi kami; mungkin juga dari tim utama, tetapi juga dari sektor pemain muda, namun hal ini tetap memerlukan pendanaan," tambahnya.